Yasinyasintha.com – Jujur saja, dari sisi karir tahun ini tidak berjalan seperti bayanganku. Menjelang pertengahan tahun, salah satu klienku memutus kontrak sepihak, setelah kubesarkan sepenuh hati hingga jadi “seleb”. Awalnya, aku tak ingin menceritakan ini. Ku anggap hal ini adalah yang memalukan untuk dibagikan, tapi setelah kupikir-pikir kembali, ini adalah bagian dari perjalananku akhirnya memilih diri sendiri. Dan ini adalah kisah di balik layarnya yang juga tak mulus.
Aku Yasinta, blogger sejak lebih dari satu dekade lalu. Yang menemukan banyak kesempatan lewat blogging, menjadi orang di balik layar beberapa akun rumah sakit dan dokter. Bertahun-tahun aku membesarkan orang lain, dan kini aku tengah dalam perjalanan membuat punggungku sendiri, dalam serial : Blogger Naik Panggung yang tayang di YouTube dan Podcast.
Rencana Berbalut Ambisi Yang Nyaris Sempurna

Tidak selalu, tapi seringkali aku memastikan setiap konten dibuat layaknya program (TV) bukan soal keren-kerenan. Tapi justru itu adalah caraku membuatnya tetap on the track. Konten tetap berjalan meskipun ide sedang mandek. Sepengalamanku, adanya program atau series membuat konten menjadi punya benang merah. Setelah sekian lama melakukan itu untuk orang lain, kini aku menerapkannya pada diri sendiri. Series : Blogger Naik Panggung, yang rencananya berisi 7 video pertama sebagai tanda kebangkitanku dari keterpurukan dan sebagai titik balik aku akhirnya memilih diriku sendiri.
Dan bagiku, ini adalah rencana besar.
Aku menyiapkan semuanya dengan matang, bayangkan saja : Langsung 7 video panjang (untuk YouTube dan Podcast) bukan riset dan scripting video pendek. Bisa ditebak bukan hasilnya seperti apa? Yap, its takes so much time. Aku susun urutan, scripting untuk 7 video, menyiapkan Chanel podcast, jadwal posting, bahkan aku sudah menyiapkan judul-judul dan cover untuk tayang nanti, wow!
Semuanya sudah jadi, tinggal syuting.
Dan mengambil pengalamanku mengerjakan konten untuk klien, aku mengambil keputusan bahwa syuting ketujuh video ini akan aku lakukan sekaligus, dalam satu hari. Dan bukan tanpa alasan, Scriptnya sudah siap, lampu tinggal dipasang, kamera tinggal digunakan. Dan aku menggunakan teleprompter seperti klien-klienku lakukan : duduk, baca script di teleprompter dan ngomong. Aku melihatnya sebagai sebuah kegiatan yang mudah, dan ternyata tidak.
Dan ini karena mataku menyerah duluan.
Kalah Oleh Mata SePeLe

Video satu, kedua bahkan ketiga masih lancar. Aku bangga sekaligus senang tentu saja. Emang sih, aku sempat take ulang supaya maksimal, maklum saja ini kali pertama aku bicara depan layar untuk syuting konten video panjang dengan script yang sudah tersusun sebelumnya.
Video satu dan dua yang berdurasi 5 menitan, mentahnya berdurasi 7-8 menit. Keselimpet lidah saat bicara, jeda antar kalimat yang kadang panjang. Aman lah menurutku. Video ketiga durasi video mentahnya sudah agak mencurigakan, di atas 10 menit. Aku sampai harus ganti memori.
Dan benar saja, di video keempat aku mulai sadar ada yang tidak beres. Mata yang terasa berat, berair. Setiap kali menatap teleprompter aku harus memicingkan mata karena agak buram. Semakin lama, perih di mata semakin terasa. Awalnya aku lanjutkan saja, sampai akhirnya mata mulai berair dan yang jelas ini bukan karena terharu akibat sriptnya hehe. Gejala mata SEpet, PErih, LElah alis SEPELE kompak datang di waktu bersamaan.
Alhasil, aku menghentikan rekaman. Aku menghentikan langkahku sendiri. Kecewa, tapi dengan sadar aku memilih istirahat. Mataku berteriak.

Aku melewatkan beberapa hal, aku menyepelekan rencana berbalut ambisi ini. Menganggap syuting 7 video itu mudah karena aku sering mengarahkan klien melakukannya. Bedanya adalah, klien syuting video pendek, sudah lebih terlatih rekaman video dan mereka tidak membuat script mereka sendiri. Sedangkan aku, di project video series pertamaku aku langsung bikin video panjang plus menyiapkan script sendiri yang membuat mataku “bekerja” berhari-hari sebelumnya.
Akhirnya, momen yang aku bayangkan bisa melihat 7 video dari series pertamaku tayang berurutan harus kandas. Semuanya jadi tertunda gara-gara sesuatu yang kelihatannya sepele : Gejala mata kering.
Btw, video 1 hingga ke 4 dari series Blogger Naik Panggung sudah tayang.
https://youtube.com/@yasintaastuti?si=LhNeMLsJelT6UX2w
Kebiasaan Syuting Yang Baru Pasca Drama Mata Kering

Aku berusaha mengambil pelajaran dari sebuah kejadian, dalam kekecewaan pada diri sendiri itu aku tetap dapat sesuatu. Kebiasaan yang baru, yang lebih sehat untuk mataku.
- Menerapkan aturan 20-20-20, aku mendapatkan teknik ini hasil browsing tips menjaga kesehatan mata, tayang di website alomedika dan ditulis oleh dokter spesialis mata langsung, dr. Utami Noor Syabaniyah, Sp.M dan kini setiap aku di depan layar 20 menit, aku berhenti sejenak dan mengalihkan pandangan jauh (sekitar 20 kaki atau 6 meter) selama 20 detik.
- Berkedip lebih sering. Saat aku baca teleprompter, saking fokusnya seringkali aku lupa berkedip, dan ternyata itulah yang bikin mataku jadi lebih cepat perih dan lelah. Sekarang, aku ambil napas sebelum rekaman dan mengingatkan diriku untuk berkedip lebih sering.
- Mengurangi paparan langsung dari lampu video, alih-alih menggunakan softbox atau payung pada lampu video. Sekarang aku mengatur lampu videoku untuk bouncing ke langit-langit. Alhasil, mataku jadi lebih nyaman saat rekaman sekarang.
- Jadwal syuting yang baru, sisa video yang belum terekam aku dan video selanjutnya aku bagi dalam beberapa sesi rekaman saja. Aku tidak lagi ngoyo untuk kebut dalam satu hari.
- Mengurangi brightness layar saat proses editing, aku menyalakan brigthness di layar pada posisi maksimal hanya di awal saat koreksi warna. Once itu beres, sekarang aku mengurangi brightness nya.
- Sedia dan tetesin Insto Dry Eyes, aku kini lebih aware pada gejala mata sepet, perih dan lelah. Maka ketika terasa mataku mulai perih, aku segera ambil Insto dry eyes, dan meneteskannya. Trust me, its work!
Menemukan Insto Dry Eyes, Diingatkan oleh Postingan Sendiri

2 tahun yang lalu, aku pernah menuliskan tentang Insto Dry Eyes rupanya. Siapa sangka, aku menemukan #InstoDryEyes lagi sebagai penolong lagi kali ini. Aku senyum sendiri, rupanya INSTO DRY EYES ini selalu menemaniku berkarir baik sebagai si digital savy tahun lalu, maupun aku yang sekarang sedang meniti babak baru perjalananku memulai personal branding.
Aku kian sadar, #MataSePeLeJanganSepelein karena nyatanya gejala mata SEPELE (sepet, perih dan lelah) seringkali disepelekan bahkan oleh aku yang seharusnya paham risiko bekerja dan berkarya di depan layar dan terpapar lighting seharian.

Tak mau ini terulang, Insto kini selalu ada di meja kerjaku. Dan bukan cuma disimpan ya, namun menjadi P3K harian untuk mataku agar #BebasMataKering apalagi saat terasa perih setelah berjam-jam editing. Barangkali, jika mataku segar aku tak harus menunda lagi.
Tujuh video dari series pertamaku akan tetap tayang. Aku berusaha mewujudkannya sesuai rencana. Ambisinya tetap ada, tapi kini dikerjakan dengan lebih manuasiawi dan mata yang lebih aku jaga.
Tentang Insto Dry Eyes, Redakan Gejala Mata SEPELE Yang Tidak Boleh Disepelekan dari Rumah

Kemasannya kecil hanya 7,5ml saja. Bisa dan sangat mudah dibawa, kemasannya dibuat mirip tetesan air. Jika kamu bertanya, apa bedanya Insto Dry Eyes dengan produk Insto lainnya, jawabannya jelas : Ini untuk meredakan mata kering, bukan sekedar perih karena kelilipan.
Memberikan efek pelumas seperti air mata, sehingga dapat meringankan gejala mata sepet, perih dan lelah. Cukup digunakan 1-2 tetes saja di setiap mata dan digunakan 3 kali sehari. Kandungan Insto Dry Eyes pun terpampang nyata di kemasannya : Hydroxypropil methylcellulose atau HPMC yang menurut laman Halodoc, dalam industri farmasi, HPMC atau yang dikenal sebagai hipromelosa, memiliki peran krusial. Ini digunakan sebagai “air mata buatan” untuk mengatasi mata kering, membantu melembapkan permukaan mata.
So gejala mata kering yang kamu alami entah itu akibat kelamaan di depan layar, lupa berkedip saking fokusnya, atau karena kegiatan outdoor yang mengakibatkan kamu mengalami mata SEPELE (Sepet, Perih dan Lelah) kamu bisa mengatasinya di rumah terlebih dahulu dengan menyediakan dan menggunakan Insto Dry Eyes.
Final Thought

Dari perjalanan dan pengalaman ini aku sadar, rencana yang berbalut ambisi bisa jadi membuatku mengecilkan hal-hal penting bahkan kesehatan. Aku beruntung menyadarinya segera dan mengambil langkah tepat untuk istirahat, karena kalau dibiarkan momen dan rencana yang sudah dinantikan ga cuma tertunda tapi bisa saja kandas sepenuhnya.
Selalu ada cerita di balik tayangnya sebuah cerita. Dan aku senang akhirnya punya keberanian juga untuk membagikannya, barangkali kamu bisa belajar dari cerita ini, jangan menyepelekan hal SePeLe ya dan tentu saja, jaga mata kita dengan sebaik-baiknya. Dunia bisa menunggu. Istirahat dan setetes Insto di masing-masing mata dan kamu bisa menjaga rencanamu tetap terlaksana.
