Yasinyasintha.com – Dua kali ke Kawasan Papandayan Garut dan tak pernah hiking, saya berpuas diri menikmati Gunung Papandayan sebatas menara pandang saja. Keinginan hiking itu selalu ada, tapi seringnya ku suruh tidur, “bukan waktunya” gumamku pada diri sendiri hingga akhirnya ia bertemu kesempatan emas, dalam kegiatan WAC 2026 atau Women Adventure Camp 2026 yang digelar oleh Eiger adventure, khusus perempuan dengan fokus pada berbagi cerita dan pengalaman di alam, berlokasi di Gunung Papandayan.
Table of Content
Terpilih Menjadi Peserta WAC 2026

Begitulah semesta, ia selalu mendengarkan. Entah bagaimana, sebuah postingan dari Women Eiger sampai di beranda instagramku dan aku terketuk untuk mendaftar. Sering aku melihat postingan para perempuan bertualang dan melakukan perjalanan, emang sih mostly masih pada muda ya, sepertinya banyak sekali gen Z. Tak ada sesal atau iri saat melihatnya, aku ikut senang dan lamat-lamat sering aku lihat sambil ikut menyesapi keseruannya.
Aku menyadari dengan betul, setiap orang punya perannya masing-masing, aku juga yakin akan sampai padaku sebuah masa aku bisa punya kisah perjalanan dan petualanganku sendiri, pun saat ini aku sedang menjejaki perjalananku, bedanya sebagai ibu juga istri.
Antusiasme pendaftar WAC 2026 ini sungguh besar, bisa terlihat dari kolom komentar hingga share dan repostnya. Aku melihat dengan nanar saja dari balik layar, tak berani aku berharap terlalu banyak aku bisa terpilih. Jadi hanya doa baik saja yang melangit, aku diingatkan pada quote Imam Ali bahwa “apa yang menjadi milikku, akan menemukan jalan kepadaku”. Tak disangka beberapa minggu kemudian datang pengumuman, bahwa aku terpilih menjadi peserta WAC 2026 di Gunung Papandayan Garut. Wow, seneng tapi bingung sih jadinya.
Persiapan Kegiatan Camping dan Hiking Bersama WAC 2026
Jalan kaki adalah kegiatan olahraga yang saya suka, tapi hiking dan camping itu beda cerita. Sudah lama ingin coba camping dan hiking karena penasaran dan waktunya tak pernah datang. Maka saat terpilih menjadi peserta WAC ini, saya bersungguh-sungguh mengikuti. Ragu dan takut menyelimuti, tapi kemudian disemangati oleh Papi untuk enjoy terlebih kegiatannya katanya ramah pemula. Yang bikin tenang adalah tim Eiger mengadakan beberapa kelas online sebelum kegiatan dimulai, jadi saya bisa menanyakan dengan leluasa terkait persiapan.
“Kegiatan gunung dan outdoor itu mengundang dan mengandung bahaya” begitu kata kang Galih Donikara selaku tim Eiger, mengingatkan. Persiapan yang matang dapat memperkecil risiko yang mungkin terjadi. Hal yang harus diketahui adalah medan dan cuaca, sehingga kita bisa menyiapkan peralatan juga perbekalan. Kejadian tak diinginkan yang terjadi di gunung bisa diminimalisir jika kita mengetahui betul wilayah yang dikunjungi.
Kelas online ini meliputi : Management Perjalanan termasuk sharing mengenai navigasi, Zero Waste dan Managemen Perbekalan. Kegiatan outdoor perlu persiapan khusus hingga pakaian khusus untuk berkegiatan hingga beristirahat. Di sini aku sadar, banyak sekali peralatan yang harus aku siapkan demi kegiatan ini. Beruntungnya, aku juga ditawari menjadi salah satu storytelling partner untuk kegiatan WAC ini, dengan salah satu benefit voucher belanja ke Eiger yang bisa dibelanjakan sebelum hari keberangkatan.
3 Hari 2 Malam di Gunung Papandayan Kegiatan WAC 2026
Hari yang ditunggu tiba, 12 april 2026 aku berangkat pagi sekali bersama teman-teman lainnya di Bandung menuju meeting point di alun-alun Cisurupan. Perjalanan sekitar 2,5 jam hingga kami sampai dan menerima freebies kegiatan berupa :

- Tas Carrier 45L
- Topi Eiger
- Syal Eiger
- Tshirt Women Eiger Act Eiger
- Totebag Eiger
- Eiger Sitting Pad
- Produk Wardah
- Produk Earth Love Life
Day 1 Women Adventure Camp 2026

Carrier Orvian 45L ini adalah carrier bag pertamaku, kami diminta untuk memindahkan barang dari tas lama ke tas baru kami. Ternyata butuh skill khusus untuk packing ke carrier dan menggunakannya agar distribusi berat rata (terima kasih kak Amel yang sudah bantu aku packing). Kami lantas menuju basecamp di Papandayan, sempet sedikit hiking. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan berbaris berjalan menuju basecamp, barisan perempuan-perempuan dengan tas carrier di punggung, haru sekali rasanya hati ini, hampir ga percaya bisa ikutan kegiatan WAC, 75 perempuan dari seluruh Indonesia dan beberapa dari Malaysia.


Setelah tiba, kami langsung mengikuti upacara pembukaan kegiatan WAC 2026. Dengan napas yang masih terengah-engah, aku mengikuti upacara singkat ini. Kami diminta benar-benar hadir dalam kegiatan, saling menjaga dan bersenang-senang, menikmati kegiatan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Setelahnya kami berkumpul di tenda, berkenalan dengan teman lainnya yang berada dalam satu kelompok.

Aku masuk dalam kelompok 12, bersama 4 orang lainnya : Nurul dari Jakarta, Tifa dari Yogyakarta, Kak Ade dari Palembang dan Azizah dari Purbalingga. Setelah saling berkenalan dan mengobrol tipis mengenai kegiatan dan hal lainnya, kegiatan berlanjut dengan makan siang yang disiapkan oleh panitia WAC. Kami diminta membawa tumblr dan kotak makan, yang kemudian selalu kami gunakan untuk mengambil makan. Posisi tendaku juga sangat menguntungkan, dekat dengan pancuran air untuk mencuci, dekat dengan colokan dan area mengambil makan.

Pada dasarnya kegiatan WAC merupakan kegiatan edukasi mengenai kegiatan outdoor yang aman yang dipersembahkan oleh Eiger untuk perempuan. Eiger percaya kegiatan WAC ini dakan membawa dampak baik bagi lingkungan masyarakat secara luas, kami para peserta diajak membagikan dan mengaplikasikan ilmu yang kami dapat ke lingkungan yang lebih luas sekaligus menjadi bekal perjalanan bagi perempuan yang katanya 53% kini mendominasi kegiatan outdoor.
Kegiatan outdoor seperti mendaki, hiking, climbing, caving, trail running dan kegiatan outdoor lainnya tidak hanya milik laki-laki, tapi juga kini diminati oleh perempuan dengan banyak pula prestasi dan pencapaian dari pegiat kegiatan outdoor perempuan.

Pada hari pertama kegiatan ini kami dibekali dengan ilmu ngonten, pembahasan mengenai fundamental travel konten kreator bersama arrafy.az yang sukses menjadi travel konten kreator. Di sini kami belajar seputar konten mulai dari mindset, teknik hingga review konten yang dibuat.

Kegiatan hari pertama diakhiri dengan acara memasak di tenda, bahan – bahan masakan disediakan oleh Nana Mart, fresh semua! First time juga bagiku masak dan makan di gunung, rupanya nikmatnya memang beda.
Day 2 Women Adventure Camp 2026

Pagi di gunung terasa istimewa ternyata, malam yang lebih dingin dari biasa justru menyuguhkan langit subuh yang hening dan bersih. Pagi sekali di hari kedua ini aku sudah bersiap, kegiatan utama hari ini adalah Yoga bersama Earth Love Life. Di bawah langit biru yang indah dan udara yang segar, yoga ini terasa begitu menyenangkan dan menenangkan hati. Dipandu oleh Coach Rina, semua peserta WAC 2026 mengikuti gerakan yoga satu persatu hingga sessi usai.

Terasa sekali tarikan – tarikan otot setiap gerakan, ketahuan deh jarang gerak ya haha. Terlebih aku sepertinya yang paling tua diantara peserta WAC ini, yang lainnya gen Z usia 20 an yang masih segar bugar. Sebagai mamak-mamak ikutan kegiatan ini tentu saja keliatan dan kerasa bedanya, but then aku membesarkan hati. Kesempatan yang aku ambil saat ini adalah tepat, kesempatan yang tak datang dua kali.

Kami kembali ke tenda dan kemudian bergegas untuk kegiatan selanjutnya berupa rangkaian kelas-kelas yang menanti :
- Kelas Menjaga Kesehatan Kulit bersama Wardah
- Kelas Kesehatan Mental bersama bu Ammy (dra. Ammy Kadarharutami MD, M.Psi)
- Kelas Kesehatan Perjalanan Khusus Perempuan bersama dr. Ratih Citra Sari, MH.Kes

Semuanya daging dan terasa terjawab segala pertanyaan dan keraguan. Pulang dengan ilmu sudah pasti, di sini aku pun kenalan sama produk Wardah yang dibuat khusus untuk kegiatan outdoor. Produk ini menjawab sekali keluhan para perempuan yang doyan kegiatan outdoor dan sering gosong, memerah atau breakout pasca kegiatan outdoor.

Sepertinya harus bikin tulisan khusus sih tentang bagusnya produk Wardah ini di kulitku pasca kegiatan outdoor yang cukup lama (on next post ya!)

Kelas kesehatan mental yang dipandu oleh bu Ammy ini juga terasa begitu menyenangkan dan dibekali juga nih dengan journal yang bisa diisi dan dibawa pulang. Bagiku yang suka journaling, mendapatkan ini adalah sesuatu yang menyenangkan, ilmunya aplikatif dan bisa ku terapkan di perjalanan juga keseharian apalagi saat overthinking melanda, hehe.

Kelas selanjutnya tak kalah seru, bersama dr. Ratih yang berdedikasi sekali pada kesehatan perjalanan perempuan. Banyak sekali sharing yang didapatkan khususnya mengenai higienitas perempuan saat melakukan perjalanan.

Memang sih, ini yang kadang terasa “ribet” karena perempuan memiliki tamu bulanan sehingga perlu persiapan khusus. Dalam sessi kelas ini juga dapat pengingat tentang pentingnya hidrasi, terutama saat kegiatan outdoor yang sering diikuti dengan kejadian dehidrasi yang bisa mengancam jiwa.
Sore hari, kami juga bersenang-senang dengan berkumpul menggunakan kebaya. Bayangin deh, atasannya kebaya sedangkan bawahannya, kami gunakan celana outdoor dan sepatu hiking. Keren banget, dan kapan lagi kan berkebaya di gunung.


Jika day 1 berisi kehangatan, keseruan, dan inspirasi membuat konten. Maka hari kedua dari WAC ini mengisi ilmu dan memperluas wawasanku tentang perjalanan secara keseluruhan. Malamnya kami kembali berkumpul di tenda kelas untuk sessi sharing bersama Brand Ambassador Eiger yang tak kalah menginspirasi ; Fransiska Dimitri, Dian Ramadini, Nadya Gianifa dan Zara Mersiha. Keempat BA yang berbagi cerita ini membangkitkan keberanian untuk berpetualang, saya yang saat itu duduk di belakang dibuat kagum dengan cerita yang dibagikan. Dunia petualangan outdoor yang tak cuma milik kaum adam, tapi kini milik para perempuan yang punya jiwa lembut tapi juga tangguh.

Sebelum kembali ke tenda, kami mendapat arahan untuk kegiatan esok hari, yang merupakan kegiatan puncak dan hari terakhir dari rangkaian kegiatan WAC 2026.
Day 3 – Acara Puncak WAC 2026

Dari pukul 05.00 pagi kami sudah bergegas berjalan, 14 April 2026. Jadi hari bersejarah bagiku. Ini kali pertama aku naik gunung, meskipun dikatakan ramah pemula, aku sama sekali tak ingin meremehkannya. Kami mulai perjalanan di Gunung Papandayan, menuju Tebing Sony untuk upacara pengibaran bendera sekaligus memperingati hari Kartini.
Berat, itulah yang aku rasakan. Berada diantara Gen Z yang bugar dan punya banyak pengalaman. Aku sempat merasa kerdil, tapi semangatku selalu bangkit setiap melihat langit. Ada tujuan yang ingin aku capai, meskipun perlahan dan kerap ketinggalan dari kelompok, aku tidak berhenti. Sampai di beberapa titik di atas, beberapa dari anggota kelompok ternyata menungguku, kami berjalan lagi.


Tebing Sony, di ketinggian 2.665 mdpl. Wow, matahari terbit di sini magis sekali. Sampai ingin nangis rasanya saking terharunya. Cahaya hangatnya menyapa wajahku yang tentu saja bercucuran keringat. Di sini, kami mengibarkan bendera merah putih yang dipegang oleh semua peserta dan dibawa oleh para BA Eiger dan panitia. Haru juga bangga bercampur aduk (kehabisan kata rasanya untuk menggambarkan bagaimana perasaanku disana, tak tergantikan dan akan jadi kenangan magis seumur hidup rasanya, terima kasih Eiger. Terima kasih WAC)
Aku acung jempol sekali pada Eiger dan panitia WAC 2026. Di ketinggian dan padatnya kegiatan hari terakhir, masih sempat menyediakan sarapan bagi kami semua. Padahal semalam, sebelum tidur kami semua mendapatkan bekal cemilan untuk perjalanan. Tim WAC benar-benar bikin saya angkat topi (topinya topi Eiger lagi hehehe) selama kegiatan outdoor ini ga pernah sekalipun kelaperan hehe.

Acara dilanjutkan dengan kegiatan penanaman pohon, aku dan semua peserta lainnya diberikan bibit pohon cantigi yang kami tanam, senang sekali saat mengeluarkan bibit pohon dan dimasukan ke lubang tanahnya, aku menancapkan namaku juga di dekat pohonnya. Tak lupa ku langitkan juga doa juga agar pohon ini bisa tumbuh dengan baik. Menyumbang oksigen bagi bumi, khususnya untuk kawasan gunung Papandayan.
Setelah itu, kami yang terbagi menjadi 5 kelompok besar menuntaskan challenge berupa check in di pos-pos yang sudah disediakan, di sana kami akan diberikan pertanyaan dari materi kelas yang sudah diberikan. Yang menantang adalah tantangan ini diberikan tenggat waktu, dan kelompok yang memenangkan waktu paling cepat bisa mendapatkan hadiah. Pos terberat adalah pos menuju hutan mati, terjal dan seperti pendakian tak berkesudahan.

Selepas dari hutan mati, kami lanjut ke pos selanjutnya : Pondok Saladah, beruntung di sini medannya lebih bersahabat. Salah satu teman kelompokku, Reres namanya bahkan meminjamkanku track pole untuk membantuku, terima kasih Rez! Kami semua bergembira, tujuannya adalah tantangannya terselesaikan dengan kami sehat selamat dan hati riang gembira. Terima kasih kelompok 5 ku sayang! Baru ketemu tapi supportnya berasa banget.
Setelah menuntaskan tantangan kami kembali ke basecamp. Sudah hampir tengah hari rupanya, kami segera ke tenda dan packing final untuk upacara penutupan dan kembali pulang.
Upacara Penutupan WAC 2026

Senang, lega dan bangga acara WAC 2026 ini bisa kulewati dengan baik, sehat dan hati yang riang dan penuh syukur. Di akhir kegiatan, kami membuat lingkaran besar. Diajak untuk mengucapkan terima kasih, ke diri sendiri juga teman di kiri dan kanan. Untuk kebersamaan, semangat dan segala yang sudah kami lewati selama 3 hari 2 malam yang menyenangkan. Turut dipanggil juga panitia-panitia yang super keren. Yang jadi orang dibalik layar terselenggaranya kegiatan ini dengan sangat baik. Terima kasih, kami meneriakkannya.


Diakhir, ada pembagian sertifikat yang secara random diberikan oleh panitia sambil berjalan menyelamati kami. Ku haturkan terima kasih, pada setiap jabat tangan hangat yang tercipta. Kami kemudian menggendong kembali carrier baru kami menuju parkiran Papandayan dan diantar menuju meeting poin kembali, ke alun alun Cisurupan.
Final Thought

Aku berangkat dengan ragu dan ketakutan. Otakku seperti menahanku pergi, tapi kata hatiku berkata sebaliknya. Setelah mengantongi izin dari suami dan anak-anak, aku akhirnya berangkat. Menuju kegiatan WAC 2026, berkumpul dengan 75 peserta lainnya dari berbagai daerah di Indonesia bahkan ada yang dari Malaysia. Berada 93kilo meter jauh dari rumah, untuk sebuah pengalaman dan petualangan yang mengandung dan mengundang bahaya.
Tapi dari kegiatan ini aku belajar banyak sekali hal, ketakutan itu adalah hal yang wajar untuk ketidaktahuan. Reaksi umum karena pikiran mencoba melindungi kita, maka membekali diri dengan wawasan dan ilmu adalah sebuah pilihan untuk mengikis takut. Ketakutan-ketakutanku nyatanya pun (alhamdulilah) tak terbukti, aku yang seorang ibu anak dua dan berada di umur 35 tahun ternyata masih bisa menuntaskan penasaran pada petualangan. Segala ilmu yang kudapat, pada akhirnya memperkaya diriku dan sekitarku untuk berani mengambil langkah dengan persiapan, takut adalah sinyal bahwa aku bergerak dan aku bertumbuh.

Terima kasih banyak Eiger, terima kasih WAC 2026.
Untuk 3 hari 2 malam yang tak terlupakan, untuk pelajaran dan wawasan yang sudah diberikan, kenangan-kenangan yang menjadi abadi dalam ingatan dan tulisan.
Terima kasih, dari ibu anak 2 yang kini lebih percaya diri untuk berpetualang.
