Kambing Pertama Mamah dan Bapak

Yasinyasintha.com ” Yasudah mah, nanti lagi aja kurban mah. Anak – anak sedang butuh biaya ” kata bapak dengan nada lesu. Saya mendengar percakapan keduanya yang berencana kurban tapi urung karena saya masuk SMP dan obie, kakak saya naik kelas 2 SMP yang artinya bakal banyak biaya seperti buku paket dan buku LKS yang harus dibeli.

Saya tidak menguping, rumah kami memang tidak besar ditambah dindingnya adalah terbuat dari bilik. Jika mau, saya bisa saja mengintip dari celah anyaman bambu biliknya untuk melihat Mamah dan Bapak, tapi saya terlalu sedih untuk bangkit. Jadi duduk di balik dinding bilik sudah cukup.

Saya juga Obi memang dekat begitu juga dengan saudara yang lain, dengan teteh saya atau juga dengan Depi adik bungsu saya. Kami semua punya mimpi yang sama, ingin sekali mewujudkan keinginan Bapak dan Mamah untuk berkurban yang sebelumnya selalu dikebiri kehidupan.

Sudah berlalu bertahun-tahun, bahkan belasan tahun. Saya masih melihat hal yang sama, bahwa Mamah dan Bapak sebenarnya tetap memiliki keinginan ikut berkurban di setiap tahunnya. Tapi apa mau dikata, sawah yang Bapak garap tidak selalu berbuah hasil panen yang baik, kalaupun hasil panen bagus pasti dipakai untuk sehari-hari, tak pernah sedikitpun keduanya menggantungkan hidup mereka pada kelima anaknya, padahal jika dipikir-pikir kami semua menggantungkan hidup dari lahir hingga mendapat kerja kepada mereka. Tak pernah menjadi hutang, itulah orang tua ( ahh nangis kan aku ).

Kambing Pertama Untuk Mamah dan Bapak

” Mah, bolehkah itha berkurban untuk Mamah dan Bapak tahun ini ?” tanya saya di awal tahun 2019, saya bisa melihat Mamah tertegun kaget dan bingung. Kalimat yang keluar selanjutnya adalah “ Duh neeng, teu kudu. Pake we jang ita jeung keluarga, Vio ge kan abus sakola butuh biaya gede. Keur mah Mamah Bapak teu bisa mere nanaon, teu bisa mantuan nanaon ” ( dalam bahas indonesia : Duh neng, ga usah. Pake saja untuk keperluan ita dan keluarga. Kan Vio juga mau masuk sekolah, butuh biaya besar. Mamah Bapak kan ga bisa ngasih apa-apa, ga bisa bantu apa-apa ). Saya mengangguk namun dalam hati saya berkata : Bismillah, fix jadi kurban.

Setelah percakapan itu, baik saya atau Mamah tidak pernah membahasnya. Saya memilih untuk diam-diam saja mempersiapkan, tadinya rencana kurban ini akan dibagi dua dengan Obi, kami sepakat patungan. Namun malang tak dapat ditolak, suatu hari obi bercerita, ia kemalingan di kostannya. Jadi saya bismillah saja kembali meneguhkan hati untuk mencoba mewujudkannya sendiri, pasti ada jalan harus ada jalan.

Pernah mendengar bahwa segala sesuatu berawal dari niat ? Itu yang saya alami, merasakan dan mengalami langsung banyak sekali keajaiban – keajaiban soal rezeki dalam bentuk uang untuk mewujudkan niat kurban. Mulai dari kerjaan yang pencairannya pada mundur ke akhir Juli, juga tiba-tiba adsense blog saya cair hingga dapat doorprize dengan hadiah mesin cuci yang akhirnya saya jual untuk menambah membeli kambing.

Usai meminta izin kepada Papi untuk mempergunakan uang tabungan saya seperti yang telah direncanakan dari beberapa bulan sebelumnya, akhirnya kami sepakat membeli kambing di Bandung. Alasannya yang menjual adalah merupakan komunitas building yang aktif juga dalam kegiatan amal dan kegiatan sosial, saya memilih untuk memilih kambing dengan tipe tengah-tengah. Sebenarnya inginnya membeli yang besar sekalian, tapi setelah percakapan dengan ahli agama saya lega : bahwa disesuaikan saja dengan kemampuan, begitu katanya.

family, blogger, mom blogger
Ngajak ia milih kambing

Jadilah kemudian kami sekeluarga pergi ke tempat penjualan hewan kurban. Iiaa dan iioo ikut, dan senang juga bahagia. Saya tak bisa banyak bicara di sana, dada saya berdebar-debar ada rasa tak percaya bahwa bisa memberi apa yang mamah dan bapak inginkan tahun ini. Fyi, mamah bapak masih ga tau bahwa saya jadi kurban untuk keduanya.

Saya meminta kambing kurban di antar H-2 saja, menjelang idul adha mamah bapak tetap tak curiga. Hanya bertanya maukah kami sesekali lebaran idul adha di sana, saya jawab iya mau ke sana apalagi Mamah dan Bapak kurban kan tahun ini. ” Haaaar Tha, nahaaa. Duh gusti nu agung, ulah neng geulis teu nanaon mamah mah. Katampa niatna dunia akhirat tapi pake w padahal jang keperluan nu lain “ kata Mamah saya dari balik telepon. Setelah saya jelaskan akhirnya Mamah menerima dengan masih tidak percaya.

Idul Adha Paling Bermakna

family, blogger, mom blogger
iiaa main sama kambing begitu sampai

Sehari sebelum idul adha kami sekeluarga bersiap ke Ciparay, ke rumah Mamah. Ini idul adha pertama saya setelah lulus sekolah. Jujur tak pernah saya merayakan idul adha di rumah setelah bekerja juga menikah. Ada rasa haru di sepanjang jalan menyeruak, tertutup dengan canda tawa bersama io dan ia.

Sampai di pekarangan rumah, saya lihat kedua kambing sedang lahap memakan daun nangka yang dibawa Bapak. Bapak terlihat berbinar melihat kami lalu berterima kasih, huhu jujur saja saya ingin menangis kok Bapak bilang terima kasih pada saya juga papi bahkan ke ia dan io. Padahal yang Bapak lakukan selama ini lebih dari seribu ekor kambing sekalipun, priceless.

Bau harum tercium dari dapur, saya yakin Mamah sedang di sana. Saat saya temui Mamah kemudian merangkul saya, memeluk saya erat dan hangat lalu berterima kasih, melihat Mamah menangis saya tak bisa menahan untuk tetap ceria. Tangis saya pecah juga, ahh Mamah apa yang saya berikan tak sebanding dengan apa yang Mamah sudah lakukan.

Ini kambing yang dijagain Bapak sampe tidur di teras, kambing putih ga kepoto nih. Maap ya mbeee

Ada hal lucu juga di sana, ternyata Bapak tidur di teras demi menjaga kambing aman. Maklum pernah kemalingan ayam, jadi Bapak berinisiatif untuk tidur di teras berbekal velbed, sarung, selimut,jaket dan cemilan ” Anggap aja camping “ kata Bapak bahagia. Meski sudah tua, saya masih bisa melihat wajah Bapak sumringah dan ceria. “Allah, saya ingin banyak uang biar bisa banyak berbagi dan membahagiakan orang tua” jerit saya dalam hati yang perih terbungkus oleh candaan bersama Mamah dan Bapak.

Idul Adha tiba, selepas solat ied. Bapak dan Mamah membawa kambing ke tempat kurban. Bersama dengan DKM dan panitia kurban yang menerima, Mamah dan Bapak serah terima dan menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya. Mamah dan Bapak berpegangan tangan menghampiri kami, hati saya lega sekali. Benar-benar lega.

family, blogger, mom blogger
Ngolah daging bareng

Kembali ke rumah dan memasak daging bagian mudhahhy yang diantarkan panitia. Melahapnya bersama termasuk ia dan io yang mencicipi masakan Mamah. Obi dan Depi juga suami teteh, hangat sekali rumah ini.

Saya kemudian pulang menjelang sore, Mamah dan Bapak kembali mengucapkan terima kasih atas kambing pertamanya. Ahh Mah, Pak memberi kendaraan di dunia saya belum mampu, maka saya tebus dengan memberi kendaraan di akhirat. Semoga Allah menerima kurban Mamah dan Bapak, menyehatkan dan memberikan keduanya kebahagiaan dan umur yang panjang.

Sampai di rumah io bilang : ” Mami, nanti kalau udah besar. Aku beli kambing juga ya 4, untuk Mami, Papi, aku dan Vira “. Seketika sudut mata saya menghangat, terima kasih duhai Allah. Saya bahagia.

1 thought on “Kambing Pertama Mamah dan Bapak

  1. aku mberebes mili bacanyaaa 🙁 .. ngeliat ortu bahagia, itu rasanya memang nyeeesss banget ya mba . ngebayangin dulunya mereka gimana mengurus dan membiayai kita. Selagi masih hidup, waktunya kita utk menyenangkan mereka. :).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *