Episode 3 Blogger Naik Panggung – Catatan Dari Orang di Balik Layar

Yasinyasintha.com – Masuk ke episode 3 dari series Blogger Naik Panggung, kali ini saya bicara tentang catatan-catatan saya sebagai orang di balik layar selama belasan tahun. Kamu yang suka nonton Youtube bisa mampir ke Youtube saya ya di :

Dan kamu yang lebih suka baca, saya tuliskan scriptnya di sini.

=======================

Selama belasan tahun, saya yang pegang kamera. Saya yang edit videonya. Saya yang besarkan akunnya. Hasilnya bagus. Orang-orang puas. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah — nama saya tidak pernah ada di sana.

Di episode sebelumnya saya cerita tentang satu malam yang berat — dan tulisan yang menyelamatkan saya. Tulisan yang akhirnya membuat saya bertanya: apa yang sebenarnya saya inginkan untuk diri sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan itu dengan jujur, saya harus cerita dari awal dulu. Dari mana saya datang. Apa yang saya lakukan selama belasan tahun. Dan kenapa butuh waktu selama itu untuk akhirnya memilih diri sendiri.
Ini bukan cerita yang mudah untuk saya sampaikan. Tapi saya rasa — ini cerita yang perlu didengar.

Saya mulai sebagai blogger. Nulis. Foto sendiri. Edit sendiri. Upload sendiri. Itu dunia saya.
Lalu dari sana, saya mulai dipercaya untuk mengerjakan hal yang sama — tapi untuk orang lain. Bikin konten. Foto produk. Video. Kelola akun media sosial. Dan saya kerjakan dengan sepenuh hati.

Karena begitulah saya bekerja. Kalau saya pegang sesuatu, saya kasih yang terbaik.

Saya ada di lokasi lebih awal dari semua orang. Saya yang paling terakhir selesai editing. Saya yang kepikiran soal konten bahkan waktu harusnya saya istirahat. Saya bukan hanya mengerjakan — saya peduli.
Dan hasilnya? Akun-akun itu tumbuh. Konten-konten itu dapat engagement. Orang-orang itu dapat pengakuan.

Saya bangga. Sungguh.

Tapi ada satu hal kecil yang diam-diam mengganggu — setiap kali ada yang memuji kontennya, setiap kali ada yang bilang ‘wah bagus banget fotonya’ atau ‘videonya keren’ — tidak ada yang tahu bahwa itu tangan saya yang mengerjakan.
Dan saya diam. Karena memang bukan peran saya untuk disebut.

Bertahun-tahun berlalu. Dan saya mulai sadar — ada harga yang saya bayar tanpa saya sadari.
Akun saya sendiri? Terbengkalai. Blog saya? Jarang diupdate. Portofolio atas nama saya sendiri? Hampir tidak ada.
Karena semua waktu, energi, dan kreativitas saya sudah habis untuk membesarkan milik orang lain.

Saya seperti tukang kebun yang merawat taman orang lain dengan sangat indah — tapi halaman rumah saya sendiri penuh rumput liar.

Yang lebih menyakitkan — saya mulai merasa tidak terlihat. Bukan dalam arti dramatis. Tapi dalam arti yang sangat sunyi: saya ada, saya berkontribusi, saya bekerja keras — tapi keberadaan saya tidak meninggalkan jejak atas nama saya sendiri.

Saya tidak akan cerita detailnya.
Yang perlu kamu tahu — setelah semua yang saya bangun, setelah semua yang saya beri, saya diganti. Begitu saja. Dan rasanya seperti konfirmasi dari ketakutan terdalam saya: bahwa saya memang tidak cukup penting untuk dipertahankan.

Tapi kemudian — setelah rasa sakitnya sedikit mereda — saya mulai melihat sesuatu yang berbeda. Mungkin bukan saya yang tidak cukup baik. Mungkin saya hanya salah tempat. Salah arah. Terlalu lama menuangkan energi terbaik saya ke tempat yang tidak pernah benar-benar menghargai saya.

Dan momen disingkirkan itu — sepahit apapun rasanya — justru yang akhirnya memaksa saya untuk berbalik. Dan melihat ke arah yang seharusnya sudah saya lihat jauh lebih lama: diri saya sendiri.

Jadi ini kenapa saya ada di sini hari ini.
Bukan karena saya tiba-tiba punya waktu luang. Bukan karena tren. Bukan karena ingin viral.

Tapi karena saya akhirnya memilih untuk berkarya atas nama saya sendiri. Dengan suara saya sendiri. Di panggung yang saya bangun sendiri.
Blogger Naik Panggung bukan hanya nama podcast atau channel. Itu adalah pernyataan. Bahwa orang yang selama ini ada di balik layar — hari ini memilih untuk tampil.
Bukan karena sudah tidak takut. Tapi karena sudah terlalu lama menunggu.

Kalau kamu juga pernah merasa tidak terlihat — pernah bekerja keras tapi tidak diakui, pernah memberi tapi tidak dihargai — saya ingin kamu tahu: itu bukan karena kamu tidak berharga. Itu hanya berarti kamu belum berkarya di tempat yang tepat.

Di episode berikutnya, kita akan ngobrol soal sesuatu yang lebih dalam lagi — tentang identitas. Setelah belasan tahun jadi orang di balik layar, waktu saya akhirnya tampil — saya sempat bertanya: saya ini siapa sekarang? Masih bloggerkah saya? Atau sudah jadi sesuatu yang lain?
Sampai jumpa di episode berikutnya, teman berkarya.

Terus berkarya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *