Bangkit Untuk Awal Yang Baru

Bahwa dalam hidup pasti pernah jatuh. Tidak masalah jika itu terjadi, kita masih punya banyak cara untuk kembali bangkit untuk awal yang baru.

Tergerak saya untuk kemudian menceritakan bangkit untuk awal yang baru yang tidak mudah. Seperti yang kita tahu bahwa sesuatu yang baru jarang kali terasa mudah dan enaknya. Tapi itu akan mendobrak batas kita. Batas kita mengenali diri kita seutuhnya.

Tahun 2014 lalu saya memutuskan untuk membuka toko cabang di sebuah Mall di Alam Sutera – Tangerang. Keinginan menggebu-gebu saya dan partner saya yang sekaligus suami saya. Dengan penekanan modal jadilah tempat usaha kami tersebut. Diawal usaha dengan profit yang meroket membuat kami ” jumawa ” dan menjadikan saya tidak baik dalam hal mudah puas dan menerima semuanya tanpa pikir apa kendala yang mungkin terjadi.
Benar saja. Dalam 4 bulan bisnis ini melemah entah karena ekonomi saat itu memang katanya lagi lesu. Segala cara sudah saya coba. Mulai dari jual fotografi jasa disana ( jadi disana tempat bentuk usahanya adalah counter untuk photobox dan cetak foto 4R, jual album dan frame ) yang tidak membuahkan hasil. Tuhan masih sayang pada kami, setidaknya usaha kami di Bandung tidak carut marut seperti yang disana.
Terlalu memudahkan, tidak memikirkan resiko panjang dengan membuka cabang diluar kota sementara untuk sekedar nengok counter saja susah. Karena saya saat itu baru melahirkan. Hal itu sedikit banyak menjadi kendala untuk melakukan perjalanan jauh dengan frekuensi banyak. Saya mempercayakan usaha tersebut hanya pada kepala toko dan karyawan.Berjalan 7 bulan saya dan suami masih belum sadar bahwa sebetulnya kami telah memandang sesuatu yang rumit menjadi mudah. Jleeeb.. Kami membeli mesin printing yang harganya cukup aduhai dengan asumsi agar bisa supply toko dengan barang produksi sendiri.
Memasuki usia 9 bulan usaha kami makin goyang. Ditambah salah satu karyawan terbaik kami yang mengundurkan diri untuk melanjutkan studi. Itu bagai pukulan yang serta merta menampar saya dan suami. Disitu kami sadar. Kami sebenarnya ditinggalkan.

Biar ga baper, intip dulu ya counter kecil saya di Tangerang ini.

Agustus 2014 lalu. H-1 sebelum pembukaan resmi counter
Agustus 2014 lalu. H-1 sebelum pembukaan resmi counter

Membawa baby 2 bulan ke Tangerang. Sedikit curhat gapapa ya. Saya dan suami ini lebih dari sekedar suami istri, kami merintis segala sesuatu besar dan kecil bersama. Mengambil keputusan baik buruk berdua. Jadi jangan heran saya boyong si baby kecil ini turut serta, pasalnya suami hanya mempertimbangkan pertimbangan saya yang sudah tau karakter dan turut membangun semuanya bersama.

Barulah ketika hendak menginjak usia satu tahun counter kecil kami ini, saya dan suami akhirnya merasa kita tidak bisa melanjutkan ditambah seorang karyawan counter kami yang kabur tanpa memberi kabar dan membawa turut serta beberapa barang. Dan evaluasi beberapa cara yang sudah kami kerahkan tak membuahkan hasil, akhirnya dengan berat hati kami mengakui usaha counter kami merugi. Bangkrut.

Dengan kekuatan yang tersisa dan kasih sayang Tuhan, saya dan suami masih bisa take over tempat usaha ini. Dan membawa pulang seluruh barang. Malam sebelum keberangkatan suami saya ke Tangerang, kami hanya saling berpelukan. Tidak banyak kata yang terucap, sambil memandangi anak kami yang telah menginjak usia satu. Tidak ada air mata, bukan berarti saya dan dia tidak cukup terpukul. Ini kali pertamanya kami merugi, besar rupanya ketika tak sengaja mengumpulkan bon-bon pembayaran dan pembelian. Sakit, pedih, kecewa dan marah membuncah di dada saya hingga akhirnya saya tertidur dan esok paginya saya dan dia merasa lebih kuat menerima kenyataan dibantu senyuman dari anak kami.
Sepulangnya dari Tangerang, dengan mobil penuh dengan barang counter. Saya menurunkan barang satu persatu. Sungguh pecah rasanya hati, menurunkan barang yang setahun lalu saya pilih dan dengan antusias kami kirim ke toko dan kini beberapa dari barang tersebut berada ditangan saya. Saya hanya melihat kedalam diri saya, ini akan menjadi awal yang baru.
Ya, saya dan suami saya belajar.
Bahwa dalam hidup tidak boleh sekali-sekali sombong. Bahwa dalam hidup tidak boleh hendaknya kita meremehkan sesuatu. Bahwa dalam hidup hendaknya tidak menekuni bidang yang kita tidak terlalu menguasainya. Bahwa dalam hidup hendaknya menjadi kuat dan baru setiap saat. Saya membuat awal yang baru untuk akhir yang pahit ini.
Pintar tidak cukup untuk membuat kita berhasil. Saya dan suami sudah membuktikannya, dengan membuat sebuah teknologi fotografi yang belum banyak orang kuasai. Kerja keras lah yang membuat itu berhasil.
Saya berusaha semakin kuat dan teguh dalam awal yang baru. Mesin printing yang kami beli akan kami rubah sedikit fungsinya agar bisa print diatas kain tanpa luntur. Ini adalah awal kami yang baru, dirumah baru, dengan usaha baru yang akan kami bangun dengan kerja keras dan kerja cerdas, dengan hati-hati agar tak jatuh lagi. Untuk setiap akhir, ada setiap awal yang siap untuk dibuat lebih baik lagi.

12 thoughts on “Bangkit Untuk Awal Yang Baru

  1. Inspiring bgt mb shinta, memang bersakit2 dulu untuk meraih hasil yg manis y mb, ternyata klo sudah usaha sendiri, lalu ditinggal karyawan cukup memukul y mb..
    Tp aku juga salut setelah itu bisa bangkit…semoga kian laris usaha fotografinyah, wah tangerang ya, aku jg rumah tangerang hihihi

    1. Iya cukup memukul apalagi kalau ditinggal dan di khianati orang yang sudah kita percaya..
      Amiin,, terima kasih mbak nita doa nya.. Sayang ya saya udah jarang ke Tangerang nih.. Tapi kalau saya kesana atau mbak nita ke bandung bisa lah ya kita meet up 😀

  2. Baca ini artikel, jadi kebawa suasana mbak..
    Mbaknya hebat, tidak bententi di satu jalan… dan bangkit dg semangat yang lebih..
    Sukses terus untuk usahanya ya mbak..
    dan semoga tragedi karyawan yg mmbwa barang2 dr counter mbk, tdk trulang lagi, Amin..
    Sukses mbak.e heee

    1. Amiin amin.. Salam kenal yaa mbak Rohma..
      Doa yang sama untuk mbak Rohma.. Kalau terpuruk emang jangan sampai berlarut-larut.
      Semakin lama semakin sulit bangkit soalnya. Mbak rohma juga sukses yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *