Yasinyasintha.com – Pintu kaca itu saya dorong, terpampanglah barisan kamera yang berderet rapi disusun berdasarkan merknya. Dari barisan depan hingga belakang semua punya peminatnya. Dijajarkan rapi pula dari kanan ke kiri berdasarkan harganya, yang paling kanan adalah kamera yang punya harga paling “terjangkau”, itupun sudah diangka belasan juta. Semakin melangkah ke kiri, angkanya depannya kian besar. Ya, saya sedang di toko kamera, di DOSS Kamera Bandung.

Di sisi kiri lainnya tampak jajaran tripod yang tak kalah rapi berdiri, satu sama lain punya kelebihannya. Saya memutari area toko, pramuniaganya membantu dengan cekatan. Menanyakan apa yang dibutuhkan, alternatif merk dan tentu saja bicara soal harga.
Tak diburu-buru, ada sofa dan beberapa kursi dan meja kecil di bagian belakang display kamera, tersedia air minum kemasan botol kecil. Merogoh kocek dalam membeli unit kamera bisa bikin pening dan kepala panas, pintar juga toko ini mneyediakan area duduk santai sejenak seperti ini. Karena benar saja, setelah agak santai, kami bangkit bicara lagi.
Oya, kali ini saya ke toko kamera tidak dengan Papi, tapi dengan seorang teman, Putri. Ga paham fotografi secara pro, tapi matanya bagus menilai gambar artinya seleranya boleh juga, hehe. Makasi Uti untuk menemani.

Pertama Setelah Sekian Lama

Hampir lupa rasanya pergi ke toko kamera, melihat-melihat, bandingin harga atau bonus tambahan satu sama lain sejak beberapa tahun belakangan. Sejak memutuskan berhenti di bisnis foto pernikahan 9 tahun yang lalu dan kehadiran marketplace yang menawarkan lebih banyak kemudahan dan efektivitas, kebutuhan beli peralatan kamera pun selesai lewat gawai.
Dalam 5 tahun terakhir, bukan ga pernah beli kamera. Berhubung sudah paham kamera, saya dan Papi membeli kamera dan lensa second. Tau kondisinya seperti apa, kebutuhan seperti apa, cocok, beli, selesai. Namun kali ini beda, kami yang selama ini menganut aliran kamera Canon, seiring dengan kebutuhan perlu perubahan dan untuk saat ini yang menjawab kebutuhan tersebut adalah Mirorless Sony.
Saya beruntung bisa jajal si mirrorless Sony ini sebelum beli karena kantor Papi menggunakan mirrorless Sony ini. Saya sempat pinjam untuk beberapa kali membuat video pendek untuk pekerjaan, di hari yang lain saya gunakan mirrorless Canon M3 kesayangan kami, hari lainnya menggunakan DSLR untuk pembuatan video. Dengan semua alat pendukung sama seperti mic dan tripod, saya jadi tau benar bahwa mirrorless Sony ini emang paling oke buat urusan membuat video.
Bisa dibilang saya lebih beruntung lagi karena hal itu, punya kesempatan coba untuk kemudian menentukan, iya deh mulai sekarang pakai Sony aja.
Maka ini pertama setelah sekian lama, baik dalam urusan beli kamera maupun ganti kamera. Karakteristiknya yang beda pasti butuh penyesuaian ekstra, saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu pernah juga punya jajal dan punya kamera merk lain selain Canon, hasil dari lomba blog, kamera mirrorless Fujifilm yang berakhir dengan dijual saja, hehe.
Gajadi deh pake hastag #terfujilah yang sedang hits kala itu, haha.
Halo Mirrorless Sony, Akhirnya Kamu Ku Pinang Juga

Beberapa hari sebelumnya rutin nonton ulasan dan perbandingannya. Baik dengan tipe yang lainnya di brand yang sama, atau battle perbandingan dengan brand lain sekelasnya. Ternyata saya cukup teguh pendirian soal ini, karena saya udah jajal bagaimana performanya sebelumnya jadi saya tidak goyah untuk mantap pilih Sony a6400.
Di DOSS Kamera Bandung, mirroless yang saya incar ada di barisan paling depan dan diletakan di paling kanan.
Yap, harganya paling “terjangkau” di kelas mirrorless Sony yang baru dan ada di store tersebut. Meski di paling kanan, harganya di angka Rp. 13.200.00. Bisa dibayangkan ya semakin ke kiri makin asik aja harganya dan tentu saja performanya. Kata Uti kemarin bisik-bisik, “nanti mah beli yang paling kiri. Bisa pasti bisa” saya mengaminkan dalam hati, full frame nya pasti mantap, benar saya membayangkan.
Lucunya ada perbedaan harga yang lumayan besar jika dibandingkan dengan marketplace padahal tokonya sama. Tertera Rp. 12.407.060 untuk unit mirrorless Sony a6400 dengan lensa kit 16-50mm, selisih harganya Rp. 800.000 dong, luar biasa ya!

Setelah ngobrol, ternyata diskon tersebut adalah dari Tokopedia. Harga toko, ya gitu di angka 13,2 juta dan ga bisa kurang. Jadi pihak toko menyarankan untuk transaksi via toped dengan pilihan kurir toko ongkir 0, padahal produk diambil langsung. Ide bagus ya! Selain kamera, DOSS Superstore ini menjual lensa juga. Jadilah saya membeli lensa juga. Berhubung kebutuhan saya adalah lensa fix dengan bukaan besar alias bokeh, maka
diputuskan beli body only dan lensa tambahan. Lensa 16-50mm yang bawaan dengan F4, takan terpakai. Sayang aja dibeli kalau tidak dipakai dan berakhir berjamur. Duh jangan sampai.
Nah si body only ini kemarin didapat di harga Rp. 11.200.000 saja, yeay!
Lensa-lensa kamera terkenal dengan harganya yang fantastis, yang bisa melebihi harga kamera itu sendiri. Saya beruntung sekali belajar dari Papi, kami terbiasa bergerak beli lensa sesuai kebutuhan alih-alih tergoda, beruntung juga saat ini banyak alternatif perusahaan pembuat lensa dengan mount khusus untuk Sony (atau mount mirrorless canon, Nikon, Fuji
dll) dengan harga yang lebih murah.

Sebagai contoh, lensa yang saya butuhkan adalah lensa fix 35mm dengan f/1.8 harganya diangka 7,7 juta (sungguh menyentil ya) dan ada alternatif lensa non Sony dengan mount
Sony, yaitu TTArtisan 35mm dengan F 1.8 juga harganya di angka 2,5juta saja , dan plus diskon dan sudah auto focus pula, ya tentu saja secara bisnis dan naluri mamak-mamak pilih yang murah, yang penting kebutuhannya terpenuhi, hasilnya sama pula, hehe.
Tapi tentu ya akan lebih bagus kalau lensanya pun Sony juga, sayangnya kemarin lensa 35mm Sony pun sedang tidak ready di toko. Untuk menunggu, saya pun sedang tak bisa karena suatu hal kamera yang saya beli hari tersebut akan dipakai besoknya.

Jadilah akhirnya meminang Mirrorless Sony a6400 dan lensa Artisan 35mm ke rumah. Sekalian beli tripod baru untuk tambahan siapa tau suatu hari akan multicam record. Tripodnya saya pilih yang cara lipatnya beda dari yang di rumah haha, biar variasi. Terlebih bahannya terlihat sangat kokoh dengan kelebihan bisa dual fungsi untuk jadi monopod juga. Adalah Tripod Fotopro PD5+ dengan ballhead, harganya di angka Rp. 785.000, mantap.
Total belanjaan hari itu adalah Rp. 14.497.00 dan berkat Tokopedia jadi Rp. 13.676.280, setidaknya dapat potongan 822 ribu an lho, thank you Toped!

Alhamdulilah kamera baru, what a surprise sih dadakan bisa beli kamera. Bisa dibilang ini tahun yang rollercoaster banget. Baik bagi saya, maupun bagi kami sekeluarga.
Pengalaman Belanja di DOSS Superstore Kamera Bandung

So far ini pengalaman belanja kamera yang menyenangkan. Dari beberapa kali beli kamera jaman di BEC, Braga Kamera maupun Toko Camzone. Ini yang paling menyenangkan bagi saya, staff toko nya sabar dan helpful banget dalam hal ngasih alternatif keinginan customer. Garansi toko bagus, unboxing di lokasi dibantu pengecekan unit memastikan kamera bekerja dengan baik dan dibantu pendaftaran garansi dan pembuatan akun Sony.
Rekomen bagi teman-teman yang mau beli kamera, saran saya sebelum ke toko. Cek dulu via marketplace seperti yang saya lakukan, karena bisa jadi dapat harga lebih murah. Tokonya senang, kita pun tentu saja riang.
Setelah pulang saya lanjut jajan sama Uti, saya merayakan semua yang terjadi di hari tersebut. Uang di saldo yang kini berubah bentuk menjadi aset untuk berkarya, “hello kamera baru, yang awet dan asik ya menemaniku” bisik saya dalam hati melihatnya terbungkus didalam dus yang saya bawa dengan totebag.
DOSS Superstore Kamera Bandung
: Jl. Sunda No.69, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung,
Kota Bandung, Jawa Barat.

