Apa Kabar, Yasinta ?

Hello, apa kabar mu ? Pertanyaan sama saya lontarkan pada diri sendiri. Alih-alih menanyakannya pada orang lain, sepertinya saya yang sering memulai chat dengan kalimat, ” hello apa kabar ” ke orang lain harus adil pada diri sendiri dengan menanyakannya pada diri sendiri.

Apa Kabar, Yasinta ?

Saat menulis ini kabar saya baik, lebih sehat karena elergi dingin saya entah bagaimana sembuh secara tak terduga setelah peristiwa semut masuk telinga. Saya lebih damai dan tenang, walaupun tanggung jawab pekerjaan ( rumah ) dan peran sebagai orang tua, istri semakin besar.

Sudah lama rasanya tak menulis tentang diri sendiri dari hati, kali ini tak usah berpikir tulisan ini akankah seo friendlu, sejatinya blog ini adalah rumah (online) saya. Maka jangan heran jika menemukan sepenggal atau beberapa penggal kisah konyol atau tak penting yang ada, terkadang saya menulis untuk saya baca sendiri di kemudian hari. Seperti tulisan ini.

Saya pernah mengalami masa buruk, yang entah bagaimana ceritanya saya sering merutuki diri sendiri dan merasa paling kerdil. Sedih terus menerus dan senang sesekali, obatnya ? Tak ada yang istimewa kecuali membaca blog saya sendiri, lalu menemukan postingan ini :

Ceuk Bapak ” Hujan Ge Aya Raatna “

Mengapa saya harus bersedih sementara hidup ini memang tentang menjalani ketidakpastian karena semuanya sifatnya sementara, hanya tinggal waktu sedih akan berganti suka, begitupun sebaliknya. Saya terperangah tiba-tiba, ingin sekali menggenggam tangan Bapak dari dekat, menghaturkan ribuan terima kasih telah mengajarkan hal yang sangat dalam, jauh sebelum saya mengenal dan menjalani berbagai peran.

Orang bilang bahagia itu sederhana ( saya juga suka bilang gitu ) nyatanya bisa memandang seperti itu karena kita mengubah sudut pandang kita dari apapun yang terjadi. Maka, jika roda tengah berputar menggencet saya di bawah. Yang harus saya lakukan adalah memperbaiki sudut pandang, bahwa saya sedang belajar menyentuh tanah, agar penuh syukur saat nanti naik lagi.

Oya saya juga mulai menuliskan jurnal, isinya random tapi teratur pada satu hal. Saya rutin menuliskan minimal 3 hal yang membuat saya bahagia, daftarnya bisa lebih dari tiga tapi jika waktunya sedang mepet saya terbantu dengan hanya menuliskan 3 saja. Ini membuat saya penuh syukur dan memandang segala sesuatu dari sudut yang lebih baik untuk diri saya.

Sudah dulu ya, di sini sudah adzan subuh. Saya ada janji ketemu denganNya, lalu lanjut beberes rumah dan menyiapkan kebutuhan io sekolah.

Kamu yang baca, semoga terus mampu memandang sudut dari sisi yang baik untuk diri kamu ya, yang baik untuk kebahagiaan kamu. Percaya deh, nanti kamu damai dan tenang, seperti saya sekarang.

Senin, 17 Februari 2020 ( 04:40 )

17 thoughts on “Apa Kabar, Yasinta ?

  1. Haha… kalau saya hanya membatin bertanya perihal kabar saya sendiri. Anehnya, kadang pertanyaan itu muncul disepertiga malam. Pertanyaan tentang kabar, dan kontemplasi perjalanan hidup, yang tak jarang membuatku menitikan air mata…

    1. Tak apa mas, setelah galau menitikkan air mata kan jadi lebih kuat setelahnya. Semangat selalu, jangan lupa diri kita ini sama pentingnya dengan orang – orang yang kita tanyakan kabarnya.

  2. Bahagia itu diciptakan dan lahir dari pikiran ya Mbak Yas. Saya sendiri pun masih terus berusaha untuk selalu berpikir postif dalam menanggapi segala hal, dan sepertinya itu bisa membantu kita untuk tetap bahagia. Kalaupun hasilnya kadang tidak sesuai harapan, ya anggap saja belum rezeki kita.

    1. ahh iyaa mbak Ulfah, terima kasih ya ini pengingat saya juga kalau emang harus legowo ga ngeyel maksain sesuatu

  3. “Menulis jurnal” juga pernah saya lakukan Mba Yas. Dulu banget saat sedang kurang stabil kondisi hati dan pikiran.Nulis hal-hal kecil yang di syukuri setiap hari ternyata ampuh ya jadi terapi buat jiwa.

  4. Wah, suka terlupa menanyakan kabar diri sendiri. Baiklah, mari kita tanyakan kabar diriku pagi ini. Sehat? Alhamdulillah, iya. Tapi baik-baik aja sih nggak. Rasanya kepala penuh dengan daftar keinginan yang belum terwujud. Ingin begini, ingin begitu. Kadang lelah sendiri jadinya.

    Tapi melihat anak-anak di samping, mereka itu anugerah terindah. Jadi, kalau yang sekarang belum tercapai, mungkin belum masanya aku memperoleh itu ya, Teh.

  5. Tidak ada kehidupan selalu senang, tidak ada kehidupan selalu sedih.
    Ujian senang atau sedih selalu ada. Berproses melaluinya dengan baik itulah yang terus dipelajari. Kalau di tanya apa kabar Helen ?. Aku jawab, “Aku bahagia, mbak”.
    He he he

  6. Benar sih. Terkadang kita sibuk memikirkan bagaimana kabar orang lain. Terlebih kabar doi yang tak kunjung berkabar. Sehingga kita lupa, bagaimana kabar kita sendiri?

    Baiklah, kini yuni akan mulai juga memikirkan perasaan diri untuk pribadi. Agar lebih seimbang.

  7. Peluk Mba Sinta dari jauh… Kadang-kadang aku juga ngerasa sendu gitu pas flashback cerita masa lalu. Tapi yang kayak gitu tu bikin kita bisa bersyukur kalau hidup kita ini berharga ya. Setiap cerita yang dulu terasa menyakitkan, sekarang jadi sebuah kisah lucu yang kita dongengkan dengan santai. Sebab beban itu sudah terangkat .. Stay strong Mba Sin.. and keep inspiring!

  8. Membaca ini aku jadi teringat buku diary ku, entah di mana sekarang. Benar mb, membaca kembali apa2 yang pernah kita tulis bahwa kita dulu pernah berada dalam kondisi paling tidak mengenakkan, tapi kita berhasil survive. Membacanya saja bisa memantik kembali semangat.

  9. Bener juga, tulisan kayak gini bikin kuat. Bikin semangat untuk bangkit jika suatu saat sedang di bawah. Aku juga kadang lupa menulis seperti ini. Dari hati, penuh rasa.

  10. Teteh, yang seperti ini juga penting banget buat saya. Menulis untuk merenungi diri, lalu jadi merasa lebih bahagia. Saya pun sedang ingin menulis yang lebih bisa menyehatkan jiwa 🙂 Met berbahagia, Teh 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *