Industri Komunal Olahan Nanas (IKON) Subang, Amanah Jadi Nyata Dari Dompet Dhuafa

selai nanas IKON Subang Dompet Dhuafa

Yasinyasintha.com – Menempuh jarak lebih dari 50km dari rumah demi menjadi saksi peresmian Industri Komunal Olahan Nanas (IKON) di Subang, Jawa Barat. Saya bersama teman-teman blogger lainnya (teh Tian, Teh Lendy dan Teh Alienda) berangkat pagi. Siapa sangka, dibalik acara yang singkat dan padat ini tersimpan kisah perjuangan, harapan dan masa depan baru bagi petani nanas di Subang, khususnya daerah Cirangkong.

IKON Subang dan Lahirnya Harapan Baru Serta Semangat Petani Nanas di Subang

ikon subang dan dompet dhuafa

Disambut dengan bendera Dompet Dhuafa yang berkibar di halaman gedung IKON Subang, kursi-kursi berjajar rapi dengan nuansa putih hijau. Turut hadir dengan semangat para Dewan Pembina dan Pengurus Dompet Dhuafa, mitra pengelola program, perwakilan pejabat dari Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Subang serta masyarakat setempat. Semuanya antusias menyaksikan sekaligus merayakan langkah besar bagi kesejahteraan petani lokal.

Industri komunal sendiri adalah model industri dimana kepemilikan dan pengelolaan dilakukan secara kolektif oleh masyarakat setempat atau kelompok penerima manfaat, bukan oleh satu entitas tunggal. Dengan dibuat industri komunal seperti ini, justru meningkatkan rasa memiliki dari warga sekitar dan petani-petani. Berkat adanya IKON Subang ini, petani memiliki akses pengolahan dan memiliki pilihan untuk hasil panen nanas mereka yang biasanya diserahkan kepada tengkulak dengan harga yang seringnya tak masuk akal.

peresmian ikon subang dompet dhuafa

Acara peresmian ini dibuka dengan tari tradisional, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dan masuk ke acara inti yakni peresmian IKON Subang berupa secara simbolis penyerahan saham Dompet Dhuafa di PT Asia Agri Nusa senilai Rp. 2.947.500.000 (dua miliar sembilan ratis empat puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah) kepada Koperasi Produsen Barokah Agro Lestari sebagai penerima manfaat.

Harapan dan Gairah Baru Petani Nanas di Subang

olahan nanas berupa selai nanas hasil dari IKON Subang Dompet Dhuafa

Sebelumnya, banyak petani bercerita bahwa harga nanas sering kali naik-turun; kadang panen melimpah, tetapi pasar tidak stabil. Tidak sedikit yang akhirnya merugi karena hasil panen tidak terserap.

Dengan adanya industri komunal ini, nanas tidak lagi hanya dijual dalam keadaan segar, tetapi diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti selai nanas, sari buah nanas, hingga pure nanas, Inilah yang disebut “value added”—ketika buah lokal diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan lebih menguntungkan.

Salah satu momen yang paling menyentuh bagi saya adalah ketika seorang petani bercerita: “Sekarang kami punya semangat baru untuk menanam. Dulu kami takut rugi, tapi sekarang hasil panen ada yang menampung dan mengolah.”

Industri komunal ini bukan hanya soal mesin dan produksi—tetapi soal kepercayaan diri.
Petani yang dulu merasa khawatir kini kembali optimis. Mereka mulai merencanakan pola tanam lebih baik, menambah lahan, bahkan mengajak anak muda untuk kembali bertani.

Yang lebih indah lagi, industri ini menyerap tenaga kerja lokal, sejak dibukanya IKON Subang ini sudah menyerap tenaga kerja hampir 1000 orang yang mayoritas adalah masyarakat sekitar. Bahkan ibu-ibu pun ada yang terlibat dalam pengolahan. Dengan adanya IKON Subang ini, roda ekonomi akan terus bergerak.

Factory Visit

pabrik pengolahan nanas di Subang Jawa Barat

Aroma manis dari nanas langsung menguar begitu kami masuk ke area pabrik pengolahan. Di bagian samping gedung, terdapat proses pengolahan berupa pengupasan buah nanas yang dikerjakan secara manual. Kenapa manual? Agar bisa memberdayakan lebih banyak orang.

pengolahan nanas di pabrik olahan nanas di Subang Jawa Barat

Saya dan teman-teman blogger sempat mengintip dan mengamati dari jauh mesin pengolahan nanas yang canggih dioperasikan oleh ahlinya. Sempat mengobrol dengan salah satu pegawai, katanya terdapat mesin khusus untuk mengolah agar produk olahan yang dihasilkan awet walau tanpa bahan pengawet.

facroty visit untuk pabrik olahan nanas

Sempat melihat-lihat juga ke area penyimpanan dan packing. Beberapa produk yang sudah jadi berjajar rapi di rak-rak. Produk olahan nanas yang dihasilkan oleh IKON ini sudah memiliki demand yang stabil, dikirim ke pabrik juga industri biskuit dan kue. Jadi ternyata justru IKON ini disiapkan untuk model pemasaran B2B bukan hanya ke konsumen langsung, keren ya!

Dompet Dhuafa dan Amanah yang Jadi Nyata

Inisiatif dari yayasan zakat ini menunjukkan bagaimana penghimpunan donasi, sedekah dan dana zakat tidak hanya bisa menjadi bantuan langsung, tetapi juga menjadi investasi sosial yang memperkuat ekonomi masyarakat dari akarnya.

Jadi semangat deh rasanya menyalurkan donasi ke Dompet Dhuafa. Selama ini pun sudah melihat lewat berita bagaimana Dompet Dhuafa secara nyata membantu penerima manfaat dengan tepat, ditambah kali ini ada kesempatan untuk terlibat langsung menyaksikan bagaimana kiprah Dompet Dhuafa ini.

Final Thought

selai nanas IKON Subang Dompet Dhuafa

Puluhan petani kini tersenyum lebih lebar. Bukan hanya karena mereka punya industri baru, tetapi karena mereka punya masa depan yang lebih cerah. Saya merasa beruntung bisa ikut menyaksikan.

Industri komunal olahan nanas ini bukan sekadar proyek. Ini adalah pengingat bahwa ketika masyarakat saling mendukung, ketika zakat dikelola dengan strategi dan hati, maka perubahan besar bisa lahir dari desa yang sederhana.

Semoga semakin banyak daerah yang terinspirasi dan turut membangun industri berbasis komunitas seperti ini. Karena dari nanas kecil, lahir cerita besar tentang harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *