Yasinyasintha.com – Senang rasanya, di awal minggu ini bisa upload episode 2 dari BLOGGER NAIK PANGGUNG yang saya baru mulai. Kali ini saya bicara tentang cerita tulisan yang tidak pernah dipublis, tidak pernah ada yang membacanya selain saya sendiri. Ajaibnya, cerita yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan itu justru yang paling menyelamatkan. Ternyata, tidak semua cerita perlu dibagikan untuk membuatnya berarti, tidak selalu punya audiens untuk membuatnya nyata.
Dan ini dia script dari episode 2 Blogger Naik Panggung : UNPUBLISHED STORY THAT SAVE ME
===============================
Ada satu tulisan di folder laptop saya yang tidak pernah saya publish. Tidak ada yang pernah baca. Tapi tulisan itu yang membuat saya bisa bangun pagi keesokan harinya — di salah satu malam paling berat yang pernah saya lalui.
Di episode sebelumnya kita ngobrol soal menulis sebagai terapi. Tentang bagaimana kata-kata itu bisa jadi cara kita bernapas, berpikir, dan memproses hidup.
Hari ini saya mau lebih dalam dari itu.
Saya mau cerita bukan sebagai blogger, bukan sebagai content creator — tapi sebagai manusia biasa yang pernah jatuh. Dan menemukan bahwa di titik paling bawah itu, yang menyelamatkan saya bukan orang lain. Bukan motivasi dari internet. Tapi tulisan saya sendiri.
Tonton versi Youtube nya di sini :
Untuk memahami momen itu, saya perlu cerita sedikit tentang siapa saya sebelumnya.
Saya menghabiskan belasan tahun sebagai orang di balik layar. Fotografer. Videografer. Pengelola konten untuk orang lain. Saya yang membangun, saya yang mengerjakan tapi nama yang disebut bukan nama saya.
Dan saya ikhlas. Sungguh. Karena waktu itu saya pikir itulah peran saya. Membuat orang lain terlihat bagus. Membesarkan karya orang lain. Saya bangga dengan itu.
Tapi ada harga yang diam-diam saya bayar, saya lupa berkarya untuk diri sendiri. Blog saya terbengkalai. Akun saya stagnan. Dan saya terlalu sibuk mengisi gelas orang lain sampai gelas saya sendiri kosong.
Sampai suatu hari, sesuatu terjadi yang mengubah segalanya.
Saya tidak akan menceritakan detailnya. Bukan karena saya belum siap tapi karena detailnya tidak sepenting pelajarannya. Yang perlu kamu tahu: saya pernah disingkirkan. Oleh sesuatu yang sudah saya bangun, sudah saya rawat, sudah saya beri waktu dan energi terbaik saya. Diganti. Begitu saja.
Rasanya? Seperti lantai yang tiba-tiba hilang dari bawah kakimu.
Bukan hanya sakit karena kehilangan. Tapi sakit karena bertanya-tanya apakah selama ini saya tidak cukup baik? Apakah semua yang saya lakukan tidak berarti apa-apa? Apakah saya terlalu mudah untuk digantikan?
Malam itu saya tidak bisa tidur. Saya tidak mau menelepon siapapun. Saya tidak mau terlihat hancur. Jadi saya membuka laptop. Dan saya mulai menulis.
Saya tidak tahu berapa lama saya menulis malam itu. Mungkin satu jam. Mungkin lebih.
Saya tidak menulis dengan rapi. Tidak ada struktur. Tidak ada intro yang bagus atau kesimpulan yang kuat. Saya hanya menulis semua yang ada di kepala dan di dada marah, sedih, bingung, takut semuanya keluar begitu saja ke layar. Dan di tengah-tengah tulisan itu, saya menemukan sesuatu.
Saya menemukan bahwa di balik semua rasa sakit itu, ada pertanyaan yang lebih penting dari
“Kenapa ini terjadi pada saya” — yaitu: “Apa yang sebenarnya saya inginkan untuk diri saya sendiri?”
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama — saya menjawabnya dengan jujur.
Saya ingin berkarya. Untuk diri saya sendiri. Dengan nama saya sendiri.
Tulisan itu tidak pernah saya publish. Tidak akan pernah. Tapi tulisan itulah yang menjadi titik awal dari semua yang kamu lihat sekarang — podcast ini, channel ini, perjalanan ini. Ada kutipan dari Maya Angelou yang sekarang saya mengerti maknanya secara berbeda:
“There is no greater agony than bearing an untold story inside you.”
Malam itu, saya akhirnya bercerita. Meski hanya pada diri sendiri. Dan itu cukup untuk membuat saya bertahan.
Saya ingin kamu tahu satu hal — terutama kalau kamu sedang di titik yang berat sekarang.
Kamu tidak perlu publish tulisanmu untuk membuat tulisan itu berarti. Kamu tidak perlu ada yang baca untuk membuat prosesnya nyata. Kadang tulisan yang paling powerful adalah tulisan yang hanya kamu dan kamu saja yang tahu.
Menulis bukan hanya tentang audiens. Menulis adalah tentang kejujuran — kejujuran pada diri sendiri. Dan itu adalah bentuk terapi yang tidak membutuhkan siapapun selain kamu.
Itu cerita dari tulisan yang paling berharga dalam hidup saya — yang tidak pernah dibaca siapapun. Kalau kamu punya tulisan seperti itu juga tulisan yang tersimpan rapi di folder laptop atau di notes HP, saya ingin kamu tahu bahwa tulisan itu valid. Perasaan yang kamu tuangkan di sana itu nyata dan berharga.
Dengarkan di podcast :
Di episode berikutnya, saya akan mulai cerita tentang babak baru — tentang keputusan untuk akhirnya berkarya untuk diri sendiri setelah belasan tahun membesarkan orang lain. Apa yang mendorong saya, apa yang menakutkan saya, dan bagaimana saya akhirnya memulai.
Sampai jumpa di episode berikutnya, teman berkarya.
