Sebagai Ibu Saya Ini Lemah, Karena Anaklah Kekuatannya

Hanya mau buka isi kepala, hanya membuka isi di dalam dada.

” Iya saya melakukan ini demi anak ” begitu kiranya saya sering dengar dari beberapa teman, sahabat juga kerabat saat kami duduk sharing atau playdate yang kemudian di sisipi oleh curcol ala emak-emak. Jujur saya juga pernah bahkan sering mengucapkan kata yang sama, ” demi anak ”
Saat dulu saya memutuskan untuk ASI Exclusive untuk io yang kemudian berlanjut hingga 2 tahun, saat kemudian saya vakum dari dunia bisnis karena mencurahkan waktu dan tenaga untuk io saat bayi, saat kemudian saya akhirnya keluar lagi untuk bekerja ( sesekali ) untuk io, saat saya mengubur amarah ke palung hati, saat kemudian saya duduk kembali menyamankan diri, dan banyak kejadian lainnya yang di bermuara pada ” demi anak “.
Have a child, take us ( mom ) to another level 

Waktu berjalan…

Pada akhirnya banyak hal membuat saya tersadar, saya salah besar.
Kata ” demi anak ” yang seakan menekankan bahwa anak adalah suatu hal yang lemah yang mesti kita perjuangkan mati-matian agar dia tetap ada ( tapi ada benernya sih ehhe )  dan kita seorang ibu adalah makhluk keren yang bisa melakukan apapun demi dia ( ini bener juga ).
Tapi pada kenyataanya ( menurut saya ) keberadaan anak inilah yang menjadikan seorang ibu kuat memamah apapun di depannya bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun.

Unconditional Love
Unconditional Love

Seumur vio ada, pernah sekali saya jauh dari dia. Seminggu lamanya, mengantarkannya pada ibu saya dengan alasan pekerjaan (maaf mamah ?)
Taukah ? Bahwa saya tak sanggup menelepon siang atau sore, karena mendengar suara io dari kejauhan membuat saya sesegukan. Setiap malam saya menelepon ibu saya, saya menangis hingga terlelap ketiduran.
Nyatanya, saya tidak sekuat yang saya bayangkan.
Bahkan saat saya mendengar bahwa io baik-baik saja, happy-happy saja di sana, saya tetap sedih. Saya lemah jika itu berurusan dengan io.
Hari ketiga dan keempat, saya mulai berani mendengarkan suaranya dari balik telepon, bersenda gurau dari kejauhan. Saya kemudian menjadi kuat lagi, sekali lagi saya lemah kemudian iioo lah yang menguatkan.

Bagi Seorang Ibu, Anak Adalah Kekuatan, Anak Adalah Kelemahan

Ayo jadi kuat bersama nak
Ayo jadi kuat bersama nak

Minggu lalu tepatnya 6 September 2016, iioo masuk RS. Jangan ditanya bentuk saya seperti apa sudah pasti chaos banget, saya tidak panik. Hanya patah hati
Melihat beberapa kali jarum di tusukkan kebalik kulitnya, melihat darahnya di ambil saya patah, patah yang sepatah-patahnya, hal sama yang saya alami tahun lalu saat io juga harus di rawat. Tapi nyatanya saya masih mampu bilang ” iioo anak jagoan, ada mami ” begitu saya bilang di depan para perawat. Yang sebenarnya ingin saya katakan adalah ” iioo kuat ya, kuatkan mami “.
Saya terlalu lemah untuk mengatakan yang sebenarnya di depan orang lain.

Lalu kami di antarkan ke lantai 4 rumah sakit Advent, ia tidak mau lepas dari pelukan saya, dia mulai lemas lagi setelah muntah-muntahnya kembali menjadi. Berada di pelukan saya, dada saya bergetar. Sebenernya saya sedang tak sehat juga. Tapi saya harus kuat.
Menjadi ibu luar biasa sekali, saya seperti dapat supply tenaga yang entah dari mana datangnya, menggendong dan menjaganya semalaman hingga mungkin dari total di rawat 3 hari 2 malam, saya hanya tidur beberapa jam saja. Biasanya saya akan lemas ketika kurang tidur, makan berantakan dll tapi tidak kali ini. Tidak saat io sakit, saya yang lemah kemudian bisa menjadi kuat. See your child is your power. 

Melihatnya kembali ceria saya yang patah, kembali tumbuh. iioo adalah sumber kekuatan saya, pada banyak peristiwa.

Anak adalah kelemahan, seorang ibu adalah manusia juga. Meski multitalenta, hati kami mudah terluka. Saat seseorang melukai hati saya dengan parah, mungkin di dalam hati keluar sumpah serapah hingga janji tak ingin peduli atau baik lagi. Tapi ketika saya melihat orang tersebut mampu membuat iioo bahagia, saya kalah. Saya mengalah, saya lemah pada keceriaannya. Yang mampu mencairkan gunung es kekecewaan di hati saya hanya dengan satu tawa lebarnya bersama orang lain.
Saya hanya baik kepada orang yang baik kepada iioo. Tak masalah jika ia tidak terlalu menyukai atau menyayangi saya, tapi ketika ia bisa menyayangi io saya akan selalu berusaha baik kepadanya.

Mungkin harus saya bilang kepada ibu saya, yang sering kali mengirimi pesan  ” jaga io baik – baik ” sejatinya iioo lah yang menjaga saya.
Saya kemudian mengerti kenapa ( maaf ) ada seorang ibu yang hilang akal ketika kehilangan anak, karena anak menjaga kita tetap waras.
Satu lagi cerita menampar saya tentang anak adalah kekuatan, peristiwa menyakitkan yang lanjut menjadi beban pikiran, sejurus kemudian lalu ada hawa panas menjalar tulang punggung hingga tengkuk leher, pandangan saya lalu kabur dan berganti larik warna biru ungu, saya tidak bisa melihat apapun. Ada titik di mana saya hanya mendengar io memanggil ” miiiiiiiih ” seketika saya istigfar, menangis tertahan.

Saya tidak jadi gila. Hahahha
Ini curhat nanggung banget yah hahha !

Hey boy, keep us happy ya! 
I love you

———————————————————————–

you know me so well boy
you know me so well boy

Dear io,

Untukmu, cinta mami ini tidak bersyarat
Mami adalah rumah tempat engkau akan pulang kapan saja engkau mau
Mami adalah orang yang pertama berdarah ketika engkau terluka
Mami adalah orang yang tak henti mengucap namamu di dalam doa.

Tuhan adalah sebaik-baiknya penjaga, namun engkau adalah sebaik-baiknya penghiburan. 
Tuhan adalah sebaik-baiknya penjaga, namun engkau adalah sehebat-hebatnya kekuatan 
Berjanjilah nak, engkau akan menjaga mami tetap ada, tetap sadar menginjak bumi di mana kita biasa berjalan.
Engkau adalah menjadi sebaik-baiknya hal yang pernah terjadi pada mami. 

Always with love, 

mami

 

30 thoughts on “Sebagai Ibu Saya Ini Lemah, Karena Anaklah Kekuatannya

  1. Meleleeeh baca ini. Bener banget Teh. Anak itu anugerah yang entah bagaimana caranya makhluk kecil itu bisa membuat hidup orangtuanya menjadi penuh warna. Bagi saya, anak itu laksana cermin yang dikasih sama Tuhan. Setiap tindak tanduk kita, akan langsung terlihat di diri anak2. Kalau dipikir2 ngeri ya. Tapi itu jalan agar kita bisa terus lebih baik dari hari ke hari. Semoga! 🙂

    1. Iya mbak Rotun, ketika udh punya anak tindak tanduk bener-bener harus di jaga
      Semoga kita semua adalah teladan yang baik untuk anak-anak kita, amin

  2. Aku ngerti bngt rasanya mbak :). Dengan anak yg kedua ini, akupun ngerasa lbh deket, lbh srg kangen dgr celotehannya, pgn slaku cepet balik dr kantor.. padahl nth kenapa jujur ya, ama anak pertama g sampe segitunya.. berasa ada hilang aja kalo ga bisa dgr suara si baby.. td pagi malah sampe drama ,krn tumben2an dia ga mw digendong ama babysitternya, dan cm ama aku :(. Ini yaa yg berat bgt mw k kantor jadinya

    1. Saya suka merasakan itu mbak, setiap antar sekolah io dan io nya nangis ga mau pisah lalu saya akan menangis di depan laptop saat sampai rumah. Jadi ibu ya begini, sensitif banget perasaannya

  3. Gapapa teh sinta kalo kataku mah, mau nuangkan uneg uneg di blog itu hak kita, toh setelahnya perasaan jadi ringan…btw saamaan momennta, akupun baru selese ngurusin misua yg rawat inap di Rs, jadi sama kayak mb sinta…chaosnya kek apa , hug :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *