Kebakaran Itu Mengubahku

Di sini saya sekarang. Berkutat dengan usaha bersama partner,sahabat sekaligus suami saya. Saya percaya, tidak ada hal baik yang datang dengan mudah. Semua perlu diusahakan, saya lagi pengen nulis tentang sebuah musibah dalam hidup saya membuat saya saya dan seluruh keluarga dipaksa dewasa.

Sudah sekitar 8-9 tahun yang lalu tapi masih menyisakan luka dalam dan selalu membuat pipi basah kalau mengingatnya
BRB ambil tisyu…

IMG_3084Saya anak ke 4 dari 5 bersaudara, Bapak saya buruh pabrik dan ibu saya IRT dengan kemampuan menjahit. Saya bersyukur ketika SMP orangtua saya memasukan saya ke salah satu SMP Favorit. SMPN I Majalaya *yeaaay tepuk tangaaaan.
Semuanya terlihat sempurna dan sangat menyenangkan, sampai pada suatu hari di bulan ramadhan, rumah saya kebakaran. Itu peristiwa yang bukan main menjatuhkan keluarga saya.

Terutama ibu saya, kami jatuh sejatuh-jatuhnya, uang dan barang yang kami miliki saat itu adalah uang sebesar 5 ribu rupiah dan sebuah gunting kecil ( itu ada karena saya menyimpannya dalam saku sesaat sebelum kebakaran terjadi ).

Bapak dan ibu saya adalah tipe yang suka menyimpan uang dalam bentuk cash di rumah dan jelas kebakaran ini seperti merenggut hidupnya. Tabungan untuk saya, kakak saya nomor 3 dan adik bungsu.

Masa sekolah SMP, juara bagi saya. Setiap hari datang bantuan, dalam bentuk barang dan uang juga dukungan moril tak henti-hentinya datang. Saya tak bersekolah sampai hampir satu bulan.

Saya 15 tahun saat itu, melihat setiap hari ibu duduk di depan kaca mengamati orang lalu lalang sambil berlinang air mata, saya tidak pernah tahu apa yang ibu saya pikirkan dengan duduk di balik jendela. Ia tak peduli dengan kami, keluarganya. Hingga masih lekat dalam matanya ketika saya melihat ibu saya seperti bukan dia, mukanya berubah, pikiran dan musibah inilah yang mengganggunya.

Salah satu sahabat saya mengingatkan untuk terus membawa ibu saya berkomunikasi, sahabat saya yang juga sangat mengenal ibu saya mengatakan dengan hati-hati ” yasinta, berusaha ya takutnya mamah yasinta terganggu” itu katanya. Saya tertegun, hancur sekali hati dan perasaan saya, hancur sehancur-hancurnya. Saya tahu sekarang arti rumah.

Rumah adalah sebagian dari hidup, dari jiwa. Mengajak mamah berkomunikasi seperti orang asing bagi saya, saya dipaksa dewasa. Kami semua, kakak dan adik saya. Kami dipaksa dewasa. Melihat senja di pagi hari.

Ibu saya, yang wajahnya banyak sekali berubah “Pecah” kata orang, kerutannya semakin terlihat jelas. Lamunan itu pasti merusaknya, saya dan ibu saya dengan jelas melihat api melahap setiap bagian rumah kami hingga habis.

Saya dan keluarga tidak pernah menyerah pada ibu saya yang sempat ga “ngeuh” dengan kami. Bapak menegarkan kami ia bilang ” mamah tidak pernah menyerah pada kalian saat masih kecil “ selalu begitu Bapak bilang saat kami terisak dan merasa lelah. Saya pergi kebalik lemari, menyusut air mata dengan bagian bawah baju. Tisyu terlalu mahal untuk kami saat itu.

Entah berapa puluh atau ratus hari yang kami lewati dengan cucuran air mata, saking seringnya menangis, tidurlah yang menghentikan tangis ini.

Kemudian Allah hadir dan turut serta. Allah menepati janjinya kepada saya, bahwa kesadaran kami untuk tetap bersamai ibu tidak pernah sia – sia, alhamdulilah Ibu saya membaik.

Tapi hantaman kembali datang. Bapak saya di PHK. Dipaksa dewasa untuk kesekian kali, bantuan dari sekolah saya masih tetap mengalir deras. Sangat bersyukur untuk itu, mereka mengenal saya pribadi yang baik hati dan ga neko-neko dan kreatif *katanya loh ya. Tak henti dipaksa dewasa. Saya terancam tidak melanjutkan sekolah. Sedih sekali, dunia saya rasanya mau tumplek jatuh menimpa. Saya ingin sekolah mamah.. Rasanya saya ingin sekali menjerit.

Dengan kekuatan bulan (macam sailormoon ) Ibu saya kemdudian akhirnya memasukan saya kesekolah. SMA Pasundan Majalaya, ya entah kekuatan dari mana, kemudian Ibu saya membaik.

Terpontang panting di kelas kedua. Suatu hari lepas ashar kala pulang saya mendengar ibu dan bapak bercakap-cakap khawatir saya tidak bisa melanjutkan lebih lama lagi untuk sekolah. Untuk kesekian kalinya hancur lagi lah harapan saya, saya pergi ke belakang rumah dan menahan tangis. Berlama-lama disana menunggu ditemukan.

Rupa-rupanya ibu saya berjuang keras. Setelah tengah semester saya dibawa ke Daarut tauhid untuk di daftarkan mendapat beasiswa, hanya bertahan beberapa bulan saja. Di hari lain di setiap ashar, dari dinding bilik kontrakan, saya dengar ibu saya bergumam, berdoa dan menangis. Tak jelas apa katanya, tapi jelas sekali ada nama saya ia sebutkan.

Seolah ada yang menuntun. Ibu saya kemudian mulai jadi pemburu beasiswa, lekat-lekat ia memandang saya dan berkata ” Wayahna kudu pinter, kudu ranking biar tetap sekolah. Maaf mamah terlalu lama dalam lamunan “.

Dewasa, saya dipaksa mengerti setiap keadaan serba tidak enak ini. persetan dengan masa puber dan cinta-cinta monyet. Saya berjalan 6 km setiap hari selama kurang lebih 6 tahun. Saya harus berjuang, seperti ibu dan bapak saya.

Daaan.. sepertinya Allah menuntun ibu saya menemukan beberapa orang yang mau membiayai saya sekolah untuk 1 tahun. Dari Rumah Sakit Indonesia, dari Bank dan beberapa instansi lain. Saya tidak malu bercerita ini, karena berbagai hantaman saat itu membentuk saya saat ini. Bahwa segala sesuatu harus diperjuangkan.

Saya sudah terbiasa berkutat dengan LKS, tak jarang saya mengerjakan LKS teman untuk sekedar dapat coklat atau traktiran dan uang. Kebakaran itu menghabiskan apa yang kami punya secara fisik, tapi ternyata itu merubah keluarga saya, merubah saya. Keluarga saya menjadi solid dan menjadi keluarga yang bisa berkomunikasi untuk urusan apapun. Mau tau latar belakangnya ? Karena rumah kontrakan kami hanya punya 2 kamar dan 1 ruang tamu. Belajar dan mengobrol dilakukan di ruang yang sama setiap harinya. Saya dan dua kakak laki – laki saya menjadi dekat.

Di tahun-tahun terakhir sekolah keadaan mulai membaik. Beasiswa dari Sampoerna Hijau banyak menyelamatkan sekolah saya dan ekonomi keluarga, ditambah beasiswa dari ORBIT milik Pak Habibie yang menopang saya setahun penuh tapi tetap kata Ibu saya, kami harus berhemat. Drama menyalin buku tugas dan LKS tetap berlanjut, padahal harganya saat itu hanya Rp. 8.500 saja.

Di akhir sekolah saya kemudian harus dipaksa mengerti. Jadi juara umum, dikenal pintar tidak terlalu membantu kalau tidak dibarengi dengan kesempatan.
Ya, saya mendapat undangan untuk meneruskan kuliah di ITB dengan biaya penuh dari ORBIT, mentah-mentah ibu saya menolak. Ia membeberkan banyak hal yang mungkin disimpan rapat-rapat. Hancur lagikah hati saya ? Oo Jelas.

Tidak bisa dipaksakan, tidak bisa diperjuangkan. Saya kemudian bekerja, sana sini, jatuh bangun, banyak sekali jatuhnya dan dipaksa bangun. Sampai saat ini jika saya ingat rasanya masih terasa getir. Apalagi ketika pulang keciparay saya membuka lemari dan surat beasiswa itu masih tersimpan rapi.
Ahh… tapi kalau kuliah mungkin saya tidak akan di sini sekarang, tidak memiliki yang saya miliki sekarang. Semua ada jalannya.

5 tahun kemudian setelah kebakaran rumah yang merubah kami semua. Dengan cara yang ajaib ibu saya memiliki rumah. Di banjaran awalnya kemudian ke ciparay. Allah sungguh baik, teramat baik. Dia punya cara rahasia untuk menyenangkan hati-hati orang yang kesusahan seperti saya, ibu saya dan keluarga saya.

Pernah suatu hari ibu saya menangis meminta maaf karena tidak bisa membiayai atau sekedar mengizinkan saya kuliah,sesuatu yang sangat saya inginkan dari kecil. Saya ingin jadi sarjana. Saya tak ingin mendendam atau marah lagi. Saya berdamai dengan hati saya, dan ibu saya.

Jika ada orang lain yang bertanya kepada saya siapa yang bisa saya andalkan dihidup ini. Adalah ibu saya. Saya tak pernah menyangka bisa sejauh ini, memiliki banyak hal yang ketika kecil dan remaja saya elu-elukan namun tidak tercapai. Ibu saya yang mengajarkan hidup adalah bekerja dan berjuang.

Hidup itu tentang berubah bukan ? Kita harus berubah untuk bertahan. Saya tidak sedih dan marah lagi ketika tahu dipaksa dewasa menjadikan saya tahan banting sekarang. Berdiri di kaki sendiri.

Yang terpenting dalam hidup adalah berdamai.

Dengan diri sendiri. Untuk semua peristiwa. Dan semua hal buruk. Dan semua yang menyakiti. Nyatanya yang kita perlu adalah menerima dan berdamai.

Dan ya, kebakaran itu mengubahku.

36 thoughts on “Kebakaran Itu Mengubahku

  1. salut bgt sama ceritanya mak.. orang2 kuat emang beda ujiannya ya mak. smoga slalu dalam lindungan dan kasih sayangNYA.. AAMIIN

    1. Amiiin semoga kuat beneraaan nih mak.. Kuat selalu ya menghadapi hidup yang keras ini *apalaah
      Doa yang sama buat mak Desi , makasih ya sudah mampir 🙂

  2. Dosen saya pernah berujar, bahwa luka seringkali membuat kita kuat. Luka mungkin tak bisa hilang, tapi kita bisa berdamai denganya. Bahwa ia menjadi bagian dari hidup kita. Hebat Mak, bisa melalui luka itu, berdamai dan menjadi pribadi yang kuat.

    1. Amiin maak.. semoga bisa selalu kuat dan damai..
      Kadang bisa karena tidak punya pilihan lain yah ihihi..
      Terima kasih ya sudah mampir.. Salam hangat dari bandung 🙂

    1. Ahhh zahraa bisa ajaaa… Aku masih gini-gini aja hehe..
      Aku masih ingat, saat itu zahra memang sudah bukan Ketua Osis lagi tapi banyak bantuan datang karena aku seangkatan dengan Zahra..
      Makasih yaa zahraa.. aku harap bisa belajar banyak juga dengan berteman sama zahra skrg..

  3. kisah hidup yang saaangat menyentuh mak. subhanalloh, selalu ada kejutan manis di balik kesulitan ya mak. ibu, bapak, kakak, adik adalah cahaya hidup kita ya. salam hormat saya utk orang tua mak.

    1. Iya mak.. Dulu ya mereka lah cahaya hidup. Sekarang cahayanya nambah dari suami dan anak..
      terima kasih banyak yaa.. Salam juga untuk keluargaa 🙂
      Salam kenal dari saya

  4. mewek , mewek….. aduh perjuangan yg berat tapi berhasil dilewati Benar Allah kag akan kasih cobaan yang tak dapat kita lallui

  5. “Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyiraah 5-6)
    Salam kenal 🙂

  6. Km hebat ih taa, aku inget dulu kelas 1 smp pernah satu kelas.. Dan diajarin caranya menyulam, iya kan km jago menyulam??? Hehe.. Sukses trs ya taaaa

    1. hehehee hobi itu mah vi.. Kamu juga baik banget sama aku suka bantuin aku di masa SMP..
      Sukses juga ya buat evi dn buat persiapan pernikahannya

  7. Setiap musibah selalu ada hikmah yang menyertainya ya mbak. Yang jelas tetap berusaha dan tetap berdoa. Niscaya Tuhan akan membukakan jalan. Semoga pengalaman berharga mbak ini bisa menjadi pengingat dan juga pelajaran buat kita semua dan juga untuk generasi penerus mbak nantinya. Aamiin

  8. Teteh, saya sampai nangis baca nya, perjuangan yg berat u ukuran remaja masa itu.
    Usia kita hampir sama yaa,
    Saya melalui masa masa remaja hingga kuliah dengan biasa saja, biaya pendidikan yang cukup tapi tak berlebih jg tak kekurangan.

    Namun, setelah menikah saya merasakan beratnya perjuangan.bukan soal pasangan, tp lebih kepada finansial. Saya yg sudah terbiasa dapat jatah bulanan mesti dihadapkan dengan rezeki dadakan yg ngga pasti datangnya.

    Yaa semua itu ada masa – masa nyaa.
    Senangg sudah berbagi pengalaman

    1. Namanya hidup ya mbak pasti ada naik turun, apalagi menikah tentang berjuang bersama tentunya untuk banyak hal.
      Semangat selalu ya mbak Ayu untuk kita semuanya.

    1. Catatanku teh, buat anak – anak nanti mudah – mudahan mereka baca dan jadi motivasi juga aamiin.
      Makasi udah mampir teh

  9. Teteh geulis.. Masya Allah. Nikmat Allah akan selalu bersama orang orang yang kuat dan ikhlas melalui segala ujian dari Nya. Sehat selalu untuk ibu dan bapak ya, Teh. Barakallah untuk teteh dan keluarga

  10. Ya Alloh … Mb Shinta, bangga bs mengenal Mb Shinta.
    Semoga selalu diberi kemudahan dan kekuatan akan semua ujian ya mbak.
    Terus semangat.
    Bismillah bpk ibu juga keluarga Mb Shinta selalu rukun, sukses dan bahagia.
    Aamiin

    1. Aku pun seneng bisa kenal mba Nanik, makasih ya pertemanan kita.
      Aamiin doa nya mbak, terima kasih. Doa yang sama untuk ibu dan bapak mba Nanik juga ya. Aamiin

  11. Kemarin-kemarin sempat melihat postingan ini di timeline FB. Belum sempat baca, keburu tenggelam dengan postingan lain. Begitu sekarang punya kesempatan membaca, MasyaAllah … Teh Sintha beruntung sekali sempat diberikan ujian seindah itu. Memang, adakalanya kekuatan itu tumbuh di saat kita berada dalam kondisi yang sama sekali nggak indah. Proud of you, mentor keceku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *