Matahari Untuk Elvira

yasinyasintha, blogger bandung, parenting, menjemur bayi

Yasinyasintha.com – Tidak ada hal yang lebih saya nantikan di pagi hari selain matahari, setelah kehadiran Elvira maka kehadiran matahari ini jadi sangat penting. Apalagi beberapa hari setelah kelahirannya, drama di mulai karena katanya Elvira ini kuning. Salah saya yang kurang membaca dengan seksama tentang bayi baru lahir, sehingga blah bloh ketika dikatakan bahwa Vira ini kuning. Maklum, saya hanya berkaca pada pengalaman io saja yang baik – baik saja sepulang dari klinik. Pernah saya membaca tentang kuning akibat bilirubin yang tinggi, namun hanya sekilas saja karena di masa – masa menjelang melahirkan saya sibuk nulis dan merampungkan beberapa pekerjaan.

Dan tidak ada hal yang lebih menakutkan dari rasa takut kehilangan anak ( lagi ) percayalah, saya mendapati jawaban yang menyakitkan saat bertanya tentang kuning ini pada seorang teman “ Ya bangunin, pokoknya dia harus bangun tha, bayi yang kuning emang gitu cenderung tidur terus. Emang kamu mau baby tidur selamanya ” ( tega banget dia bilang gitu 🙁 dia ga tau rasanya kehilangan anak senyeri apa ) sungguh merinding dan panas kepala saya, panik seketika sedangkan membangunkan Vira pun bukan hal yang mudah, mulai dari mengelitik hingga sedikit dicubit kami lakukan. Kadang berhasil, seringnya tidak. Saya hanya bisa menangis ketakutan, lalu segera ingat bahwa saya ga boleh sedih dan stress. Saya takut ASI saya berkurang bahkan hilang, kembali saya menata diri setiap waktu. Dan percayalah itu tidak mudah sama sekali.

Matahari Untuk Elvira

Karena satu dan lain hal, saya dan papi memang berusaha merawat Vira di rumah. Jemur – ASI – jemur – ASI, berulang begitu terus. Setiap pagi yang saya buru adalah jendela, melihat kemungkinan matahari datang. Jika datang, saya gembira riang seperti anak yang mendapati hadiah sekotak permen. Bukan hanya tentang menjemur Vira, ini tentang baju – baju bayi kecil dan popok – popoknya. Iya, saya memakaikan vira popok kain ( bahkan hingga sekarang, memakai diapers hanya sesekali saja atau kepepet ) ada yang bilang bahwa saya menyulitkan diri sendiri dengan menggunakan popok kain padahal tak ada pengasuh atau art, kembali saya menjadi tuli saja soal itu. Pada kondisi sekarang, sebut saja saya tak punya banyak pilihan.

yasinyasintha, blogger bandung, parenting, menjemur bayi

Jangan ditanya berapa banyak air mata yang tumpah saat melihat mata Elvira-ku keruh, kuning. Dengan kulit dahinya yang juga menguning, juga kulit tubuhnya yang jika sudah saya gendong/pegang meninggalkan bekas lalu kembali menjadi kulit merah. Melihatnya tertidur terus saya sama sekali tidak senang pun dirundung takut, saat ia tidur saya memilih terjaga untuk selalu memastikan bahwa bayi kecil saya masih bernafas, ini hal dan perasaan yang tidak enak bahkan saat saya menulis ini sekarang. Saya dan papi hanya tidur saat benar – benar tidak kuat, saat tubuh kami benar – benar membutuhkannya. Baby blues ? Saya ga punya waktu untuk itu. Selepas Elvira tidur, saya harus bangkit mengurusi rumah semampunya, juga mengurusi iioo yang mendadak sangat baik dan sholeh. Pelipur lara kami, iioo tau bahwa setiap pagi saya memburu matahari dan iioo ikut senang jika matahari datang.

Mami itu lihat. Ada matahari untuk Elvira, sok atuh Elvira dibawa kesini ” kata iioo hampir setiap pagi. Lalu kami berjemur berempat diteras, sepoi angin menggerakan jemuran baju bayi, bergerak memutar serupa mainan gantung. Karena Elvira, mendadak kami sekeluarga suka sekali dengan matahari dan menantinya setiap pagi.

yasinyasintha, blogger bandung, parenting, menjemur bayi
Another morning view :))

 

yasinyasintha, blogger bandung, parenting, menjemur bayi
Matahari Untuk Elvira

Saya sendiri tak pernah benar – benar tahu kapan kuningnya berkurang, kami fokus berusaha saja. Dan kembali dalam doa dan perenungan yang panjang, meyakini bahwa Allah Maha Pengasih dan sepenuhnya hidup saya juga Elvira dan semua orang ada pada genggamannya jadi saya kemudian meyakini apapun yang terjadi itu karena Allah mengasihi saya. Setelah drama – drama kesedihan dan ketakutan merajalela, saat saya kembali pada yang menitipkan Elvira pada kami, saya lebih tenang.

Penantian matahari terus berlanjut hingga saat ini. Saat Elvira berusia 17 hari saya dan papi menemui dokter anak untuk memastikan kesehatannya sekaligus bertanya tentang kuning yang terjadi padanya. Jawabannya sungguh menggembirakan kami ” Ga kok, ga kuning. Kuning segini normal kok ” kata dokter anaknya pada kami. Keluar ruangan dokter, langkah saya rasanya ringan sekali padahal bayar dokter anaknya berat hahaha. Alhamdulilah ini membuktikan bahwa feeling saya dan papi untuk merawat Vira di rumah betul, bahwa benar nyatanya Elvira hanya butuh matahari. Dan keluarganya yang bahagia menyayanginya, bahwa benar kata iioo ” Mami, itu mataharinya datang. Matahari untuk Elvira “

ps. Elvira saat saya menulis ini berumur 1,5 bulan dan sedang tidur lelap dengan pipinya yang seolah menjadi bantalnya sendiri hihi. Dan iioo tidur di sebelahnya, terhalang oleh benteng bantal dan guling yang saya buat. Papi di kantor sedang bekerja, dan saya di sini menuliskannya dengan penuh cinta.
Suatu hari el, jika kalian membaca ini ketahuilah aku adalah mami paling bahagia karena memiliki dua el ( dan ash ) yang begitu hebat dalam menyayangi satu sama lain.

4 thoughts on “Matahari Untuk Elvira

  1. Sehat-sehat yaaa anak-anak baiiik.
    btw, Dulu Akram kuning, sekarang Arfan juga kuning. Anak bayi kuning memang cuma butuh ASI dan matahari pagi dan kasih sayang kita.

  2. Aku tahu gimana rasanya kalo anak sakit ato bahkan meninggal. Rasa2nya jd ada sedikit trauma kalo melihat anak kita yg lain sakit juga yaa. Anak2ku jg sempet kuning 2-2 nya pas baru lahir. tp alhamdullillah ga lama di rawatnya. Pas mereka lahir, sayangnya pas musim hujan 2-2nya mba. Jd aku lbh milih di rawat di rs aja, drpd ngandelin matahari. Beneran susaaah banget matahari kluar waktu itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *