Bumi Papua, Suatu Hari Kita akan Bersua

ekonusa papua

“ Tanah Papua, tanah yang kaya
Surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
Adalah harta harapan “

Penggalan lagu yang dinyanyikan Edo Kondologit mengalun menyesap ke dalam kalbu, betapa saya memuja sekali keindahan alam Papua, Papua yang kaya. Saya beruntung beberapa kali diceritakan langsung tentang Papua oleh orang yang tinggal di sana, sepasang klien foto prewedding dari Papua Barat, Manokwari. Mereka bercerita tentang banyak hal di Papua, seru dan menarik sekali, “ Mbak harus kesana suatu hari, nanti saya temani “ katanya, saya tersenyum seraya mengamini. Bumi Papua, suatu hari kita akan bersua.

Wisata Hijau di Papua Barat

hutan papua
Hutan Papua ( Sumber : Detik Travel )

Mari melipir dulu dari pesona Raja Ampat yang sudah mendunia, faktanya Papua memiliki sejuta pesona lain, kekayaan hutannya tak bisa dipungkiri adalah rumah bagi setidaknya 20.000 spesies tanaman, 602 jenis burung, 125 mamalia dan 223 reptil. Dikatakan, hutan Papua adalah hutan dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, lebih dari itu hutan ini adalah sumber mata pencaharian bagi banyak masyarakat setempat.

Berkurangnya lahan hutan di Kalimantan dan Sumatera, menjadikan hutan Papua satu-satunya harapan kita bagi hutan Indonesia yang utuh. Pedih rasanya jika melihat berita tentang kebakaran atau pembabatan lahan hutan, bagaimana pun alam sudah sangat baik menyediakan segala yang dibutuhkan bagi manusia untuk bertahan hidup, serupa penggalan lagu Koes Plus : ” Kayu dan jala cukup menghidupimu “.

Ahh sebenarnya apa sih yang kita cari, pada akhirnya toh kita menyadari bahwa saat pohon terakhir telah mati, sungai terakhir telah teracuni, ikan terakhir telah ditangkap. Saat itulah kita menyadari bahwa kita tak bisa memakan uang.

Ngomong-ngomong, Papua ini menjadi salah satu bucket list saya. Ketertarikan saya pada budaya dan alam sepertinya mengalahkan wisata instagramable, kalau kalian pernah melihat jurnal saya, dengan jelas saya menuliskan ingin ke Thailand guna melihat pawai budaya juga keinginan saya ke Dieng untuk menyaksikan Dieng Culture Festival, maka Papua ada di atas semuanya. Keindahan alam yang saya puja, alam yang mempesona, juga budaya kental yang saya kagumi, saya bisa menemukannya di sana, perpaduan ekowisata yang sempurna.

ekonusa papua
Sumber : econusa.id

Mendorong Papua menjadi ekowisata akan memberikan banyak manfaat, selain mendatangkan banyak pengunjung yang ingin tau lebih banyak tentang Papua. Ini juga akan mendorong pelestarian alam di tanah Papua. Setidaknya ada 3 tempat yang ingin saya datangi suatu hari nanti, saat bisa ke Papua.

Pegunungan Wandiwoy

Wisata-Manokwari-8-Pariwisata-Papua
Pegunungan Wandiwoy ( Sumber : Pariwisata Papua )

Akan menjadi hal yang sangat menyenangkan membayangkan saya berada di sini, Pegunungan Wandiwoy ini merupakan cagar alam yang menawarkan bentang alam indah memukau. Di sini saya akan bisa melihat ragam spesies burung, flora dan fauna. Kabar gembiranya, di sini ada rumah – rumah tradisional Suku Arfak yang hidup di pedalaman Manokwari.

Oh Tuhan, membayangkannya saja saya sudah merasa bahagia.

Gunung Botak

Wisata Gunung Botak (Foto: Elton Richard)
Wisata Gunung Botak (Foto: Elton Richard)

Menikmati panorama pantai dengan pasir adalah suatu hal, menikmati panorama pantai dan perbukitan eksotis adalah hal lainnya. Saya mendengar bahwa Gunung Botak ini bukanlah gunung yang gundul, dikatakan Botak karena pohon – pohon besar tidak tumbuh di sini. Meski begitu, kita tetap bisa menemukan rerumputan yang menyempurnakan Gunung Botak sebagai tempat yang wajib dikunjungi. “ Gunung ini aneh dan unik. Hal terbaiknya adalah semua masih alami, belum tersentuh perubahan dari manusia “ menurut seorang pengemudi yang bekerja di wilayah Papua Barat yang saya kutip dari okezone.com.

Perjalanan menuju Gunung Botak yang katanya memakan waktu sekitar 7-8 jam dari Manokwari jadi alasan lainnya saya ingin ke sini. Bukan tanpa alasan, perjalanannya akan melewati perkampungan penduduk lokal dan pemandangan alam indah. Pernah mendengar sebuah quote berbunyi : ” Difficult roads often lead to beautiful destinations?”, perjalanan menuju Gunung Botak adalah satu diantaranya yang mampu mewakilinya.

Pantai Bakaro

pantai-bakaro-4
Sumber : Indonesiakaya.com

Tak lengkap bukan jika ke Papua lalu tak mengunjungi pantainya, sekali lagi saya ingin pengalaman yang tak biasa. Saya ingin ke pantai Bakaro, letaknya di pesisir utara Manokwari. Bukan tanpa alasan saya menempatkannya jadi 1 pantai yang harus saya kunjungi, saya ingin menyaksikan kebiasaan nelayan sekitar pantai yang memiliki tradisi unik berupa pemanggilan ikan menggunakan pluit yang terbuat dari kulit kerang. Seketika saya merasa ada di Bikini Botton nih bersama Spongebob dan Patrick dan berseru : ” Puja kerang ajaib “, hihi.

Serius, hal ini pasti akan jadi cerita yang seru untuk saya ceritakan kembali pada siapapun yang saya temui dan kala berbincang tentang pengalaman traveling, atau ketika bercerita tentang Papua. Akan jadi hal yang menyenangkan untuk diceritakan pada anak-anak, tak peduli berapa usia mereka nanti. Menyaksikan ikan akan datang dengan sendirinya, akan jadi pengalaman tersendiri tentunya. Karakter pantai Bakaro yang berbatu memungkinkan saya mendekati tengah pantai saat air laut surut, di sana saya akan bisa mengintip dasar pantai yang jernih, ikan – ikan berkumpul. Ahh bahagia sekali, ” Bumi Papua tunggu saya “.

Dulu saya membayangkan bahwa berkunjung ke Papua artinya saya akan kepanasan. Actually, hal tersebut tergantung saya sedang berada di mana. Membaca mengenai Lembah Baliem di pegunungan Jayawijaya sudah membuat saya merasa sejuk, bayangkan saja wisata alam ini berada di ketinggilan 1600 mdpl dan dikelilingi pegunungan, sudah pasti sejuk bukan.

lembah baliem
Festival Lembah Baliem ( Kompas Travel : Barry Kusuma )

Akan menyenangkan jika bisa ke sini, ke Lembah Baliem. Di sini adalah tempat tinggal beberapa suku asli Papua/ orang Papua asli ( Suku Yali, Suku Lani, Suku Hubula ). Akan sempurna jika berkunjung di bulan Agustus, karena ada Festival Budaya Lembah Baliem yang diadakan guna memperkenalkan wisata Jayawijata sekaligus atraksi kolosal perang antasuku, di sana kita bisa menonton pertunjukan alat musik tradisional, atraksi memasak, permainan anak dan atraksi lainnya. Membayangkannya saja saya sudah bersemangat rasanya.

Papeda, Kuah Kuning, Ikan Tude Bakar
Papeda ( sumber : Wikipedia )

Soal kuliner, tentu saya ingin mencicipi Papeda. Saat ini memang kita bisa menjumpai Papeda ada di kedai atau resto, tapi menikmatinya di tempat asalnya akan jadi pengalaman yang tak terlupakan. Lalu menikmati es buah Matoa akan menyempurnakan pengalaman kuliner di Papua. Matoa ini adalah buah yang mirip dengan kelengkeng, rasanya manis seperti rambutan. Saya tak bisa lupa rasanya yang manis legit, pernah saya cicipi dari seorang teman yang membawa oleh-oleh dari tanah Papua.

Kopi-Arabika-Wamena-2-625x307
Kopi Wamena ( sumber : LintasKopi )

Dan kopi Papua, adalah satu yang tak boleh saya lewatkan untuk dibawa pulang. Kopi Wamena akan jadi pilihan yang tepat, dari sebuah artikel di kumparan.com yang saya baca, Kopi Wamena ini memiliki rasa balance and smooth, aroma bernuansa coklat dan floral yang cukup harum, keasaman rendah, body yang medium hingga rasa sweetness yang sedang. Dari sini saya tahu, Kopi Wamena akan cocok bagi saya. Sedangkan untuk Papi, suamiku tercinta sepertinya Kopi Tiom akan jadi pilihan tepat untuknya.

papua
sumber : Twitter : @econusa_id

Bicara tentang Papua, mari berkenalan juga dengan Econusa, sebuah organisasi nonprofit yang yang berfokus pada program dan kegiatan memajukan kearifan lokal Tanah Papua, demi terjaganya hutan Indonesia, laut Indonesia. Demi terciptanya Papua sebagai destinasi wisata hijau, demi terciptanya Papua yang berdaya karena Papua itu Indonesia.

Jika suatu hari kamu ke Papua, kamu akan ke mana ? Kasih tau juga ya, agar kita bisa saling mengamini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Wonderful Papua Blog Competition bersama Blogger Perempuan 

 

 

25 thoughts on “Bumi Papua, Suatu Hari Kita akan Bersua

  1. Berhubung aku ga suka panas, sepertinya lembah Baliem juga jd favoritku :D. Nyeseeel kenapa ga dr dulu ke papua, pas papa msh kerja di salah satu perusahaan minyak di sana. Tp wkt itu aku dan mama EMG emoh banget tiap diajak ke sana, karena kita parno duluan pas tau ke tempat papa aja butuh naik pesawat, trus lanjut jalan darat, trakhir naik kapal kecil saking terpenciiiilnya tuh tempat , kan sereeem yaaak :p.

    Sekarang aja setelah papa pensiun malah nyesel ga prnh k Papua :). Suatu saat deh, hrs banget mampir ksana. Tp sekalian aku mau mampir ke Papua Nugini nya jg mba, mumpung deketan :D.

    1. Wah Papa nya hebat ya mbak kerjanya di Papua. Pengalaman travelingnya pasti seru kaya mba Fanny juga. Jangan nyesel belum ke Papua mbak, berarti harus jadi daftar tempat yang dikunjungi selanjutnya ya kan. Papua Nugini, ahh iyaa harus didatangi juga itu

  2. Ahhh papua,seperti nggak habis untuk dibicarakan. Tapi saya sendiri sedikit menyimpan kekhawatiran ketika pariwisata dibuka luas. Memang mendatangkan banyak manfaat,dunia jadi lebih banyak melihat indonesia. Tapi dari sisi ekologis, bisa dibilang papua adalah satu-satunya kekayaan ekologis yang masih alami yg dimiliki indonesia. Semoga segala upaya untuk memajukan papua tidak lepas dari fungsi ekologi yang harus dijaga

    1. Aamiin mbak, mungkin tujuan dijadikan ekowisata adalah sehingga semua lapisan terdorong untuk menjaganya. Semoga ya mbak

  3. Jadi penasaran juga sama Gunung Botak, Teh Yas. Kelihatannya indaah, sejuk dan masih alami banget ya. Semoga suatu hari nanti bucked list ke papua bisa terwujud ya Teh.

  4. Tahu nggak, Mbak Yas? Bapak Yuni tu kerjanya di Papua. Nabire tepatnya. Jadi tukang ojek di sana. Penghasilannya memang lebih besar ketimbang tukang ojek konvensional di tanah Jawa.

    Dan menurut Bapak, papua memang banyak tempat menarik, meski bapak saja nggak pernah mengunjunginya secara langsung. Paling cuma lewat doang.

    La gimana, waktu beliau sudah habis untuk mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Meski sekarang Yuni bisa mencari duit sendiri sih. HEhehe

    1. Wah sampe sekarang masih di sana mbak ? luar biasa ya Bapak. Semoga Bapak sehat terus ya di Papua. aamiin
      Bibita aja mbak kasih tau tempat buat nongkrong ngopi gitu hihi

  5. Ahhhh papua, memang terkenal dengan keasrian tempatnya ya Teh, seger, alami dan nggak berisik. Apalagi tempat wisatanya bagus-bagus. Semoga Papua baik-baik saja ya Teh, cuma itu doaku teh

  6. Luar biasa indahnya tanah Papua. Semoga Papua terus menjadi selayaknya surga bagi penduduk bumi, terutama warga asli di sana.

  7. Aamiin…
    Aku pengin ke Papua sejak suami pernah tugas di sana 3 bulan lamanya. Dia pamer dah kemana aja, meski ga banyak tempat karena paling bisanya hanya saat weekend saja. Tapi dengar cerita saja, aku mupeng dong..kwkw
    Maka wishlist ku, bisa sekeluarga ke Papua.
    Semoga!!

    1. Sekeluarga ke Papua pasti bakal seru banget sih mbak, aku baru kemarin coba kopi Papua aja udah excited apalagi bisa ke sana.
      mari saling mengamini yaa kita

  8. Pesona bumi Papua memang keren ya. Masih alami ya teh. Suatu saat pengen ngebolang kesana. Moga2 bisa. Eh baru tahu ada nama gunung Botak di Papua…hehe

  9. MashaAllah ternyata ada surga tersembunyi di bumi papua. Pantai Bakaronya bikin ingin segera menjejak di Manokwari mbak. Semoga bumi Papua tetap bersih dan sehat, alamnya tetap subur, dan hutan Papua selalu terjaga :))

  10. Gak kebayang deh kalau bisa berkunjung ke Papua. Pasti seru sekali karena bisa melihat langsung keindahan alam yang jarang di temui di bagian manapun di Indonesia. Terlebih di Raja Ampatnya dengan surga bawah lautnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *