Singkong, Antara Pangan dari Hutan dan Sebongkah Kenangan

singkong bakar, yasinyasintha

Yasinyasintha.com – Hari masih gelap, tapi di dapur sudah riuh sekali. Ada teteh yang sedang mengiris singkong tipis-tipis untuk kemudian direndam di air kapur sirih lalu dijadikan keripik. Ada Mamah yang sedang memarut singkong untuk dijadikan penganan berupa combro dan misro yang dijajakan. Saya tak pernah terlalu kecil untuk membantu, tak pernah terlalu kecil untuk mengingat, memori tentang singkong.

Umbi Si Penolong Itu Bernama Singkong

Jika harus berterima kasih pada sesuatu berupa bahan makanan, maka itu adalah singkong. Keluarga saya sering menikmati hasil masakan Bapak berupa tumis kulit singkong atau olahan singkong lainnya. Kami sekeluarga sangat familiar dengan segala makanan dari singkong. Bahkan pada masa – masa kelam saat masih kecil, singkong seringkali hadir di pagi dan sore hari dalam bentuk putih bersih berupa singkong kukus, atau kuning kecoklatan kadang gosong berupa singkong goreng yang dijadikan pengganjal perut.

Di hari yang lain, Bapak mencoba membuat tape singkong atau dikenal dengan nama peuyeum. Saya dan Obi ( kakak saya ) dengan senang hati menjajakan sambil main keliling kampung membawa peuyeum goreng bertabur gula putih atau peuyeum goreng tepung. Tak jarang kami dibantu teman-teman sebaya menjajakan hingga bisa sampai ke kampung sebelah, jika dagangan kami laris. Saya punya dua kebahagiaan, pertama Bapak dan Mamah senang dan mengizinkan kami nonton TV sampai malam. Kedua, kami dapat uang jajan lebih keesokan harinya.

singkong bakar, yasinyasintha
Sesekali saya suka bikin olahan singkong ini : Peuyeum goreng, selain rasanya enak seringkali berhasil mengobati rindu pada Bapak

Singkong hampir selalu ada dalam berbagai masa di keluarga, pernah pula kami memang hanya makan singkong. Entah Mamah dan Bapak sengaja tak masak nasi atau emang tak ada beras, yang jelas beberapa hari itu saya dapat pengetahuan baru dari Mamah yang bilang katanya singkong lebih mengenyangkan dari nasi, lebih baik gizi dan seratnya dari nasi putih.

Ada masa saya merasa benci dan bosan melihat singkong, makan singkong, daun singkong, dan mengolah singkong. Tahun-tahun berganti, hidup kami membaik saat itu saya SMP, benar kata Bapak tak pernah ada hujan yang selamanya turun. Di hari lain , masih tentang singkong, saya juga tahu bahwa yang dikatakan ibu saya dulu adalah benar, bahwa mengkonsumsi singkong nyatanya lebih sehat dari nasi putih.

daun singkong
Dulu bosen dan pernah benci sama daun singkong, sekarang ini yang dicari kalau ke warung

Singkong hadir lagi dalam bentuk filosofi, saya lupa tepatnya kapan. Tapi Bapak pernah bilang bahwa hidup harus seperti singkong, bisa tumbuh di mana saja dalam keadaan apa saja. Bisa tumbuh tinggi tapi akarnya tetap memberi manfaat, singkong ini jadi senjata Bapak untuk menanamkan nilai pada anak-anaknya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat, ya seperti singkong.

Singkong, Pangan Dari Hutan untuk Kaum Alit dan Elit

peuyeum singkong - yasinta astuti
Penjual peuyeum singkong dekat warung langganan saya

Pergi ke kampung sudah pasti bisa bertemu dengan berbagai olahan singkong mulai dari gorengan seperti combro, hingga menjadi tape singkong alias peuyeum. Lalu j jika jalan-jalan ke mall, makanan dari singkong sering pula kita temui, diolah menjadi keripik dengan berbagai bumbu sebagai makeup, dikemas dengan apik dan voila ! dinikmati berbagai kalangan.

Tengok pula produsen – produsen kue besar yang mengeluarkan inovasi kue kering dengan bahan dasar tepung mocaf alias Modified Cassava Flour alias tepung singkong yang digadang lebih sehat dari tepung terigu pada umumnya. Boom ! Harganya premium, dinikmati kaum elit.

kue dari tepung singkong
Salah satu produsen kue premium menggunakan tepung singkong atau mocaf sebagai pengganti terigu

Singkong memang identik dengan kaum alit, menggambarkan kesederhanaan padahal di balik itu manfaatnya sungguh tak kalah dengan bahan makanan lain ya, salah satu hasil hutan ini mampu menjelma menjadi pangan, diolah melalu proses yang panjang atau diolah sederhana. Singkong selalu punya tempat tersendiri bagi penggemarnya.

Ibu saya benar tentang singkong yang kaya manfaat, bukan sekedar kalimat penghibur karena anak-anaknya tak henti bertanya kemana nasi putih yang biasanya kala itu tak ada. Karena kenyataannya singkong memiliki kandungan karbohidrat, protein, serat, mineral termasuk kalium, magnesium, fosfor dan kalsium, vitamin A dan C dan mengandung air.

singkong
sumber gambar : halodoc

Dilansir dari halodoc.com, alodokter.com dan dream.co.id singkong memiliki manfaat diantaranya:

  • Tinggi serat, kita seringkali menggaungkan mengenai keharusan mengkonsumsi makanan tinggi serat. Mengapa tak coba sesekali mengganti nasi putih dengan singkong, kandungan serat yang tinggi pada singkong baik untuk pencernaan bahkan bisa menekan terjadinya peradangan. Selain itu karena kandungan seratnya yang tinggi, singkong bisa mengurangi risiko terjadinya obesitas dan diabetes tipe 2
  • Menguatkan imunitas tubuh, karena kandungan vitamin A dan C pada singkong bisa membantu melindungi tubuh dari virus, bakteri dan masalah akibat radikal bebas
  • Baik untuk kesehatan mata, mari kenalkan anak-anak pada singkong dan makan singkong bersama. Tak hanya keakraban tercipta, kandungan vitamin A nya pun baik untuk mata
  • Sebagai sumber pangan dari hutan yang mengandung beta-karoten, singkong baik untuk penderita gejala asma, mengurangi risiko kanker serta baik untuk kesehatan kulit.
walhi - yasinta astuti
Saya dan olahan singkong berupa peuyeum

Bagi saya pribadi, selain manfaatnya singkong ini mudah didapat dan harganya sangat terjangkau serta mudah diolah menjadi berbagai hidangan. Saya beruntung karena telah melihat dan terbiasa ikut mengolah singkong dari kecil, sehingga sudah familiar dengan pengolahan singkong ini. Bahwa singkong ini tak boleh dimakan mentah-mentah, harus melewati diolah terlebih dahulu.

Pertama, kupas kulitnya dan lepaskan. Singkong yang bagus akan memiliki warna batang yang putih bersih. Rendam dalam air bersih untuk menghilangkan zat berbahaya yang terkandung didalamnya. Setelah itu kita bisa lanjut memasaknya, entah itu digoreng, direbus atau dikukus atau dibuat makanan lain.

Olahan Singkong Favorit

pangan dari hutan - peuyeum
Makanan favorit saya dari singkong : Peuyeum

Me time saya sederhana saja, menikmati olahan singkong berupa peuyeum yang baru dibeli dari penjual di depan warung ditemani teh tawar hangat di meja makan. Kadang peuyeumnya ini saya goreng agak gosong terlebih dahulu, di atasnya saya taburkan gula pasir, persis seperti dulu saat Bapak membuatkannya untuk saya, untuk kami.

Rasanya manis asam lembut, bagian gosongnya justru jadi penambah rasa nikmat peuyeum ini, favorit saya. Singkong yang telah diolah ini seringkali membawa kenangan – kenangan lama. Memang ya makanan erat sekali dengan ingatan, dengan kenangan.

Di waktu lain sering juga saya menikmati keripik singkong. Kalau yang ini anak saya, io juga suka bahkan tak bisa berhenti mengunyah, jadi teman asik buat nonton serial superhero favoritnya. Saya membelinya dari Pak Baron, penjual keripik singkong langganan saya, 10 ribu dapat satu plastik. Terjangkau untuk cemilan kami sekeluarga.

keripik singkong, yasinyasintha
Keripik singkong langganan saya, keripik Pak Baron

Keripik singkong ini emang jadi juara ya, rasanya cocok dipadukan dengan apa saja. Mulai dari asin, pedas, keju manis atau balado. Dan saya hampir suka semua makanan yang terbuat dari singkong, singkong goreng atau rebus combro, misro, serawut alias asrah, singkong keju, singkong thailand, you name it lah saya suka semua.

WALHI dan Hutan Sebagai Sumber Pangan

walhi - yasinyasintha
Walhi – Wahana Lingkungan Hidup

Hutan adalah rumah, bagi berbagai mahkluk hidup eksotis, bagi banyak tanaman yang bisa menjadi sumber pangan. Mulai dari buah, daun hingga umbi-umbian. Hutan adalah sumber pangan, jika kita menyadari bahwa banyak sekali pangan berasal dari hutan maka kelestarian hutan harusnya tak perlu kita khawatirkan.

Andai semua orang tau jika hutan menyimpan ragam kekayaan hayati dan perlu dijaga, pasti akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan lingkungan dan gaya hidup sehat. Ahh sudahlah kita sudah lama seharusnya melihat secara dalam sampai kapan akan melukai alam dengan pembangunan.

hutan - yasinyasintha
Saya dan hutan, beberapa tahun yang lalu

Saya pernah membaca sebuah quote yang jleb banget soal perlunya melestarikan alam berbunyi :

” Only when the last tree has died and the last river been poisoned and the last fish been caught, will we realize we cannot eat money “

Hutan sebagai sumber pangan seharusnya bisa diwujudkan, pelestariannya seharusnya bisa galakkan dan disadari berbagai lapisan. Dalam sebuah jurnal yang saya baca, menurut Kuswiyati dalam Suhardi at al (2002) menyatakan bahwa sedikitnya dari hutan terdapat 77 jenis bahan pangan sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis biji-bijian dan buahbuahan, 288 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempahrempah dan bumbu-bumbuan, 75 jenis minyak dan lemak, 40 jenis mahan minuman serta 1.260 jenis tanaman obat. Kembali, ini adalah bukti bahwa menjadikan hutan sebagai sumber pangan adalah yang sangat mungkin dilakukan.

WALHI
WALHI ( Wahana Lingkungan Hidup )

Mari kenalan dengan organisasi non profit terbesar di Indonesia yang fokus dan peduli dengan kelestarian hutan di Indonesia, adalah WALHI ( Wahana Lingkungan Hidup ) yang secara terus menerus menyuarakan pelestarian lingkungan hidup yang berkaitan dengan air dan pangan, hutan dan perkebunan, energi dan tambang, pesisir dan laut serta isu perkotaan.

WALHI juga mengajak kita untuk peduli dan berdonasi pada kampanye – kampanye pelestarian lingkungan hidup dan bencana yang saat ini sering terjadi.

Semoga dengan adanya organisasi seperti WALHI tercipta juga generasi lebih peduli pada alam dengan menjaga kelestarian hutan, ketahanan pangan dan mewujudkan hutan sebagai sumber pangan.

Tulisan ini diikutsertakan pada Forest Cuisine Blog Competition bersama WALHI dan Blogger Perempuan

27 thoughts on “Singkong, Antara Pangan dari Hutan dan Sebongkah Kenangan

  1. Jadi ingat tentang cerita si anak singkong, mbak.
    Kalau aku suka singkong dikukus trs ditaburi kelapa parut dan gula. Endeus
    Sukses terus ya, mbak. Yupz, jadilah tinggi seperti singkong yang akarnya tetap ke bumi.

  2. Peuyeum bisa diolah rupa² juga. Kusukaaa…Hebat Bapak teh Yasinta, berfilosofi melalui singkong dan ternyata malah lebih sehat.

    1. Iyaa bunda, Bapakku gitu. Filosofis banget orangnya ga pernah nyeramahin langsung, pasti lewat something yang bisa lebih diterima halus tapi dalem

  3. Toss duyu ah. Aku juga anak singkong ini. Dan sekarang lagi rindu berat ama combro. Cerita teh Shinta bikin pagi ini terasa melow. Gak ada hujan yang selamanya turun. love this quote.
    Sukses untuk semuanya ya teh.

    1. Sukses juga untukmu mbaaak. Aku juga rindu berat sama singkong, alhasil tadi pesen ke warung aja singkongnya biar bisa olah sendiri sambil ajak anak-anak masak

  4. Aku bacanya sambil ikut larut dalam kenangan masa kecil nih mba Sinta… Dulu ibuku juga sering kasih kami singkong goreng buat temenin kami di sore hari. Kadang juga dibuatin kolak manis atau dibuat berdopo. Yang terakhir ini makanan semacam dadar gulung yg dalemnya gula merah campur kelapa parut. Enak banget sampe sekarang juga masih sering beli ini kalo ke warung.
    Eniwe, aku belom pernah nyoba goreng peuyeum ni. Kapan-kapan dicoba deh. Thks for reminding me the past ya mba…

    1. Aku belum pernah coba yang dadar gulung, ngebayanginnya aja kok enaak ya. Berasa diingetin juga kalau kolak singkong tak kalah enak, thank you juga mbak Bety, menghidupkan memori lama cukup dengan makanan dan hati langsung penuh syukur atas segala perjalanan ya

    1. ahh iyaaaa, kelewat tuh kolak singkong. Tak kalah endol yaa, legit dipadu sama labu. Terima kasih mbak sudah mengingatkan, punya singkong di rumah dibikin ini enaak kayanya ya

  5. Selalu suka dengan makanan berbahan singkong. diapain aja rasanya selalu enak.
    Semoha hutan sebagai pengahasil salah satu sumber pangan ini selalu lestari ya mbak

    1. Aamiin – aamiin, mengingat banyak banget ya sumber hutan yang harus dilestarikan dan banyak banget manfaatnya untuk kita semua

  6. Ah, rasanya maknyes banget kalau ingat masa kecil dan segala pernik-perniknya. Aku pun dulu dibesarkan dengan hiruk-pikuk dapur yang tidak jauh berbeda dengan Mbak Shinta. Dengan singkong, pisang, ubi yang dipanen dari belakang rumah. Jadi kangen rumah 🙁

    1. Peluuukan kitaaa. Dulu pas zaman mengalami rasanya pait banget bagiku mbak, tapi sekarang jadi kenangan manis dan banyak pelajaran dipetik ya

  7. Tetiba aku merasa terbang kembali ke masa kecil waktu ibuku mengelola usaha keripik singkong balado, sanjay orang sumatera sebutnya. Bahkan ibuku orang pertama dikampung kami yang menghidupkan industri rumah tangga berbasis singkong, merangkul ibu2 rumah tangga lainnya. Dengan usaha itu aku dan 7 orang sodaraku bisa lanjut sekolah.

    1. huwaaa mbaaak, hebat sekali ibunda. Sosok pekerja keras ya, alhamdulilah dari singkong bisa mengantarkan anak-anak sekolah. Aku kalau dapat oleh-oleh singkong balado gitu dari sumatera seneng banget susah nemu di Bandung mah soalnya

  8. yap bener mba, adanya WALHI tuh membantu banget ya supaya hutan tetap memberikan dampak baik dalam segi pangan dan menjaga ekosistem alam. keren bangeet, aku penggemar berat singkong, diapain juga mauk. jadi pengen hehe.

    1. Tos dulu dong kita anak singkong hehe, semoga kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan hutan semakin besar ya mengingat banyak banget sumber pangan dari hutan dan manfaat lainnya

    2. Makanan favorit saya dan alm Bapak singkong nih… mau direbus atau digoreng, pasangannya kopi hitam. Sambil ngobrol ngalor ngidul dan becanda sama Bapak. Alm Mama juga dulu bikin comro buat nambahin keuangan keluarga. Aaah, beneran singkong mah nggak sekedar makanan favorit karena rasa, tapi karena ada banyak cerita di setiap kesempatan menikmatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *