Being Extrovert Is a Skill

blogger, yasinta astuti, yasinyasintha

Mereka yang mengenal saya tidak akan percaya bahwa sebenarnya saya adalah seorang penyepi, penikmat sunyi dan sepi. Walau hanya sesekali, saya adalah orang yang sangat sering ingin sendiri saja, mungkin hanya dengan hal yang benar-benar saya inginkan. Mereka yang benar-benar mengenal saya, pasti percaya, bahwa saya sejatinya adalah seorang penikmat sepi. Bahwa setiap orang memang butuh ruang sendiri, tanpa tertawa-tawa atau kelakar-kelakar. Hanya sepi, menikmati diri sendiri.

Memang manusia bisa berubah karena tiga hal ; waktu, keadaan dan seseorang. Saya berubah karena ketiganya, cita-cita masa kecil saya adalah tentang menjadi seorang penjahit, menghabiskan waktu dengan membuat sesuatu, tidak bekerjasama dengan orang banyak. Tapi yang terjadi sekarang, dan tahun – tahun silam, adalah saya menjadi seorang yang extrovert. Suple malah ( katanya )

Being Extrovert Is a Skill

blogger, yasinta astuti, yasinyasintha
Update dari path sendiri dipindah ke blog 😀

Saya ga mau mengelak, jadi extrovert dan menyenangkan adalah hal yang saya sukai juga. Jadi bisa memulai pembicaraan dengan orang, menemukan banyak teman baru, tidak takut nyasar haha. Dan ga disangkal, mostly sumber rezeki saya saat ini karena saya adalah seorang extrovert.
Ikut acara SGM kemarin tentang keterampilan sosial, extrovert dan introvert itu bukan kepribadian, tapi keahlian. Dan bisa diasah *ya mungkin itu sebabnya ada sekolah jurusan PR atau broadcasting atau sejenisnya.

Mungkin sedikit cerita, dulu waktu motret prewedding. Yang saya nikmatin adalah perjalanannya, ngeditnya, dan ngobrol sama orangnya pasti. Saya berburu pengalaman, menghampiri penjaga kapal, penjaga hutan, tukang kopi hanya sekedar mengobrol ringan. Sungguh itu saja sudah sangat menyenangkan. Tapi dibalik itu, jadi fotografer produk saya lebih senang lagi dan lebih bahagia. Saya bisa berlama-lama di studio, sisanya saya bisa mengedit di suasana hening malam, kalau merasa sumpek saya jarang menghempaskan diri dengan shopping, tapi dengan crafting, menjahit atau mewarnai buku, kegiatan yang sungguh tidak melibatkan orang lain. Setelah itu saya mendapati diri saya bahagia tak terkira. The trully me i think.

Lalu saya bertemu papi pas umur 19 tahun *pas masih kinyis-kinyis. Papi is an introvert person, sampe saya bingung kok ada orang yang minim banget ngmng, kuat rendengan sama kakak laki-laki saya berjam-jam tanpa obrolan *kaka saya emang orangnya tertutup banget sih. Saya tanya ada masalah, he said ” we are good, makanya ga ada yang bisa dibicarin ” whaaaaat asa jadi ada tanda tanya gede di kepala. Haha
Tahun berganti tahun, papi jadi sering presentasi, ngajar, jadi pemateri. Semua pekerjaan yang ekstrovert punya. Apalagi masa-masa ngajar foto dan editing ibu-ibu, papi berubah drastis.

Ekstrovert Di Saat Yang Dibutuhkan
blogger, yasinta astuti, yasinyasintha
Kalau kalian berteman dengan saya di facebook atau subscribe youtube channel keponih, maka akan menemukan papi di sana nge-vlog. A big goal saya rasa, untuk ukuran orang yang diajak selfie aja susah banget.
Lagi-lagi papi bilang ” Aku bisa ekstrovert di saat yang dibutuhkan ” lalu perbincangan tentang video tetap berlanjut, dengan mengajak saya bareng nampang di videonya. Bahas makanan berdua sih udah biasa, tapi sambil direkam ? It’s first time, mengingat sebenarnya saya tidak terlalu suka berada dalam frame video. Tidak terlalu suka melihat wajah saya di video, intinya saya ga pede dan merasa separuh diri diambil ke tempat lain. Haha lebay yah.

Tapi setelah menimbang jumlah dollar yang akan dihasilkan *eh maksudnya menimbang sebagai latihan nge-vlog dan sambil numpang eksis ada baiknya saya mencoba, abaikan tentang rambut singa dan gigi saya yang tumpang tindih, selama yang saya lakukan baik ya akan saya teruskan. Jadi siap-siap saya bakal sering share tentang vlog juga di blog ini hehe.

Inti blog post ini, Tuhan memang maha baik. Kita diciptakan sedemikian rupa untuk mampu menjadi apa saja, kita adalah pribadi yang akan terus berubah seperti yang kita inginkan, sesuai dengan waktu yang berjalan, sesuai dengan siapa kita berhadapan. Tuhan yang maha baik mencipta kita sedemikian fleksibelnya, hingga semua yang kita miliki pada akhirnya adalah sebuah keterampilan. The most important thing, jangan pernah lupa dari mana kita berasal. Selebihnya, berubahlah terus. Menjadi lebih baik.

Salam,

yasinyasintha.com

 

8 thoughts on “Being Extrovert Is a Skill

  1. Toss banget ini.. Kalo mau jujur, aku ttp lbh suka jd seorang introvert.. Tp kerjaan yg berhubungan ama service, bikin aku mau ga mau ya hrs berubah.. Menghadapi komplain nasabah, jelas ga bisa dihadapi hanya dgn diam :D. Coaching anak buah tiap bulan, presentasi dpn bos… Tapi setelah urusan itu semua selesai, biasanya aku balik lg jd pribadi introvert 🙂 . Ngerasa tenang, rileks kalo bisa menyendiri itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *