What Make Me Human

what make me human

Ini akan jadi tulisan curhat dan pemikiran. Saya menuliskannya di awal, karena entah bagaimana nanti tulisan ini akan mengalir. Tentang apa yang menjadikan saya manusia, Anda yang membaca tidak harus setuju. Membaca ini artinya Anda bersiap untuk berpikiran terbuka, apapun pilihan kita benar. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya, seperti kata Thanos : We are all bad in someone’s story. Saya tidak tau, di kisah siapa saja saya yang jahat.

What Make Me Human

Merasakan Sakit 

Bertahun – tahun yang lalu, saya tidak diperbolehkan merasa sakit. Secara langsung, tidak ada yang melarangnya. Tapi itu tumbuh begitu saja, tidak boleh merasa sedih. Mungkin bisa saja berasal dari tulisan di sebuah foto yang dulu saya temukan di kamar teteh ketika masih kecil, tertulis di sana kata – katanya masih melekat di ingatan. Begini bunyinya :

Simpan air mata itu untuk sendiri 
Jangan biarkan orang tau kamu selalu menangis
Biarkan orang tau, kamu adalah Weni Widia Astuti yang periang 

Saya melakukan hal yang sama. Menuliskan itu persis begitu setiap katanya, kecuali di bagian nama. Saya ganti dengan nama saya sendiri, Yasinta Astuti. Setelahnya, hidup bergulir dengan berbagai prahara. Secara tidak langsung, saya tidak pernah merasakan sakit hati lagi, bahkan asal Anda tau, saya pernah kesulitan menangis sampai panik. Sampai benar-benar panik, kenapa tidak ada air mata. Membayangkan hal sedih tidak membuat saya menangis, menonton film menyentuh tidak membuat saya terharu.

Puncaknya adalah saya mati rasa, dan itu saat remaja. Saya kehilangan empati, hanya berteman dengan segelintir orang saja. Melihat orang sakit atau malang, saya tidak simpati, itu bukan saya dan bukan urusan saya. Saya juga tidak banyak bicara. Waktu luang saya dihabiskan dengan membaca dan prakarya, tidak suka diganggu. Bahkan ada masa terganggu ketika ada yang bertanya atau sekedar basa basi.

Masanya berubah saya menjadi periang sekali. Itu kelas 3 SMP, saya kehilangan salah satu sahabat baik hanya karena bingung harus bagaimana ketika dia kehilangan ibunya. Dia mungkin kecewa saya seolah tak punya hati karena tak menangis bersamanya, dan tidak ada di sana saat kehilangan terbesarnya, dia memberikan buku Yasin di 40 hari ibunya. Bukunya masih ada, saya pelihara dan jaga hingga sekarang. Yang ia tidak tau adalah saya bingung bagaimana harus berduka. Saya tidak tau cara mengeluarkan air mata.

Saya lupa sih kapan menjadi manusia lagi dan merasa boleh merasakan sakit. Yang bisa merasakan berbagai emosi selain bingung dan riang. Mungkin jika boleh berkomentar sekarang, saya menjadi riang selalu agar disukai. Hidup saya saat itu untuk ukuran remaja mungkin cukup menyedihkan sehingga merasa tak perlu menjualnya juga.

Maka maklumi jika hari ini saya mengizinkan diri saya merasakan sakit. Karena dari sakit itu tumbuh kekuatan baru, saya juga mengenal diri saya sendiri lebih jauh lagi. Saya bisa menulis lebih banyak tentang berbagai hal. Tak cuma curhat kesedihan itu sendiri, bisa saja ingatan baik dan indah di masa lampau yang saya tulis di buku journal.

Saya menerima ketika merasa fisik saya kurang fit, saya terima. Ini adalah tanda saya manusia, bahkan beberapa hari yang lalu saya dibuat kaget sendiri karena jatuh di depan kamar mandi. Iya, saya sedang kurang fit sehingga jatuh. Saya menerima sembari menganalisa, kenapa dan harus apa. Sakit membuat saya sadar, saya manusia yang punya batas tenaga. Tak bisa forsir, tubuh saya butuh istirahat pula. Dan jika sakit, mari pulihkan dan bangkit ketika benar-benar fit.

Merasakan sakit, membuat saya merasa : Ya, saya manusia. Wajar jika sakit, baik itu psikis maupun fisik. Tapi akan menemukan cara untuk sembuh, pulih dan bangkit. Bahwa sakit itu tidak apa, asal jangan lama. Dan saya tak boleh berhenti berharap dan berusaha.

Tidak Baik – Baik Saja

” Aku rapopo ” itu terdengar getir bagi saya. Karena saya tau, biasanya justru ada sesuatu. Kadang mengatakan “ya aku lagi ga baik-baik aja, minta ruang ya” itu tidak apa-apa. Shit happen, ga semua rencana berjalan seperti seharusnya dan bohong jika merasa tidak apa-apa. Kadang pada orang – orang tertentu bisa mengakui : ” Ya nih, aku lagi ga baik-baik aja. Tapi tenang, tar pasti nemu cara kok ”

Yang sulit itu menemukan motivasi diri, dan motivasi diri terbaik ya berasal dari diri sendiri. Bukan dari siapapun, bukan dengan bilang bahwa saya tidak apa-apa. Jujur pada diri sendiri itu penting, termasuk di dalamnya merasa lelah atau overwhelming, akui saja. Itu tidak melukai, justru itu tandanya saya mengenal diri saya lalu tau apa yang harus dilakukan. Akan jauh lebih buruk bilang aku baik-baik saja, tapi hati tidak tenang, uring-uringan, lalu bertanya : Akutu gatau aku kenapa.

Merasa tidak baik-baik saja make me human. Ini sepenuhnya membuat saya jadi manusia yang menyadari kita hanya bisa berusaha, berencana dan punya batas dan harus tau kapan berhenti. Saya tidak pernah terluka dengan menyadari sedang tak baik – baik saja, itu membuat saya menjadi manusia hari ini yang berpikir lebih matang harus bagaimana agar tak terjadi lagi.

Tidak Selalu Positif 

Berpikiran positif itu baik, sungguh itu baik. Tapi positif setiap saat, apa Anda tidak lelah? Bagus kalau tidak, karena saya belum bisa. Ada masa dimana bahkan saya merasa langit saja runtuh, dan menimpa saya yang ada di bawah sedang jatuh Ada masa dimana saya menangis semalaman karena kecewa, ada masa dimana saya menyesali sesuatu atau merasa tidak baik sebagai seorang anak, sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri atau sebagai sekedar seorang teman.

Emang kenapa kalau tidak selalu positif? Saya manusia bukan komputer yang bisa diprogram if something goes wrong you will keep smile. Saya tidak selalu jadi quote if life give you lemon make lemonade. Saya kadang adalah orang yang menangis ketika something goes wrong, merutuki ini kenapa bisa begini bisa begitu. Saya kadang adalah orang yang menciutkan wajah karena harus menelan asam pahitnya lemon tanpa sempat membuat lemonade.

Anda boleh tidak setuju, tapi bagi saya hidup bukanlah tentang selalu berpikir positif. Tapi hidup kadang adalah tentang Anda harus menerima lalu mencari sisi positif bahkan saat pikiran Anda negatif/ pesimis sekalipun.

So What Me You Human ?

Saya ingin menjadi diri saya sendiri, karena itu tidak membutuhkan banyak energi. Saya tak ingin lagi memaksakan diri berjuang membohongi diri hanya agar orang lain menyukai saya. Bagi saya ketika saya menjadi diri saya sendiri dan ada orang yang menerimanya, dia adalah orang yang cocok dengan saya. Tidak mencoba merubah saya menjadi hitam atau putih yang bukan saya.

Terdapat perbedaan pada orang yang bisa mendorong Anda menjadi pribadi lebih baik dengan mereka yang menerima Anda apa adanya. Kualitas diri memang harus didorong, tapi pada prosesnya mereka takkan membuat Anda kehilangan diri Anda. Karena mereka ini tahu betul seperti quote yang pernah saya baca, bahwa menjadi diri sendiri di dunia yang terus menerus berusaha menjadikan Anda sesuatu yang lain adalah pencapaian yang besar.

Waw senangnya bisa menuliskan tentang curhatan di sini, jujur puas sekali dengan akhir tulisan saya sendiri. Saya bahkan tidak menyangka bisa menuliskannya hingga lebih dari seribu kata.

Sekali lagi, Anda tak harus setuju dengan apa yang saya tuliskan. Perbedaan adalah hal yang biasa, tak ada yang benar-benar salah atau benar-benar salah dalam apa yang saya dan Anda yakini. Saya berdiri di jalan ini, Anda di jalan yang lain dan kita masih sama-sama bisa sampai pada tujuan masing-masing.

So if you want, you can share with me what make you human ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *