Catatan 2017 : Tentang Kehilangan Dan Menemukan

Catatan 2017 : Telat memang jika saya menuliskan ini sekarang, tapi saya harus menuliskannya di sini. Untuk saya baca dan kaji kembali kemudian hari, untuk itulah blog saya ada untuk saya sendiri dan boleh lah saya berharap akan ada faedahnya buat yang pembaca yang lain. Tapi khusus yang ini, saya menuliskannya untuk saya sendiri.

2017, saya tidak tau apakah tahun itu baik atau tidak untuk saya secara pribadi atau untuk keluarga. Beberapa hal hancur berantakan, saya sempat kehilangan arah dan merasa patah. Puncaknya ada pada April 2017, saya kehilangan bayi dalam kandungan yang berusia 5 bulan. Usia kandungan yang katanya sudah cukup kuat dan membuat orang bertanya – tanya mengapa itu terjadi, yang membuat saya mempertanyakannya juga pada diri sendiri, yang membuat saya menyalahkan diri sendiri lalu frustasi, yang membuat saya meratapi makamnya hampir setiap pagi. Kehilangan bayi perempuan yang teramat saya sayangi, saya meraung – raung tak karuan, bisa dibilang sudah dibatas diri antara waras dan gila.

Lalu saya kehilangan keyakinan pada Tuhan, maka saya lepaskan hijab yang tadinya bulat saya kenakan. Ya, tadinya saya punya nazar jika hamil lagi saya akan menggunakan hijab, saya keguguran, saya lepas hijabnya. Saya rasa itu perguliran yang adil menurut saya saat itu. Ahh konyol sekali saya memang pemikiran saya saat itu.

Lalu saya sembuh, setelah tadinya akan ke psikiater, akan di ruqyah. Saya sembuh dengan self talk, berbicara pada diri sendiri saat sunyi, percayalah ini ini antara membantu dan tidak. Bayangkan saja saat kamu merasa nyaman berbicara pada dinding kamar rasanya seperti apa. Batas diri saya untuk waras ada pada iioo, he keep me alive, lalu saya sembuh. Sembuh hanya dalam satu sholat dengan sujud yang panjang, sembuh hanya dengan satu ayat yang melintas dalam benak ” Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan ” saya berusaha yakin lagi, lalu sesuatu dalam diri saya berkata yakin, sungguh Tuhan tak pernah meninggalkan saya bahkan sedetik saja, bahkan saat saya mengutuknya meninggalkannya, ia tetap ada. Maaf Gusti 🙁 saya yang sempat meragu padaMu

Kesulitan itu tetap bergulir, beberapa pekerjaan papi diguncang, cancel, padahal sudah amat sangat dekat. Bulan ber – ber ini bulan yang edan, jujur saja selama sama papi kami tak pernah setergoncang ini. Pernah deng, dulu pas papi kuliah saya kerja lalu ingin bikin bisnis bersama tapi masih mentok – mentok, sampai pernah makan nasi warteg satu bungkus saja berdua. Itu indah saat itu, saya yang anak kost masih bisa puasa dan punya jalan penghasilan lain sebagai penerjemah ( ini aneh emang kalau inget pernah jadi translater ) papi juga masih sama Mamah Bapak dan masih lajang. Tapi diguncang saat ini, batin kami tentu saja mengiba dan kebingungan. Saya tak mungkin menyuruh iioo puasa, belum lagi ternyata ditengah guncangan tersebut saya hamil kembali.

Ini kehilangan sekaligus kehadiran yang paling hebat : Kami positif meninggalkan dunia bisnis wedding karena satu dan banyak hal, yang artinya kami kehilangan satu keran income, saya positif hamil yang artinya kebutuhan akan meningkat mengingat kami akan memiliki baby kembali, tapi ditengah guncangan itu saya dan papi tidak mau tumbang dan kehilangan. Inilah yang Allah mau kan? Di uji saat kami belajar hijrah, Allah rindu pada kami dijadikannya kesulitan – kesulitan ini ditengah kami mendekatkan diri padaNya. Kali ini kami akan kuat, tak akan patah dan kalah.

Toh kehadiran terindah tetap ada, papi mulai menemukan passionnya. Sesuatu yang ia cari setelah belasan tahun, belum terlalu signifikan memang tapi menurut kami akan lebih berkah ketimbang bisnis – bisnis kami sebelumnya. Kehadiran bayi dalam kandungan saya juga, ia sehat katanya setiap dokter memeriksanya. Kehadiran iioo yang sholeh dan manis banget sama mami dan papinya yang lebih dari cukup membuat saya dan papi punya energi lagi. Yang paling indah, kehadiran Allah dalam hati kami yang sebelumnya muncul tenggelam ( yang banyakan tenggelamnya ) betapa kami sangat sadar hanya pada Dia lah kami boleh berharap dan bersandar.

Catatan 2017 ini tidak sepenuhnya buruk, selalu ada kebaikan dalam setiap kejadian. Dan saya hanya perlu yakin, bahwa benar Allah takkan pernah meninggalkanmu, bahwa Dia tak pernah ingin saya susah apalagi anak – anak saya susah. Bahwa Allah menolong kami, secepatnya.
Bahwa saya hanya perlu terus yakin :

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرً   ” Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)

2017 ini tahun yang berat, tapi nyatanya sudah tertinggal dibelakang dan saya mampu melewatinya dengan segala jerih payah. Saya dan papi hanya perlu lebih kuat lagi.
Catatan 2017 memang tentang kehilangan dan menemukan, orang – orang terdekat ada yang pergi. Ke hadapan Ilahi ada pula yang menjauh dengan sendirinya, ada juga orang – orang yang sudah lama kami kenal lalu muncul lagi menjadi teman baik, ada juga yang baru kami temui. Ya, kehadiran dan ketidakhadiran seseorang di hidup kita terjadi pasti untuk sebuah alasan, merubah kita.

Catatan 2017 ini tidak begitu baik bagi hati dan perasaan saya, tapi itu akan menguatkan atau pasti saya akan menemukan korelasinya nanti.
Catatan 2017 ini cukup untuk membuat saya dan papi hijrah.

Ini sudah hampir 800 kata, padahal masih banyak yang ingin saya tulis di sini tapi biarlah beberapa menjadi pengingat diri sendiri dalam hati tertumpuk dengan yang lainnya nanti. Tulisan ini sebagai catatan saya pribadi nanti, yang saat saya membacanya kembali saya akan menjadi pengingat diri : Senang seperlunya, sedih juga seperlunya, toh segala hal akan terlewati dan pada akhirnya akan menjadi catatan saja.
Entah apa yang akan terjadi tahun 2018 ini, semuanya misteri dan jujur saja tak bisa saya menerka satupun hal dan tak ingin juga menerka – nerka, beberapa hal harus dibiarkan berjalan begitu saja bukan ? Yang jelas usaha saya dan juga papi akan lebih keras lagi, hasilnya seperti apa nanti Bismillah saja jadinya.

Doakan kami ya…

11 thoughts on “Catatan 2017 : Tentang Kehilangan Dan Menemukan

  1. Mba.. Aku merasa kehilangan kedekatan denganmu di sepanjang 2017. Aku pikir km sibuk dengan kehamilanmu dan kesibukan bisnismu. Ah salahku kenapa tidak japri untuk mennayakan kabarmu. Aku kaget baca post ini. Pengen peluk kamu. Pengen ngucapin selamat, mba sudah memenangkan pertarungan ini. Jalan masih panjang, masi banyak ujian untuk hijrah. Semoga hijab itu tidak terlepas lagi ya mba. Sehat terus untuk kehamilan saat ini. Doaku selalu. Really miss u

  2. 2017-ku juga diwarnai dengan kehilangan. Berbulan-bulan menarik diri, menghindari semua kegiatan yang mengharuskan ketemu banyak orang, menolak beberapa tawaran kerja. Cuma pengen sendiri, diem, nangis. #curcol

  3. Mbak cukup berani dan jujur dengan menceritakan apa yang mbak telah hadapi. Semoga perjuangan mbak membuahkan hasil yang nikmat. Let’s be strong together and face the days. Kesedihan dan kebahagian semuanya akan berlalu silih berganti. Jika kita tidak pernah merasakan kesedihan kita tidak akan mensyukuri nikmatnya merasa bahagia 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *