Yasinyasintha.com – Trend perjalanan alam yang kian meningkat seringkali mendorong seseorang terutama perempuan untuk melakukan perjalanan. Entah karena fomo atau memang “jiwanya” ada di sana. Satu yang pasti, perjalanan alam bagi perempuan itu istimewa sebagaimana perempuan itu sendiri, dan dalam mempersiapkan perjalanan ke alam itu perlu pengetahuan khusus. Bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga keamanan.
Tulisan ini adalah cerita pengalamanku mengikuti Raga Jiwa Camp 2026 yang diadakan oleh Women Wander Well, kegiatan camping sambil belajar bersama 30 perempuan lainnya dari berbagai kota di Indonesia. Di Bandung, tepatnya Maribaya. Kami berkumpul, belajar bersama sekaligus mengukir cerita.
Apa Itu Raga Jiwa Camp 2026?

Raga Jiwa Camp 2026 adalah program camping sekaligus kelas belajar yang digagas oleh Women Wander Well, komunitas yang fokus memberdayakan perempuan lewat dunia perjalanan (travel). Ini adalah tahun kedua kegiatan ini digelar, fokusnya adalah belajar bersama seputar ilmu kesehatan, ilmu perjalanan sambil merasakan pengalaman menginap di alam terbuka.
Baca juga : Menjadi Salah Satu Peserta Women Adventure Camp Bersama Eiger Adventure
Kami mendaftar lewat sebuah postingan di laman Instagram @womenwanderwell, dan 30 orang terpilih. Aku adalah salah satu yang beruntung itu, beruntungnya lagi acara ini digelar di Bandung. Artinya masih satu kota denganku, tapi memang untuk acara sekeren ini, peserta lain rela untuk datang meski menempuh jarak jauh.
2 Hari Satu Malam di Raga Jiwa Camp

Sabtu 5 September 2026, kami berkumpul pagi sekali di titik kumpul yang sudah ditentukan. Disana, aku bertemu dengan peserta lain, berkenalan, dan kami semua bersiap untuk trekking ke tempat kegiatan.
Sebelum berangkat, kami mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis, keren banget diperhatiin banget. Dr. Mutia yang bersama tim panitia memastikan semua peserta dalam kondisi sehat sebelum beraktivitas outdoor. Di titik kumpul ini juga kami mendapatkan produk sponsor yang bikin seneng dan semangat mengikuti kegiatan.

Day 1 Raga Jiwa Camp 2026

Kami di bagi menjadi 5 kelompok, masing-masing terdiri dari 6 orang. Aku berada di regu 2 dengan anggota : Umi, Nadia, Rlen, Nabila dan Baiq. Kami trekking sekitar 1jam-an, dengan trek menanjak. Jujur, aku sempat agak kesulitan, mungkin karena treknya, beban tas carrier, atau mungkin faktor u (usia) hehehe.
Mataku yang tadinya memicing silau mendadak terasa lebih sejuk, panas matahari yang tadinya menyengat berganti teduh dengan angin lembut yang berhembus seolah mengucapkan selamat datang. “Selamat datang” begitu suara lembut terdengar, dari sosok perempuan yang aku pernah temui sebelumnya di acara Eiger : dr. Ratih c Sari. Khas sekali suaranya, senyumnya. Alhamdulillah, rezekiku baik sehingga bisa bertemu lagi dengan beliau.
Sebelum bergegas ke tenda, kami dibekali snack. Begitu sampai di tenda, kami segera menyantapnya sambil berbincang, menyimpan tas dan bergegas untuk mengikuti materi pertama. Ya, raga jiwa camp ini kegiatan utamanya adalah belajar seputar kesehatan perjalanan bersama para pemateri yang ahli di bidangnya.
Materi 1 Raga Jiwa Camp : Kesehatan Reproduksi Perempuan

Dibawakan oleh Bidan Syafira, Amd. Keb, yang saat pemaparannya terasa terlempar ke masa sekolah dulu. Kami semua diajak untuk mengenal lagi bagian genitalia eksternal dan internal. Kami diajak bicara soal siklus menstruasi yang terdiri dari 4 fase (menstruasi, folikular, ovulasi, dan luteal).
Nyatanya, perempuan memang punya siklusnya sendiri. Dengan mengetahui ini, jadi lebih aware sama tubuh dan menyesuaikan kebutuhan tubuh dengan fase yang sedang berjalan.
Oya, kami diberikan tips yang ga kalah penting juga untuk menjawab pertanyaan : Cara membuang pembalut di gunung! Dan jadi informasi baru bagiku, jadi jangan dibuang begitu saja atau dikubur. Melainkan cari plastik, dan tambahkan bubuk kopi atau teh untuk mengurangi aromanya. Sampahnya dibawa sampai turun dan barulah dibuang.
Materi Ke-2 Raga Jiwa Camp : Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks

Jika ada kanker yang bisa dicegah, maka itu adalah kanker serviks! Bahkan ternyata WHO sendiri sudah mencanangkan 0 kasus kanker serviks pada tahun 2030 mendatang. Keyakinan itu bukan tanpa alasan, melainkan datang dari fakta bahwa deteksi dini, vaksin HPV sangat efektif menekan angka kasus kanker.
Materi kedua ini dibawakan dengan santai tapi juga mudah dimengerti oleh dr. Kemala Sp.OG, Subsp.,Onk., Ph.D yang menjelaskan dengan detail mengenai kanker serviks. Sebagai dokter, juga sebagai perempuan, kami merasa diingatkan saudara perempuan untuk melakukan IVA Test, HPV DNA Test, Papsmear dan vaksin HPV segera.
Terima kasih dr. Aya! Sungguh banyak informasi dan pencerahan yang sangat “mahal” mendapat penjelasan sedetail itu.
Materi ke-3 Raga Jiwa Camp : First Aid & Basic Life Support During Travels

Materi ini bikin mataku melek, faktanya saat perjalanan khususnya di alam. Kita terpapar dengan bahaya, baik itu karena kondisi alam atau kurangnya pengetahuan. Materi ini terasa sangat penting, dr. Mutia Ramaida Pulungan memberikan pemaparan materi dengan jelas dan sangat terstruktur.
Pembawaannya yang fun membuat materi ini justru dapat aku serap dengan sangat baik. Prep dan planning merupakan satu yang sangat penting, sebelum bepergian khususnya untuk jarak dan waktu yang lama. Sebaiknya bekali diri dengan informasi di mana klinik atau RS terdekat. In case something goes wrong.
Di sesi yang ke-3 ini, kami bahkan mendapatkan materi tentang pertolongan pertama berupa CPR yang ternyata akan kami praktikkan keesokan harinya. Lalu ada materi tentang hipotermia, patah tulang, dehidrasi, hingga heat injury.
Kami bahkan mendapat pengetahuan mengenai bidai, yang sangat membantu jika sesuatu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Materi Ke-4 Raga Jiwa Camp : Psikologi Alam

Ahh.. Inilah salah satu yang aku tunggu. Ada Dra. Ammy Kadarharutami MD, M.Psi yang sudah 20 tahun berpengalaman sebagai praktisi di bidangnya, beliau aktif sekali dan bawaannya yang begitu tenang justru sangat karismatik.
Materi psikologi alam ini terasa dekat dengan kami. Khususnya teman-teman sekelilingku yang memang gemar bermain dengan alam, jelajah alam tidak hanya menyenangkan tapi punya manfaat untuk kesehatan mental diantaranya :
- Boost mood
- Improve focus
- Promote mindfullness
- Enhance self esteem
- Encourage self reflection
- Develop team skills
Bu Ammy juga mengajak kami untuk praktik mindfullness lewat sebuah jeruk yang dibagikan. Kami diminta untuk melihat, meraba, mencium, merasa dan mengecap jeruk ini tanpa penghakiman. Melihat tanpa judging dan justru melihat apa pemaknaan yang muncul?
Versiku, kesadaran yang muncul dari jeruk itu adalah : “It’s okay to be different. Gapapa kamu ga mulus, ga berwarna orang meskipun orange, bahkan jika kamu masam sekalipun. Kamu akan berharga di tangan orang yang tepat.” Widiiihhh!! Dari mengamati buah jeruk aja kok bisa ya muncul pemaknaan sedalam itu.
Bu Ammy juga sempat menjelaskan mengenai metode forest bathing atau shinrin-yoku, kegiatan berjalan perlahan atau berdiam diri di hutan sambil menggunakan panca indera.
Sekarang bayangin deh, kamu di tengah hutan yang aman dan nyaman. Lalu matamu melihat pohon-pohon yang bergerak tertiup angin seolah tengah menari. Aroma dedaunan, batang pohon atau mungkin tanah yang dipijak, lalu telingamu menangkap suara-suara alam. Tanganmu, meraba tekstur batang pohon, tekstur daun, atau mungkin menyentuh rumput liar yang kamu temui.
Dan saat itu, ketenangan kemudian datang, sensasi yang akan menjadi candu. Barangkali, itulah alasan orang-orang kembali ke alam, ke hutan, ke pantai, ke gunung meskipun seringkali mengeluh sakit kaki, atau tabungan yang terkuras. “Ya gimana, nagih!” Begitu kata mereka.
Women Wellness Sharing

Ditemani makan malam yang luar biasa enak persembahan Rahang Tuna Manado 37, salah satu tempat makan favoritku yang ternyata bisa hadir jadi makan malam di acara Raga Jiwa Camp. Ga nyangka banget sih. Ikan tunanya dimasak dengan sempurna, dipadu dengan tumis selada air, nasi hangat. Teman-teman pecinta pedas, tak melewatkan sambalnya yang bikin melek.

Selepas isya, sambil menyantap makan malam. Kami duduk membentuk lingkaran mengitari api unggun, cerita-cerita mulai mengalir. Kelakar, cerita dan tawa. Yang menarik, hadir juga Teh Eva Fitri yang dikenal dengan nama Ivyfitri yang baru saja turun dari Rinjani dan menyempatkan untuk menyapa kami semua.
Menginspirasi sekali, di usia jelita alias jelang lima puluh tahun. Justru teh Ivy ini punya target merayakan hari jadinya nanti di puncak Kilimanjaro. Ceritanya sangat menginspirasi, definisi menikmati hidup sebaik mungkin.
Jujur kadang merasa banyak “terbatasi” dengan stigma bahwa perempuan tuh ya diem aja. Seolah tak punya banyak pilihan, dan di acara Raga Jiwa Camp ini terasa seperti memberi terang bahwa perempuan pun bisa melakukan hal-hal hebat juga dan bisa menghidupkan mimpinya.
Sebelum tidur, kami menyantap cuankie. Di tengah udara Maribaya yang dingin, semangkuk panas cuankie seperti pelukan hangat pengantar tidur.
Day 2 Raga Jiwa Camp 2026

Seakan di set dengan jam yang sama, suara alarm terdengar dari satu tenda ke tenda yang lain. Kompak membangunkan kami semua pukul 04.00 WIB, “brrrrr dingiin!” kataku bergumam. Ini kali ketiga aku tidur di tenda, dan masih terbiasa dengan udara dingin yang merangsek masuk meskipun sudah melapisi diri dengan jaket dan sleeping bag.
Setelah mengantri kamar mandi, wudhu dan menunaikan sholat subuh. Kami bergegas untuk bersiap, hari ini pukul 05.30 WIB kami sudah harus berkumpul di area lapang untuk briefing kegiatan forest bathing, hiking bersama menuju curug.
Materi ke-5 Hiking dan Forest Bathing

Setelah pemanasan, kami segera bergegas berangkat. Tujuan akhirnya adalah curug, dan untuk ke sana kita akan melewati hutan dengan jalan setapak. Sebelum masuk hutan, kami melewati perkebunan kol ungu dan selada, segar sekali ke mata.
Dan perjalanan pun dimulai. Suasana hutannya sangat terasa, treknya pun bagi saya pribadi agak berat dengan tanjakan dan turunan. Belum lagi jalan yang menyempit dan melewati aliran kecil sungai dengan pijakan batu yang cukup licin.
Saya beruntung, salah satu teman satu regu yakni Ummi, mau meminjamkan trekking pole-nya dan menjadi kaki ketigaku, membantuku mencari pijakan saat naik maupun turun. Kakak-kakak pendampingpun begitu sabar menemani.
Sepanjang jalan, banyak sekali ragam pohon yang baru terlihat. Akar-akar pohon yang sesekali mencuat di jalan, membuat kami semua harus fokus saat berjalan. Beberapa kali rasa ragu datang menghampiri, rasanya ingin menyerah saja. Tapi ternyata, adanya teman perjalanan itu bikin perjalanan berat terasa lebih mudah dilalui.
Mereka bersedia dan memaklumi aku yang berjalan pelan dan sesekali berhenti untuk mengatur napas dan minum. Dan setelah sekitar 1,5 jam an jalan kaki, akhirnya kami sampai ke Curug Cibanban namanya.
Sayang sekali debit air curug sedang kecil, jadi kami tak sempat bermain air dan mendengarkan materi lanjutan dari Bu Ammy, ia memandu kami untuk journaling singkat memikirkan apa yang ingin kita lepaskan ke alam. Barangkali keraguan dan ketakutan seperti yang ku alami, agar di perjalanan nantinya langkah menjadi lebih ringan.

Setelahnya, kami kembali. Melewati trek yang sama, dengan hati yang lebih lega.
Cooking With View

Kembali ke area camp, dan kami diberikan bahan untuk dimasak. Nasi goreng ayam kampung dari Imah Babaturan. Peralatan masak segera disiapkan, jadilah kami memasak sarapan dengan view ke hutan pinus. Indah sekali, bersama teman-teman seperjalanan. Sarapan minggu pagi itu jadi sarapan paling hangat di tengah angin yang bertiup dingin.
Materi Ke-6 Simulasi CPR

Lagi-lagi, kami dikumpulkan. Materi ini merupakan materi yang sempat diulas di kelas sebelumnya bersama dr. Mutia, bedanya kali ini kami diajak untuk simulasi langsung dengan boneka CPR.
Lantaas, apa itu simulasi CPR?
Simulasi/latihan CPR (caridopulmonary Resuscitation) merupakan latihan dan pengetahuan untuk mengetahui dan belajar keterampilan darurat untuk membantu menjaga aliran darah dan oksigen saat seseorang mengalami keadaan pingsan/tidak sadarkan diri.

Di sini, dr. Mutia mencontohkan dengan sangat detail. Soal perhitungannya, cara menghitung termasuk hal pertama yang harus dilakukan saat seseorang tidak sadarkan diri. Tapi meskipun begitu, CPR ini sebaiknya dilakukan jika kamu merasa percaya diri, jika tidak. Sebaiknya tidak dilakukan dan segera cari bantuan darurat ke 119 atau mungkin ambulance RS terdekat.
Kami juga diingatkan bahwa menjaga diri sendiri pun tak kalah penting. Jangan sampai gara-gara sibuk nolong orang, lalu diri sendiri ikut menjadi korban. Dalam kesempatan ini, kami semua diberikan kesempatan untuk melakukan simulasi CPR.
Simulasi Splinting/ Bidai

Yang tak kalah menarik, kami juga diajarkan untuk melihat bagaimana cara membebat/pembidaian pada area tubuh yang mengalami dislokasi/cedera. Kuncinya adalah imobilisasi atau mencegah adanya gerakan pada area yang cedera sehingga jaringan lunak atau tulang dapat menyatu kembali sekaligus mengurangi nyeri dan peradangan.
Materi ke-6 : Kesehatan Perjalanan Perempuan

Ini adalah materi terakhir sekaligus yang paling aku tunggu. Dibawakan oleh dr. Ratih C Sari langsung, pembahasan mengenai kesehatan perjalanan perempuan sepertinya tak cukup hanya 2 jam saja. Masih banyak yang bisa dibedah sekaligus ingin ku tanyakan.
Pengalaman dokter Ratih yang sudah lebih dari 15 tahun keliling negeri mengabdi dan membagikan ilmu sungguh sesuatu yang patut diacungi jempol. Dedikasinya terhadap kesehatan secara umum dan kini kepeduliannya terhadap kesehatan perjalanan perempuan berwujud nyata dengan dibentuknya Women Wander Well juga terlaksananya Raga Jiwa Camp.
Dari banyaknya pembahasan, yang paling menarik menurutku adalah antuasisme perempuan yang berkegiatan di alam kini semakin besar tapi sebagian besar berangkat dengan persiapan minim yang justru bisa membahayakan diri.
Sebagai contoh paling nyata adalah pemilihan outfit yang seringkali kurang pas demi foto estetik, tanpa mengindahkan bahan apa yang cocok digunakan dalam kegiatan outdoor. Belum lagi kebutuhan diri seperti tidak membawa air minum yang cukup, yang berakhir dengan dehidrasi. Kurangnya perlengkapan dan meningkatkan risiko hipotermia. Kurangnya persiapan fisik dan berakibat cedera.
Padahal, perjalanan bukan hanya tentang sampai ke tujuan tapi juga selamat sampai ke rumah kembali.
Take Home Message

Setelah mengikuti Raga Jiwa Camp 2026, aku semakin sadar bahwa ilmu perjalanan bukan sekadar soal tahu destinasi mana yang harus dikunjungi, tapi juga soal kesiapan diri, baik secara mental, fisik, maupun teknis. Acara ini membuka mata bahwa perempuan bisa dan berhak untuk eksplor dunia dengan percaya diri, asal membekali diri dengan ilmu dan kesiapan yang tepat.
Oya di akhir pertemuan kemarin, dr. Ratih sempat menyebutkan kenapa namanya Raga Jiwa Camp, ternyata concern beliau adalah ajakan untuk memperhatikan kesehatan ragawi terlebih dahulu, dengan makan yang bernutrisi untuk tubuh, istirahat yang cukup, dan kegiatan fisik yang sesuai dan rutin. Barangkali dengan sehatnya raga, jiwa nya pun ikut sehat.
So, alih-alih dikit-dikit healing untuk kesehatan jiwa. Ternyata perhatikan kebutuhan fisik/raga nya dulu, sudahkah terpenuhi?
Selepas materi selesai, kami makan siang bersama kemudian berkumpul. Mengucapkan terima kasih satu sama lain. Dan ternyata masih dapat oleh-oleh berupa pohon kemuning yang bisa dibawa pulang. Ahh, senangnya!
Terima kasih Women Wander Well
Juga dr. Ratih beserta para narasumber dan kakak-kakak pendamping. Teman-teman yang ku temui dalam 2 hari satu malam yang seru. Juga sponsor-sponsor acara yang memanjakan dan membuat acara ini semakin seru dan bertabur oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Terima kasih Eiger Women, Wardah, Kalm, Perpirex, Arummi, Tenwas, Emina, Rahang Tuna Manado 37 dan semua yang sudah mendukung acara keren ini terselenggara, terima kasih banyak!

