Selamat Satu Tahun Elvira !

Yasinyasintha.com – Tahun adalah satuan perhitungan waktu yang paling mudah untuk mengukur seberapa pendek dan panjang sebuah perjalanan dan ingatan mematri hari menjadi minggu dan menjadi bulan kemudian menjelma menjadi tahun. Betapa banyak yang sudah kita lewati bersama, mulai saat berupa kantong, lalu berdenyut lalu membentuk lalu lahir. Cintaku dan papi, sudah pasti paling sejati.

Aku menyiapkan tulisan ini untuk engkau baca suatu hari, juga untuk diriku sendiri karena katanya aku bakal merindukan masa kecilmu nanti. Aku yakin itu memang terjadi, serupa aku merindukan tangan mungil yang hanya bisa meraba kini aktif mampu menggenggam dan bertepuk tangan.

Iiaa, kamu itu peri kami. Dikandung dengan kekuatan dan keyakinan bahwa semua akan baik – baik saja. Malam – malam mengandungmu adalah berarti malam – malam kurang tidur karena aku menulis hingga larut, adalah berarti aku bersujud lebih lama agar Allah menjaga kita semua sebagai keluarga, malam – malam aku ikhlas dengan apapun yang terjadi, yang sudah dan yang akan terjadi.

Kamu baik sekali sedari di perutku nak, tak pernah sekalipun aku muntah – muntah. Kejadian gejala dbd saat aku mengandungmu membuatmu semakin kuat. 9 bulan yang singkat dan penuh perjuangan, tabungan kami nyaris nol menyambutmu. Mami dan papi mati – mati an menghemat dan mencari beberapa pekerjaan tambahan setelah beberapa rencana gagal total menyisakan kami yang semakin terpuruk dan sedih. Aku tak pernah sedih lama berkat kamu dan mas mu loh, kalian adalah harapan juga kekuatan.

Aku dan papi harus menjual printer yang kami idamkan untuk bekal persalinan dan membeli perlengkapan bayi. Kami masih memiliki beberapa hutang yang melilit kami, apapun kami jual asal keluarga ini tetap bersama, Allah tengah menggulirkan rodanya dan kami ada di bawah, titik terendah. Apakah itu buruk ? Tidak semuanya, karena kami jadi tau betul siapa sebenarnya teman kami. Percayalah bahwa pepatah yang mengatakan bahwa keluarga dan saudara bukan hanya soal darah adalah nyata.

Sehari sebelum lahir kita masih bisa membuat video tentang taekwondo, pulangnya ikut papi nongkrong di stasion radio amatir. Di hari kamu lahir, mami masih bisa menunggui tukang rumput membereskan kebun, masih sempat mandi air hangat, sholat dzuhur hingga menyuapi mas io sebelum akhirnya ke bidan.

Kamu persis seperti yang kita kompromikan saat di perut mami, iiaa akan membantu mami lahir dengan mudah dan lancar dan sakitnya takkan lama. Benar saja, Allah Maha Baik ya ia.

iiaa, bulan – bulan awal kamu lahir, papi kemudian memutuskan untuk kerja di Jakarta, lalu di rumah kita bertiga saja banyak berdoa dan banyak waspada. Sesekali adik mami, om Depi datang menemani kita. Allah tidak pernah tidur ia, doa – doa kita dikabul satu demi satu. Juga buah dari doa nenek dan yangti yang tak pernah putus mendoakan kita. Akhir tahun kemarin papi udah ga di Jakarta lagi, ia dan mas io bisa sering main sama papi lagi. 

Iiaa, hari ini adalah hari kelahiranmu nak. Banyak doa terpanjat, saking panjang dan dalam rasanya tak bisa mami tuliskan di sini. Segala yang terbaik untukmu nak, dan semoga engkau panjang umur, shalehah dan sehat. Semoga engkau dilingkupi dengan kebahagiaan dan senantiasa disayang Allah.

Iiaa, mami sangat menyayangimu. Sebanyak yang mami bisa, sekuat yang mami mampu. Sebanyak – banyaknya satuan yang bisa dihitung sehingga angka tak akan pernah bisa menandinginya.

Iiaa, hari ini adalah hari ulang tahunmu. Satu tahun kita sudah bersama, ini ulang tahun kita bersama ya sayang. Satu tahun mami jadi ibu ia dan io. Satu tahun papi jadi ayah ia dan io. Satu tahun mas io jadi kakak ia. Semoga tahun – tahun di depan yang menyongsong kita dan kamu adalah tahun – tahun cerah penuh ceria, dan semoga mami dan papi senantiasa bisa mendidik dan menuntun ia, mengantarkan ia menuju cita – cita, ia pun sama semoga menjadi anak yang dapat mengantarkan kami ke syurga Allah nanti. 

Peluk cium,

Mami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *