motherhood | story

Kehilanganmu Ash, Duka Terbesarku Sebagai Orang Tua

April 1, 2018

Yasinyasintha.com – Ini setahun yang lalu setelah saya kehilangan Ash, bayi 5 bulan dalam kandungan. Sudah berwujud bayi dengan ukuran kecil, wajahnya sudah terbentuk sempurna mirip iioo. Jarinya lengkap tak kurang suatu apapun kecuali ia tak bernafas saat kami memeluknya.

Sebutan apa yang bisa disematkan pada orang yang kehilangan anaknya ? Tidak ada. Kehilangan orang tua kita menjadi yatim/piatu. Kehilangan pasangan kita menjadi duda/janda. Lalu apa yang sebutannya untuk saya yang pernah kehilangan anak, karena sungguh. Kehilangan anak adalah duka terbesar orang tua.

Setahun yang lalu di tanggal ini, raungan dan isak tangis kami pecah di ruangan bersalin. Menyisakan luka yang menganga hingga sekarang, nyeri di hati tersebut tak kunjung mereda. Jelas sekali, kehilangan terbesar kami secara total merubah keluarga kecil saya pun merubah saya bahwa sejatinya sebagai manusia tak punya kontrol apa – apa. Kalau saya terlihat bagus, baik, benar atau apapun itu hanya karena Tuhan di atas sana yang mengizinkannya begitu.

Foto Alm. Ash masih ada di handphone saya. Ada rasa ingin menghapusnya semuanya agar pilu ini tak mendera terus menerus, tapi saya perlu melihatnya sesekali sebagai pelembut hati. Walau sebenarnya, hingga saat ini pun kala saya memejamkan mata dan mengingatnya, rentetan peristiwa tersebut seperti diputar kembali meninggalkan dada yang remuk redam dan sesak nafas seketika, tentang air mata tak usah ditanya.

” Mami jangan menangis, seluruh dunia menyayangimu ” begitu kata iioo yang begitu menyembuhkan. Dia adalah obat saya bertahan selepas pulang dari rumah sakit tahun lalu, hari – hari berikutnya saya hanya menangis diam – diam saat iioo tengah tertidur lelap. Sedang papi, entahlah dukanya sedalam apa. Masih juga di pelupuk mata saya raungan kami berdua, sepasang suami istri yang berpelukan menangisi kepergian bayi kami. Duka papi tentu sama besarnya, atau mungkin lebih besar lagi mengingat papi lah yang mengantarkan bayi kecil kami menuju pemakaman.

Saya takkan lupa hari itu, sepulang dari rumah sakit di musim penghujan. Hujan dengan semena – mena turun dengan derasnya. Saya selalu hampir berlari ingin memayungi makamnya di belakang rumah kami. Semakin sesak karena ASI saya kemudian keluar, meninggalkan saya yang depresi hampir gila rasanya. Tak ada yang tau, bahkan ibu saya sekalipun. Hanya 2 lelaki tersebut yang menguatkan, bergantian memberikan pelukan. Saya takut keluar rumah, takut orang bertanya kabar saya bagaimana. Kamu pikir orang baik – baik saja keguguran di usia kandungan 5 bulan ?

Lalu di media sosial, entah berapa ratus ucapan mengalir di sana, belum lagi pm yang berdatangan dengan maksudn menguatkan yang ternyata membuat saya semakin terluka. ” Bayimu yang tiada adalah penolongmu kelak, ia berada di surga tingkat lima. Bersama nabi Ibrahim, ia tak menua. Ia memiliki taman bermain paling indah. Jika kamu mengingatnya dan cukup baik, kelak di akhirat ia akan menjemputmu. Kalian akan berkumpul lagi sebagai keluarga yang utuh dengan kasih sayang yang penuh ” begitu sebuah chat masuk, dari seorang teman yang sudah berumur, dengan cucu dan anak – anak yang mengasihinya. Awalnya, terasa seperti omong kosong namun setelah berlama – lama dan menyembuhkan diri sendiri, kata – katanya benar. Sesuai dengan ahli agama sampaikan.

Ini tentu saja kehendak Allah, harus begini agar kami sekeluarga belajar hijrah.

” Hi Ash, apa kabar ? Seneng ya main di sana. Liat nih mami sekarang lagi belajar hijrah ke arah yang lebih baik. Kami sehat Ash, hanya saja seminggu belakangan mami didera gelisah terus menerus mengingatmu. Maaf ya mami masih suka nangis, mami ikhlas kok. Asha pasti bahagia juga di sana ya. 

Ash, di perut mami ada baby nya lagi sekarang. Lahirnya katanya bulan ini, bulan yang sama dengan kepergianmu. Orang bilang adik Ash ini bakal jadi penggantimu, tentu saja mereka salah. Kamu takkan terganti nak, dengan apapun dengan siapapun. 
Ash, mintakan pada Allah agar mami dan papi mengizinkan kami menjaga adikmu, mengasihinya seumur hidupnya, hingga saat suatu hari kita berkumpul lagi sebagai keluarga yang utuh dengan kasih sayang yang penuh ” 

Al – Fatihah 

ps : Saya harus menyudahi menulis ini, iioo tak boleh melihat saya untuk kesekian kalinya berduka.

 

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *