Sepenggal Kisah Bertanya

vespa-517227_1280

Pernah kan ketemu atau punya temen yang males tanya, apalagi generasi z masa kini. Yes, katanya sih dipikiran mereka kalau bertanya tuh tanda ketidakmampuan, gengsi langsung turun level, dianggap ” masa gitu doang gatau sih ” ( ini sumber yang valid ya — anak SMA kelas 1 ) hehhe
Ini untuk banyak kasus ya, ogah bertanya karena banyak faktor yang mungkin diciptakan sendiri sebenarnya. Pada banyak kejadian bertanya itu mempunyai banyak sisi baik.

Sebagai orang yang oon rute, saya mesti banget bertanya. Meskipun sudah memiliki smartphone yang dilengkapi dengan GPS, tetap saja bagi saya yang paling meyakinkan adalah bertanya. Jujur, saya ini termasuk orang yang paling payah soal navigasi, belok-belok dikit lupa bahkan di mall pun seringkali tersesat. Untung saya ga gengsian orangnya, karena bagi saya bertanya itu lebih baik daripada so tau tapi salah.

Sebagai perempuan yang kemampuan navigasinya rendah seperti saya, maka tidak lain tidak bukan yang harus diasah adalah kemampuan sosial dalam hal bertanya dan mengingat ( inget-inget setelah itu belok kanan, belok kiri, perempatan dan yang lainnya )
Soal navigasi sih emang mayoritas laki-laki ya jagonya. Tanpa GPS pun jadi, berbekal google maps *itu cara bacanya gimana pih πŸ™

Meskipun pada kondisi tertentu tidak jarang GPS ini pun tidak akurat. Seperti kejadian saat saya dan papi ke Yogyakarta mengandalkan GPS, saya tidak tahu menahu apa soal arah jalan belok dan sebagainya.

Siap-siap ya ceritanya agak creepy

Jadi papi udah langganan tiap mudik pasti ke jateng tepatnya Klaten. Cuma pas io ulang tahun kita berencana untuk traveling saja ke Yogyakarta sambil tes mobil baru ahahhhaΒ  berangkat nya tengah malam dari bandung, papi ini biasanya print google maps juga, cuma entah kenapa saat itu percaya banget sama GPS, berangkatlah kita.
Hingga 4 jam berikutnya suasana berubah menjadi menegangkan. Kiri jalan adalah jurang, kanan adalah hutan. Entah kemana GPS ini menuntun kami, putar balik bukan keputusan yang tepat. Menoleh ke belakang saya tidak melihat ada mobil lain dibelakang kami. Ya, kami hanya sendiri di hutan belantara.
GPS Ohhh GPS..
Tidak cukup dengan hutan, kami tak tahu dimana ini. GPS menunjukan garis tanda jalan, tidak ada keterangan disana. Dan terus maju adalah satu-satunya pilihan, hingga di depan kami tampaklah banyak tanda peringatan ” Daerah Rawan Longsor ” , ” Hati-hati ” dan ada belasan sign jalan bertuliskan ” Jalur Evakuasi ” , belum lagi jalanan yang ancur, batu-baru besar yang terdengar dari bunyinya membaret bagian bawah mobil. Kalau GPS adalah orang sudah saya interogasi sambil saya cekek semenjak tadi — ” ini semua maksudnya apa ”
Saya menangis, dengan io dipelukan.

Setelah memacu mobil selama 2 jam. Barulah ada tanda kehidupan, saya memberanikan diri turun dan bertanya ini dimana, dan bagaimana cara tercepat kami bisa menemukan jalan hotmix. Yang ditanya bingung kayanya, ini subuh-subuh saya nanya — ini dimana mungkin dipikirannya ” lah situ yang jalan napa nanya saya ini dimana ”
Mengingat wajah bapak-bapak tadi, saya ingin tertawa geli. Suasana setelah bertanya agak mencair, meskipun ketegangan masih terasa. GPS kami matikan dan fokus mengingat arahan yang kami dengar tadi ” setelah patung batu besar belok kanan ” begitu katanya. Dipikiran saya patung batu segede apasih, paling maksudnya segede orang atau hewan. Ternyata eh ternyataaaaaa … GUEDE banget, dengan bentuk bulat, tidak membahasnya di dalam mobil, papi langsung belok kanan setelah berkendara mengikuti jalan selama 2 jam nampaklah kerumunan orang.
Aneh, ini sudah pukul 7 pagi di handphone dan jam tangan saya. Tapi gelapnya seperti malam, kemudian saya memutuskan untuk bertanya lagi. Wajah mereka datar menunjuk kesebuah jalan. Buru-buru dan ngebut dan tak menoleh dan byaaaar… Tadaa jam 7.20 terang benderang.
Muncul pertanyaan — Tadi kita dari mana sih sebenernya ?

cari udara segar bersama papi
Setelah berjam-jam berkendara. Bertemulah dengan jalanan yang lebih wajar

Ini pengalaman tersesat saya yang paling menyeramkan, menegangkan. Karena kejadian ini terkuras sudah seluruh konsentrasi, waktu dan bensin. Huhuhuhuhu

Menghirup udara pagi. Melihat lalu lalang sepeda motor dan mobil bak terbuka, ini pertama kalinya saya kembali ditampar harus bahagia dengan banyaknya kehadiran orang lain. Dan papi, dia bilang ” sepertinya kita harus mau bertanya dijalan ” — ternyata bertanya soal jalan tidak terlalu buruk.
Btw ternyata ini jawa tengah. Daerahnya saya lupa.

Berkendara lagi dan beristirahat. Tidak seperti biasanya yang memilih minimarket yang menyediakan kopi dengan mesin, saya dan papi memilih warung kopi pinggir jalan, bercengkrama dan mengobrol banyak hal. Tentang musim buah apa, cuaca, tukang dagang lain, cerita-cerita supir, cerita orang yang mampir diwarung mereka dan banyak hal lagi. Setelah banyak ngobrol ngalor ngidul saya bercerita tentang tersesatnya kami tadi subuh, si pedagang cuma senyum ” alhamdulilah ya neng sekeluarga beruntung ” eeuuummm… sepertinya saya tidak mau kelanjutannya.

Siang hari sampailah kami di kota Yogyakarta. Berkat bertanya karena jujur tingkat kepercayaan kami kepada GPS terjun bebas.

Bertanya jalan tentang jalan tidak terlalu buruk ternyataΒ ” begitu rupanya kata papi. ” emang engga pih, buruk darimana pih ” gumam dalam hati
Esoknya kami keliling kota Yogyakarta, masih dengan bertanya dan mengingat. Mengingat petunjuk jalan dan sekilas dalam peta handphone

Sampai juga di Yogyakarta
Tiba di Yogyakarta

Dari yang awalnya nanya jalan, berkembang menjadi sebuah cerita. Banyak sekali, jika saya tuliskan mungkin bisa ratusan atau mungkin ribuan kisah tercipta. Bertanya bisa mengantarkan kita pada babak baru, misal saat saya dulu tidak memiliki GPS dan hanya memiliki kekuatan bertanya kepada papi tentang arah, dia kemudian akan mengantarkan saya. *sedikit modus dalam cinta diperlukan bukan ? hhehe

Banyak sebenarnya kisah yang bisa kita dapat dengan sebuah sapa dan tanya. Bertanya jalan bagi saya adalah hal yang wajar, karena apa. Selain hemat waktu, itu mengajarkan kita untuk menyadari, kita tak selalu handal dimanapun, tidak semua hal kita ketahui apalagi dalam hal perjalanan.
Karena bertanya bukan tanda orang bodoh, bodoh adalah saat kamu tidak tahu lalu kamu tidak bertanya.
Dan coba bayangkan tiba-tiba hp dan GPS kamu mati atau tidak bisa diakses. Bagaimana menemukan jalan pulang ?
Maka, bertanyalah …

SalamΒ an Kenal,

Yasinta Astuti

 

42 thoughts on “Sepenggal Kisah Bertanya

  1. Hmmm, klo dari analisisku, itu banyak rambu “jalur evakuasi” berarti di sekitaran lereng Merapi ya? Tapi aku nggak pernah tahu ada patung besar di kawasan lereng Merapi.

    Cuma ya karena baca artikel ini jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Aku menemani kawan dari Jakarta yang sedang main di Jogja. Perkara petunjuk arah, dia bersikukuh pakai Google Maps. Sementara aku milih nanya ke warga setempat. Agaknya, orang-orang di kota besar cenderung memilih aplikasi untuk memandu arah ya.

    1. Saya kurang hapal mas nama daerahnya soalnya. Trus waktu itu cahaya nya cuma dari mobil ga ada petunjuk arah itu dimana.
      Soal patung besar saya udah search emang ga ada keterangan tentang hal itu.. huhu Kerasa makin merinding aja bagi saya.
      Kalau soal bertanya emang kembali ke orangnya sih, mungkin sudah terbiasa di manjakan aplikasi mas. Tapi ga semua nya sih hihi
      Makasih mas udah mampir

    1. Teeh akupun serem kalau di ingat-ingat mana itu kan dini hari πŸ™
      eh ayo yuk kapan kita pergi bareng, pake keretaa ajaa

  2. Nice story.
    Btw, kami juga bbrp kali pernah kesasar saat ngandelin GPS.
    Masalahnya, di sini gak ada org yg bs ditanyain dipinggir jalan πŸ˜€

    1. Oh ga ada ya? Jadi gimana mbak kalau kejadiannya nyasar sampe jauh gitu ?
      Saya soalnya ngandelin nanya di pinggir jalan, oon rute >.<

  3. Pengalaman yang sama mba, karena mengandalkan GPS, sampe pernah muter2 di situ2 aja saking pengen menyamakan rute garisnya sama GPS. Bener2 deh πŸ™

  4. mba, saya tuh sejak nikah suka rada parno pergi sendiri. mungkin karena terbiasa sama suami ya pergi2 nya. nah waktu ikut acr blogger pergi sendiri naik CL ternyata ga sesusah itu kalo kita perhatikan tnda jalan dan banyak tanya ya

    1. Iya mbak πŸ™
      GPS sering nyasarin mbak, entahlah..
      Makanya paling bener sepertinya dua-duanya dipakai, GPS dan tanya warga

  5. GPS kadang membantu, tapi kadang malah ngerepotin mba… huhuhu. Soalnya daku pernah nyasar jauuuh gegara GPS. Apalagi kalo rada ke pelosok gitu, mendingan tanya langsung sama orang yang di sekitaran :D.

    1. Iya mbak, sebenernya saya agak kapok sih pake GPS 100%
      emang pernah berhasil tapi kayanya banyak errornya hihi
      Makasih udha mampir

    1. Kalau seacrh sepulang dari Yogya sih katanya itu jalanan Lereng Merapi gitu mbak.
      Boro-boro inget foto2 mbak, ga keliatan apa2. Saya dihutan dan itu dini hari huhuhu

    1. Hehhee iya tuh kemarin kita juga percaya GPS aja dan ternyataa salah besar nyasarnya ampe jauuh bgt
      Makasih mbak udha mampir

  6. Loh ternyata belum meninggalkan komen disini :p

    Baca ceritamu kok langsung merinding, bayangin hal yg enggak2 aduh… gak nyangka ya Yas (aku panggil Yas boleh kan? kita seumuran hohoho) bisa masuk ke hutan dengan jalanan yg ngeri pula.
    Moga menang, aku suka tulisan2 km πŸ™‚
    Intinya, jangan malu bertanya, biar gak sesat di jalan.
    Tanya juga sama BNI kalau masalah2 tabung menabung πŸ™‚ goodluck dear

    1. Oh boleh boleh, aku manggil mei juga ya biar akrab :p
      Ini emang pengalaman yang menyeramkan buat saya huhu, yang ditakutkan adalah begal di tengah hutan, longsor dan banyak pikiran berkecamuk, coba kalau waktu itu nanya sebelum belok, mungkin hal ini gakan terjadi hehhee

      Amin amin, makasih doa nya .. Mei juga sukses selalu ya hihi

  7. Kalau GPS manual itu artinya Gunakan Penduduk Sekitar alias nanya hehehe. Waktu di Bali juga aku pernah nyasar tapi akhirnya berhasil balik setelah nanya-nanya GPS itu tadi wkwkwk… Katanya Waze lebih akurat. Tampilannya juga lebih bagus dan lebih informatif.

  8. Aku selama pakai GPS belum pernah nyasar-nyasar sih kalo di kota besar. Kalo di tempat yang sulit dan desa gitu, nyasarnya kelewatannn. Bikin ilfiil. Untungnya gak pernah pergi jauh

    1. Mak anisa, iya kalau pake gps di jalan besar emang cukup membantu, tapi kalau udah jalan tikus harus tanya penduduk sekitar jadinya hihi

  9. Wahhhh saya mah udah diwanti-wanti sama suami jagan pernah percaya GPS. Malah sebelumnya kita sekeluarga ada nikahan di Jakarta karna pengen cepet kita percayakan jalan2 motong pake GPS, ehhhh bukan untung malah ketemu jalan buntung, mana ga tau ada daerah mana wkwkwkwk. Malkum orang Bandung yang jarang banget ke Jakarta bagian antah berantah, kesasar judulnya. Putar balik jauh banget. Akhirnya setiap masuk jalan baru terpaksa turun dan bertanya, barulah kita dapat pencerahan. Alhamdulillah sampe tujuan dengan selamat.

    Waduh itu teh Nta pengalamannya luar biasa, Allah masih menuntun ke jalan yang benar ya. πŸ™‚ Salam buat iooo yaaa :*

    Salam hangat,
    Zia

    1. Tuh kan serem ya teeh ngandelin GPS teh, yang bener mah sambil pake aplikasi sambil nanya juga ke penduduk biar lancar perjalanannya
      Makasih teh Zia udah mampir .. Salam hangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *