Manners Maketh Man #1 : Know Your Place, Mari Bicara Baik

Yasinyasintha.com – Baca ini, “Gajinya berapa emang kalau ngerjain gitu ? Eh Yas, gendutan ya sekarang ? Kenapa kok sekarang jerawatan banget ya kayanya ?” Hey ! Seriously you ask this ? When it’s none of your business, don’t bother to ask. 

Saya tergelitik banget untuk menulis ini sejak lama. Called it’s curhat haha, beberapa minggu yang lalu ada sesembak yang dm juga chat ( orang yang berbeda ), kita hanya berteman di sosial media, lainnya hanya beberapa kali berjumpa. Awalnya, bertanya tentang sibuk apa sekarang dan pertanyaan basa basi lainnya, setelah dijawab lalu ada sebuah pertanyaan yang bikin mangkel “Gajinya berapa emang kalau ngerjain gitu ? Bisa dapet proyek kaya gitu dari mana ya ?” Ya Allah aku langsung esmosi jiwa.

Tahukah ia bahwa pertanyaan seperti itu sungguh ga sopan. Saya yakin yang baca ini pernah mengalami pertanyaan – pertanyaan mengesalkan lainnya. Let me make the list of rude question :

  • Kapan nikah ?
  • Kapan punya anak ?
  • Kapan nambah anak ?
  • Usia berapa ?
  • Gaji berapa ?
  • Kok gendutan ?
  • Kok jerawatan ?
  • Kok kurusan ?
  • Agama kamu apa ?

Dan segambreng pertanyaan lainnya yang menurut saya too personal, atau berbau body shaming. Bahkan pertanyaan ” Sekarang berhijab ya ? “ agak sedikit mengesalkan jika itu datang dari orang yang tidak terlalu saya kenal.

stop body shaming, blogger, blogger bandung, blogger lifestyle
Me be lykee when hear some rude question

Ini bukan baper ya, ini bukan pula pembelaan. Pertanyaan di atas bisa saja menjadi pertanyaan yang biasa aja jika itu datang dari sahabat atau orang yang sering mengobrol dengan kita, dengan saya. Tapi begitu itu datang dari orang yang ga terlalu saya kenal, bahkan ga saya kenal. Boleh ya saya kategorikan, GA SOPAN BANGET SIH NI ORANG.

Sebenernya mungkin konteks dan sikon pertanyaan juga mempengaruhi. Let say misal lagi di mall milih baju bareng teman, dia mau milihin buat kita : ” Eh yas, ukuran berapa sekarang bajunya ? “ bakal dengan senang hati saya jawab ” M atau L, tapi enaknya aku cobain dulu ” konteks dan sikon kaya gini ga bakal bikin baper atau menyinggung lawan bicara karena dua hal : Bertanya karena berkaitan dengan kebutuhan saat itu, kedua yang nanya pasti temen dekat lah, lha wong belanja bareng. Ngapain gue belanja sama orang yang ga dikenal wkwkwk, bayarin kagak body shaming iya.

Lalu misal lagi traveling, let say ikut open trip ke luar negeri sama orang yang ga kenal tadinya. Mau makan, lalu ada yang nanya ” Tempat makan ini ada pork nya, kamu boleh makan ga ?” dengan senang hati pasti jawab dan kita mencari alternatif lain sembari bisa saja mempersilakan teman yang lain jika ingin makan di situ. Ya siapa elu juga ngatur ga boleh makan di situ yak wkwkw.

Konteks pertanyaan juga emang ngaruh banget terlepas yang ditanya orang yang kita kenal secara dekat atau tidak.

Juga pertanyaan seperti sudah nikah, sudah punya anak, kapan nambah anak. Hey kita ga tau ya apa yang dia alami, apa yang sudah dia lewati. Bisa aja bertanya hal ga sopan kek gitu melukai perasaannya atau mengingatkannya pada hal yang menyakitkan. Seperti yang pernah saya alami setelah kehilangan Ash, seseorang di media sosial dengan cueknya bertanya “Kapan atuh mbak hamil lagi ?” please, kehilangan tidak sebercanda itu, saya bahkan tidak keluar rumah selama sebulan. Saya bahkan merahasiakan kehamilan dari teman-teman sampe kandungan berusia 5 bulan lebih.

Suka denger yang nanya kapan nikah sebagai membuka pembicaraan, astaga. Hidup ini bukan cuma tentang nikah dan berkeluarga men. Bahkan orang terdekat saya memutuskan ga mau nikah karena tanggung jawab yang harus dipikul sebesar apa. Lagian kalau tau mau nikah, mau nyumbang buat catering ? Ketahuilah, biaya nikah dan punya anak yang sering dijadikan bahan pembuka pembicaraan itu ga murah loh. Yakali kamu mau membiayai nyumbang (banyak) yah.

stop body shaming, blogger, blogger bandung, blogger lifestyle

You don’t know how it feel. Seperti pernah seorang teman curhat kepada saya, tentang perjuangannya 5 tahun berusaha agar bisa memiliki anak, mulai dari alternatif, program hamil sana sini, inseminasi hingga bayi tabung yang belum membuahkan hasil. Satu kalimat pertanyaan “Kapan punya anak?” pada dia, membuat menangis setelah sampai di rumah, membuatnya tak ingin melakukan apa-apa berhari – hari. Membuatnya super berantakan dan tidak percaya diri. Please, know your place.

Kita tentu saja ingin hidup yang ideal, tapi sayang itu jarang dan sulit sekali. Hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah memperlakukan orang sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kita tidak suka ditanya demikian, jadi kamu juga jangan. Berpikirlah dahulu mengenai tindakan kita, pantas atau tidaknya. Hence, common sense.

“Wah gendutan ya yas sekarang”, saya ga tau nih kalimat ini kalimat tanya, atau pertanyaan. But it hurt. Merapat lah para wanita karena kita emang ga suka kan ya dibilang gendut, walau itu kenyataan wkwk. We know it, i know it. Saya sadar kok saya menggemuk dari baju yang saya pakai itu-itu saja karena memang itu yang muat. Saya sadar betul mudah lelah dan saat foto saya kelihatan gendut memang benar demikian, bukan karena efek distorsi. But please, jangan memperburuk mood seseorang.

stop body shaming, blogger, blogger bandung, blogger lifestyle

Karena, karena, karena… Karena kamu ga tau seberapa jungkir baliknya saya menjaga diri tetap sehat karena mengASIhi, segimana saya berusaha untuk tetap happy apapun yang terjadi. You don’t know how i deal with it.

Mami cantik kok, apa adanya “ kata papi juga io berkali – kali. Entah mengapa tapi terasa jadi kaya fake ya suami ngomong gitu sampai akhirnya kemarin di dapur saya dicecar papi. ” Lupain deh yang ngomong gitu ke mami, ga penting. Dia ngatain kamu gendut dia sendiri ga sempurna, aku tau betul. Yang penting mami sehat, happy. It’s all i need. It’s all we need ” Lalu entah mengapa saya juga sadar seketika. Kenapa omongan orang yang ga begitu saya kenal bisa begitu menyinggung saya.

Untuk orang yang mengalami hal seperti saya, entah itu body shaming atau hal lainnya. Please, kuat dan jangan dipikirin. Hanya itu yang mereka bisa lakukan, karena pertanyaan seperti itu hanya keluar dari orang yang ga peka dan akal sehat untuk mengontrol yang keluar lewat perkataanya. Jangan korbankan orang – orang yang menyayangi kita ikut bersedih hanya karena kita memikirkan omongan orang lain.

Untuk yang masih suka gatel ngomentarin atau tanya-tanya hal semacam itu tadi. STOP Please, when it’s none of your business, don’t bother to ask. 

Curhat yang super panjang ya. Saya alhamdulilah baik – baik aja. Ga pengen diet hanya untuk dibilang langsing, ku sudah cantik apa adanya *tsaaaah saya sudha happy lagi melihat anak – anak sehat dan lucu, rukun dan saling mencintai dengan suami, ASI banyak, rezeki banyak (songong poll ) huahhahaa emang apa lagi coba yang penting ?

Pesan dariku, pandai – pandai menempatkan diri, tu bakal menolong kamu, banyaaaaak. Remember, manners maketh man. 

4 thoughts on “Manners Maketh Man #1 : Know Your Place, Mari Bicara Baik

  1. Tergantung siapa yang mengajukan pertanyaan atau pernyataan itu ya Ta. Dan seberapa dekat dengan kita. Aku pernah hilaf berkomentar body shaming gitu : “kamu langsingan, ya” tapi ya sama dekat sih. Kalau sama yg enggak dekat mah asa gimana gitu tiba2 bertanya kek gitu.

    1. Iyaa bener banget, tergantung siapa dan konteksnya ya teh.
      Aku juga kalau sama yang deket ya jangankan nanya, saling ledek2an juga sering tapi ya gimana udah tau sih itu becanda.

    1. Iyaa teh, cuma itu sih ya yang penting. Emang orang kadang ga punya perasaan dan ga mikir mau ngomong teh haha.
      Btw i miss u

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *