Giliran Wanita

giliran wanita

Sampai saat ini, ketika hal baru yang tidak biasa muncul sebagian besar orang seringkali meragukan bahkan tidak jarang nyinyir, tapi tunggu sampai hal baru ini naik ke permukaan dan ternyata memiliki reputasi yang baik, orang mulai sibuk memuji atau mungkin sibuk mengikuti.

Saya bicara tentang wanita. Perkembangannya pesat sekali ya? Mungkin pernah mendengar dulu ada masa dimana wanita bekerja itu dianggap hal yang tidak lumrah, saat pengasuhan anak dialihkan kepada orang kepercayaan dipandang sebelah mata. Begitu pula keterbatasan profesi wanita dalam berkarya, yang paling hits sih sebatas menjahit dan hal – hal seputaran itu.

Saya tau karena saya disana, saat masih duduk di bangku SD dan mendengar percakapan ibu saya yang menyerah bekerja karena tak tahan omongan orang lain, lalu kemudian menjadi penjahit.

Ada baiknya memang, ibu saya dirumah menjadi ibu, istri yang kemudian menjadi penjahit kenamaan di kampung. Saya pun menikmati hal ini sebagai bentuk setuju. Tapi sekarang, pikiran saya mulai mengembara ke masa lalu, dimana saat ibu saya dan teman-teman saya yang ibunya keluar kerja juga karena satu dan banyak hal yang berimbas pada ekonomi keluarga yang buruk, saya lupa bercerita tentang sulitnya laki-laki mendapat pekerjaan saat itu ( di daerah saya ). Beruntung bapak saya masih bisa menjadi buruh pabrik tekstil.

Oh, saya mengerti sekarang, mungkin inilah penyebab Dewi, tika, Nur dan Anis dan teman SD saya tidak dapat melanjutkan sekolahnya.

Entahlah, saya tidak tau apakah hal ini hanya terjadi dikampung saya ? Atau memang pernah terjadi pula didaerah lain, saat wanita dianggap kurang baik jika tidak melakukan hal-hal yang seharusnya ia lakukan. Saat wanita dibatasi dalam hal melakukan sesuatu berkaitan dengan pekerjaan atau mungkin passionnya, saat orang mulai mengkotak-kotakan wanita dan pria dalam hal berkarya.

Jadi fotografer wanita.
Ternyata saya yang belasan tahun lalu jadi tukang nguping curhatan ibu saya kepada bapak dan teteh merasakan hal yang sama —- diragukan saat berkarya. Betapa sedih, beberapa tahun lalu tepatnya 2011, fotografer wanita dianggap kurang profesional.

female photographer
Saat awal – awal menjadi fotografer
female photographer
Mencoba jadi videografer

Entah mengapa bisa dikatakan demikian, bahkan melihat hasil kerja saya dan cara kerja saya dilapangan pun belum, serta merta saja beberapa orang berkata demikian, saya tidak mengerti apa acuannya berkata begitu.

Sedikit cerita saat teknikal meeting untuk pernikahan saat itu. ” Tapi yang motret bukan mba kan ?” kalimat tersebut pernah beberapa kali mendarat ditelinga saya dan rasanya sulit membuatnya sekadar angin lalu, apa karena dulu saya terlalu unyu dan kurus untuk pegang kamera ya ? *liat foto 2011

Beberapa orang memang masih menilai sesuatu dari apa yang mereka lihat. Meskipun sudah banyak bukti penampilan bisa saja menipu

Wanita Masa Kini.

Lebih bahagia, lebih bebas dalam berkarya dan berekspresi.
Meski paradigma orang-orang tentu saja ada juga yang tidak setuju dan membatasi wanita dalam hal melakukan sesuatu.

Tapi mayoritas, wanita dan pria saat ini dianggap sejajar. Penilaian wanita dan pria saat berkarya tidak lagi jomplang.

Dan masyarakat kini lebih longgar dalam melihat beberapa hal terkait keluarga, peran suami dan istri dalam keluarga. Wanita tetap harus berkembang meskipun sudah memiliki keluarga karena jika wawasannya luas maka banyak yang akan ia bagi kepada anaknya kemudian bukan. Selain itu biasanya bisa lebih happy dan ceria.

Dan tahun 2015 kemarin.

“Tapi mbak yang motret kan?, tapi mba ikut kan?, boleh ga aku minta fotografernya cewe?”

Ini pencapaian saya, tak mungkin saya lupakan juga pertanyaan seperti ini seperti melupakan hujan malam tadi. Ini pun tidak datang tiba-tiba, tidak serta merta berubah begitu saja. Segala sesuatu memang perlu proses bukan and people changes right ?

( Baca juga tentang cerita menjadi fotografer prewedding )

Yes ini saya percaya banget.

Saya senang, kini saya juga wanita yang lain bisa berkarya lebih bebas. *mungkin dulu sebaiknya ibu saya tak mendengarkan ocehan orang-orang — tapi memang beda cerita jika hidup di kampung.

Sekali lagi saya beruntung.

Kini tidak ada pengkotak-kotakan lagi. Ketika karyamu bagus kamu akan dapat pengakuan secara total tanpa peduli gender mu apa. Ini memang sudah seharusnya seperti ini, karena berkarya pasti ditujukan untuk sesuatu yang baik bahkan lebih baik entah itu untuk diri sendiri maupun sekitar.

Perbedaan cara berkarya tak usah menjadi bahan cela, setiap orang pasti memiliki cara tersendiri dalam mengembangkan dirinya. Saya sudah membuktikannya, perlu waktu lama hingga akhirnya saya mampu mengenali akan jadi seperti apa diri saya nanti, ingin seperti apa saya dikenal dan memberi manfaat, apa yang akan saya bagi dan turunkan kepada buah hati.

Giliran wanita sudah tiba.
Giliran wanita menjadi bagian jadi orang yang dipercaya sudah bergulir.
Giliran wanita sekarang percaya, bahwa berkarya tidak selalu harus sama. Ada ribuan cara dan kita tinggal ambil bagian didalamnya.

Senang rasanya bisa menjadi fotografer wanita, profesi yang dulunya didominasi pria.
Memang kini giliran wanita.

Salam,

Yasinta Astuti

20 thoughts on “Giliran Wanita

  1. Lho? Bukannya fotografer wanita tahun 2011 itu udah banyak ya? Aku tahunya sih fotografer jurnalis macamnya Lasti Kurnia, di travel ada Raiyani Muharramah, klo di model ada Nicoline Patricia.

    Ehm, mungkin pas jaman segitu “penampilanmu” kurang meyakinkan klien mbak. Jadinya mereka ragu. Klien awam kan menilai fotografer pertama kali dari peralatannya. :p

    1. Ahahhaa masih muda mah kaya emeng ya unyu-unyu sekarang mah kinyis-kinyis :p
      Amin teh semoga kita selalu bisa jadi orang tua yang baik ya buat anak.. Amiiin

  2. Wuihhh mama ioo kece banget dengan peralatan fotografinya ๐Ÿ™‚ Mau dongss kapan-kapan fotoin kita di Bandung. *ihik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *