Dari Pekerja Menjadi Wiraswasta *Part 2

Tetiba berasa diingatkan melihat blog pribadi ditahun 2013 saya pernah share tentang cerita saya yang bertransformasi dari pekerja menjadi wiraswasta part 1. Iseng search di email tahun lalu ada beberapa email menantikan kelanjutannya. Merasa berdosa sekali kenapa terlalu lama saya berhibernasi.. Hiks hiks maafkan yaa.
Tapi tak ada kata terlambat bukan ? Saya masih ingin berbagi cerita..

Setelah 8 bulan menjadi pelukis kaos dan sepatu. Saya akhirnya menyerah, banyaknya order membuat saya tidak punya waktu banyak untuk sekedar memejamkan mata. Dengan berat hati akhirnya saya pelan-pelan meninggalkan usaha melukis ini, beberapa cara sudah saya coba misalnya mencari partner yang bisa diajak kerjasama untuk mengerjakan sepatu lukis namun sulit rasanya menemukan partner yang tepat dalam kurun waktu yang singkat. Saya akhirnya berhenti mencari dan mundur teratur, saya tidak ingin mengecewakan customer dengan berlama-lama mengerjakan antrian panjang yang berujung pada buruknya reputasi, hilangnya kepercayaan dan kekecewaan orang terhadap kinerja saya. Yang saya tahu ketika kita memutuskan mengiyakan sesuatu itu berarti kita bersedia loyal dan total. Setidaknya itulah paham yang saya anut.

Entah bagaimana, saya menemukan kelas gratis belajar bersama seseorang bernama ibu Ina, rumahnya didaerah cipedes ( tepatnya saya lupa, kalau ada yang tau boleh ya saya minta informasi ). Ibu ina ini seseorang yang luar biasa ia memberikan kelas gratis kepada ibu-ibu, anak muda dan siapa saja yang ingin turut serta, saya tiba-tiba bergabung tidak ada perasaan malu tiba-tiba datang, mungkin rasa ingin belajar saya membuat saya tidak tahun malu qiqiiqiqiqi
Disini ia mengajarkan semuanya. Memasak , membuat kue, membuat dekorasi origami, membuat souvenir handuk towel cake dan membuat clay souvenir. Ia tidak memungut bayaran satu rupiahpun. Pada akhirnya saya tahu ibu ina ini ternyata pemilik ina cookies.. Pada tau kan kue nya enak dan lezat sekali

Yang nyantol dihati dan pikiran saya adalah towel cake dan clay souvenir ini. 2 kali pertemuan semua yang hadir sudah mampu membuat sesuatu yang ” berbentuk ” haha jadi ingat clay pertama saya adalah seorang perempuan dengan rambut rasta dgn muka nya yang merah.. Yah semua orang berkembang bukan ?
Saya akhirnya fokus mendalami pembuatan clay souvenir ini. Saya membuat beberapa pasang clay dan saya iklankan. Puji syukur Allah tahu saya sedang kesulitan tiba-tiba ada yang pesan untuk souvenir pernikahan jumlahnya tidak sedikit..
1200 pasang yang artinya 2400 buah clay !!! Senang bukan kepalang.. Saya kemudian terima order tersebut, malam harinya saya tak dapat tidur baru terbayang siapa yang akan mengerjakannya, setidaknya membantu saya.. Ahahaha ( dari situ saya belajar mengenali batas diri sendiri untuk kedua kalinya )
Dengan susah payah, sakit pinggang sampai tangan rasanya keriting order tersebut terpenuhi. Berminggu-minggu kurang tidur terbayar dengan satu sms berisi terima kasih dan kepuasan dari pemesan akan clay souvenir.

Kemudian saya menjadi kalap dan ketagihan. Kali ini salah satu klien dari foto wedding bandung memesan 700 pasang, diluar itu saya juga memiliki pesanan-pesanan dalam jumlah kecil. Tak mampu lagi akhirnya saya merekrut freelance seorang mahasiswa jurusan DKV di Itenas. Lega rasanya pesanan terpenuhi kembali.
Saat itu saya tidak ingat untuk banyak memfoto hasil clay souvenirnya.. Jadi hanya ada beberapa saja :

Clay souvenir bahan iklan waktu itu dengan bentuk sederhana
Clay souvenir bahan iklan waktu itu dengan bentuk sederhana

395889_389616137719767_1819038281_n 430282_389612104386837_2031340352_n

Clay ini dari A-Z handmade termasuk packing nya :D
Clay ini dari A-Z handmade termasuk packing nya 😀
Towel cake souvenir
Towel cake souvenir

Kemudian dikenal lah saya sebagai wiraswasta Souvenir Clay

Sampai akhirnya kemudian usaha ini saya tinggalkan kembali setelah setahun menggelutinya. Sayang rasanya namun kembali saya memilih jalan saya untuk merintis usaha bersama pacar ( suami saat ini ) kita tidak pernah bisa unggul dalam berbagai bidang, salah satu pastilah harus dikorbankan. Jadi sekarang saya membuat clay ini untuk diri saya sendiri dan pesanan dalam jumlah sedikit saja. Dan sedikit bekal untuk vio ketika sudah balita nanti akan saya ajak membuat ini bersama. Tidak mudah melepaskan passion, saya senang sekali bergelut dengan sesuatu yang kecil dan detail yang melibatkan ketekunan. Namun waktu yang terbatas dan keharusan membangun sesuatu yang baru harus lebih diutamakan.

Masih ditahun lalu saya mendapat ajakan membuat seminar di Pekanbaru tentang pembuatan clay ini yang terpaksa saya tolak karena Elvio masih terlalu kecil untuk dibawa. Saya tidak menyesal, family first 🙂
Dan bagi saya, kesempatan akan datang lagi ketika kita mengizinkannya datang lagi. Saya masih bisa berbagi disini. Yang mau belajar bareng bikin clay ini boleh banget ya ajak saya turut serta.

Saya sangat bersyukur, dari pekerja menjadi wiraswasta seperti sekarang. Banyak yang dilalui, tidak pernah mudah, namun tidak ada yang tidak mungkin. Saya membuat segala kemungkinan menjadi nyata, ada kalanya kita harus membiasakan diri dengan menyukai yang tidak kita suka. Seperti saya pada awal merintis banyak hal, keraguan pasti ada tapi jangan biarkan itu mendominasi kita.
Yang saya sesalkan hanya satu, saya belum bertemu kembali dengan ibu Ina.. Guru sekaligus ibu, beliau pernah menawarkan saya untuk sekolah lagi namun saya malu akan kebaikannya yang sudah terlalu banyak. Jika ada kesempatan ingin sekali saya bertemu dengannya mencium tangannya dan berterima kasih. Saya berkembang karena ia, ia pula mengajarkan saya untuk baik hati dan tidak takut untuk berbagi pekerjaan.

ps : Kalau dari teman-teman ada yang punya no telp dan alamatnya tolong bantu info ya 🙂

Menjadi atau menerima sesuatu yang baru tidak mudah sama sekali. Tapi ia menumbuhkan kita.
Belajar sesuatu yang baru dan menerimanya bisa mendorong kita kebatas diluar dugaan..
” Open your mind for something new, watch and see you will grow.”

2 thoughts on “Dari Pekerja Menjadi Wiraswasta *Part 2

  1. sangat menginspirasi, tadinya aku wartawan mb,, cuma sekarang udah resign, pingin deh segera mewujudkan usaha kayak mb sinta ini heheh

    1. Waah asik tuh ya jadi wartawan.. Pengalamannya pasti banyak yaa mbak nita…
      Kalau ada kesempatan boleh ya kita sharing hheee… Btw terima kasih sudah mampir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *